Sabtu, 17 November 2007

Jangan Ambil Angklung Kami, Pakcik...


Petinggi Negeri Pliis Selamatkan Kekayaan Bangsa

Belakangan ini--baik yang tercermin lewat media internet, cetak maupun elektronik--terasa sebuah kegalauan, keresahan dan keprihatinan yang mendalam dari kita semua sebagai bagian dari bangsa. Ini berkaitan dengan klaim Malaysia terhadap angklung yang diakui sebagai local instrument mereka. Duh, apa saja sih kerja para petinggi negeri sehingga kita kecolongan lagi kecolongan lagi yah...?

Kecemasan beberapa kalangan akan serangan neo-kolonialisme ala Malaysia kembali mengemuka, begitu bunyi headline media massa. Rupanya ini berkaitan dengan klaim Negeri Jiran yang secara implisit mengakui angklung sebagai budaya mereka. Seperti diketahui Malaysia menampilkan permainan angklung dalam salah satu segmen iklan pariwisata mereka. Padahal, secara historis dan budaya angklung merupakan produk asli (national heritage) Indonesia, yang berasal dari Bumi Parahyangan, Jawa Barat.

Blogger, tentu saja hal ini membuat kita terperangah, kok bisa yah? Indonesia yang katanya sebuah negara besar dengan kekayaan seni dan budayanya, dilecehkan identitasnya begitu saja oleh sebuah negara kecil? Padahal kita memiliki beberapa departemen yang secara khusus mengurusi masalah seni, budaya, pariwisata, kekayaan intelektual, serta politik luar negeri. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Kenyataannya, di saat negara lain sibuk mempromosikan pariwisatanya, kita malah sibuk sendiri--seperti anak autis itu loh--misalnya dengan polemik pengaturan kekuasaan, menentukan harga minyak goreng, nasib TKI kita, kasus BLBI yang tidak jelas juntrungannya, mencari seribu alasan berkelit dari cap sebagai salah satu negara terkorup di dunia, atau soal nasib PSSI yang--katanya--carut-marut itu loh blablabla....

Kembali soal klaim Malaysia atas alat musik angklung, beragam reaksi masyarakat tidak bisa diabaikan begitu saja oleh pemerintah. Masalah tentu akan semakin rumit dan kompleks manakala misalnya, ketika angklung dan batik dipatenkan oleh Malaysia, atau tempe dan tahu oleh Jepang. “Jangan-jangan kita yang nanti malah dituding meniru desain angklung atau batik, serta dianggap melanggar oleh pemegang hak paten,” kata Tatty Aryani, dosen Fakultas Hukum Universitas Bandung (Unisba).

Jadi, sangat masuk akal apa yang dikatakan para pelaku dan pengamat budaya kita, bahwa sebelum semuanya terlambat, pemerintah harus segera melakukan upaya legal formal atas aset kekayaan nasional. Salah satunya dengan melakukan registrasi ke World Trade Organization (WTO) atas--jika perlu--semua kekayaan budaya kita.

Blogger, atas semua kelukaan yang telah ditorehkan oleh Malaysia, yang katanya masih serumpun dengan kita itu, tentunya kita sepakat bahwa kita harus punya sikap yang tegas, jika perlu dengan melakukan perlawanan. Namun, tentu tidak dengan cara kekerasan seperti politik “Ganyang Malaysia” tahun 1963 yang bisa berdampak tidak baik bagi kedua negara dan juga bagi perdamaian dunia. Zaman dulu dengan zaman sekarang kondisinya sudah berbeda, bung.

Sepakat dengan statement orang-orang bijak, bahwa kita harus belajar dari sejarah. Cukup kita kehilangan pulau, jangan sampai kita kehilangan identitas sebagai bangsa. Setuju?

Selasa, 13 November 2007

Konstruksi Tahan Gempa


Yang Bingung dan Yang Diabaikan

Masih ingat beberapa kejadian gempa bumi di beberapa daerah seperti di Bengkulu, Padang, Nias, Yogya yang meluluhlantakkan banyak fasilitas umum dan rumah-rumah penduduk? Selain pasrah, kenyataannya, hingga kini pemerintah belum menemukan cara yang jitu untuk mengantisipasi dampak kekuatan gempa.

Padahal, saat ini telah ditemukan teknologi mutakhir yang bisa mengantisipasi hal ini. Temuan ini diberi nama Teknologi Delta Qualstone S.K.125 karya putra terbaik bangsa yang telah diuji di Balai Besar Pengujian Barang dan Bahan Teknik (B4T) Bandung, terdaftar di Business Technology Center - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BTC-BPPT), serta telah memiliki sertifikat Hak Paten.

Namun sayang, aset yang sangat berharga ini belum dilirik secara serius oleh pemerintah sehingga sampai saat ini untuk mewujudkan bangunan rumah contoh masih terkendala persoalan dana. Padahal untuk mewujudkan hal itu, tidak terlalu menguras dana yang besar. Bandingkan dana rehabilitasi yang harus dikeluarkan pemerintah di daerah-daerah yang terkena musibah gempa semisal di Bengkulu yang pada tanggal 12 September 2007 lalu diguncang gempa 7,9 skala richter. Dana rehabilitasi yang harus dikucurkan pemerintah mencapai Rp 2 triliun!

Toleransi gempa hingga 9 skala richter

Mengapa Teknologi Delta qualstone S.K.125 disebut-sebut sebagai teknologi yang bisa beradaptasi pada getaran gempa hingga 9 skala richter? Menurut penemunya, beton cetak produk teknologi ini per piece-nya memiliki berat ± 3,85 kg dan kuat tekan 125 kg/cm³.

Jadi bila dibandingkan dengan produk bahan bangunan sejenis semisal batubata merah dan batako, bahan bangunan ini memiliki kekuatan tekan yang sangat tinggi. Keunggulan teknis lainnya, produk teknologi ini apabila telah tersusun akan menciptakan beban nol atau seimbang menjadi merata.

Dari hasil riset sementara ini, bangunan dari bahan beton ini juga memiliki kemampuan untuk bertahan dari guncangan gempa karena di antara ikatan (pertemuan batu) satu sama lain memiliki toleransi ± 2 mm yang memang disiapkan sebagai antisipasi terhadap getaran.

Bagi daerah-daerah yang jauh dari pusat (episentrum) gempa, dapat menggunakan beton standar K.125. Namun untuk daerah-daerah yang rawan gempa, pemilik lisensi menganjurkan menggunakan K.225 ke atas.

Jumat, 09 November 2007

Kabupaten Empat Lawang


Jalankan Amanah Pliiss Jangan Korupsi!

Selama dalam masa transisi (kurang lebih 2 tahun) pemda mendapat bantuan dari provinsi sebesar Rp 10 miliar dan dari kabupaten induk sebesar Rp 5 miliar per tahun. Lepas dari itu pejabat bupati sudah semestinya memanfaatkan peluang dan potensi yang dimiliki demi kesejahteraan rakyat.

Kabupaten Empat Lawang adalah kabupaten baru di provinsi Sumatera Selatan hasil pemekaran dari Kabupaten Lahat. Kabupaten ini diresmikan pada tanggal 20 April 2007, setelah disetujui oleh pemerintah dan DPR. Jauh sebelumnya, Rancangan Undang-Undang tentang pembentukan Kabupaten Empat Lawang telah disetujui pada tanggal 8 Desember 2006 bersama 15 kabupaten/kota baru lainnya.

Di masa-masa transisi atau sebelum adanya bupati defenitif, kabupaten dengan luas 225.644 km² dan penduduk 229.552 jiwa ini, dipimpin seorang bupati caretaker Drs. H. Abdul Shobur. Namun dalam perjalanannya Abdul Subur sudah terlalu jauh merambah wilayah politis sehingga yang bersangkutan didesak mundur. Pengganti Abdul Shobur saat ini adalah Drs. H. Indra Rusdi. Sebelumnya Indra Rusdi menduduki posisi Asisten I Pemrop Sumsel.

Tugas pejabat bupati tidaklah ringan. Selain melakukan pembenahan terhadap infrastruktur pemerintahan, menyusun struktur pemerintahan, melakukan pelayanan terhadap masyarakat, bersama DPRD bupati juga mempunyai PR untuk memfasilitasi pemilihan bupati defenitif yang waktunya semakin dekat.

Guna melaksanakan semuanya itu penjabat bupati diberi batas waktu paling lama 1 tahun, dengan dukungan dana dari kabupaten induk sebesar Rp 5 miliar dan pemerintah provinsi sebesar Rp 10 miliar setahun selama 2 tahun. Tak hanya itu, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pejabat bupati juga harus memanfaatkan dan menggali peluang serta potensi SDA yang ada.

Letak Geografis
Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas
Sebelah Selatan
berbatasan dengan Kabupaten Lahat dan Kabupaten Bengkulu Selatan
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lahat
Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang

Terdiri dari 7 Kecamatan
(1) Lintang Kanan, (2) Muara Pinang, (3) Pasemah Air Keruh, (4) Pendopo, (5) Talang Padang, (6) Tebing Tinggi, (7) Ulu Musi

Sejarah Singkat
Pada masa penjajahan Hindia Belanda (sekitar 1870-1900), Tebing Tinggi memegang peran penting sebagai wilayah administratif (onderafdeeling) dan lalu lintas ekonomi karena letaknya yang strategis.

Tebing Tinggi pernah diusulkan menjadi ibukota keresidenan saat Belanda berencana membentuk Keresidenan Sumatera Selatan (Zuid Sumatera) tahun 1870-an yang meliputi Lampung, Jambi, dan Palembang. Tebing Tinggi dinilai strategis untuk menghalau ancaman pemberontakan daerah sekitarnya, seperti Pagar Alam, Pasemah, dan pinggiran Bengkulu. Rencana itu batal karena Belanda hanya membentuk satu keresidenan, yaitu Sumatera.

Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), onderafdeeling Tebing Tinggi berganti nama menjadi wilayah kewedanan dan akhirnya pada masa kemerdekaan menjadi bagian dari wilayah kabupaten.

Rumah Kita adalah Keluarga


Ruang Indah itu Bernama Keluarga

Rumah kita yang sesungguhnya adalah keluarga (dalam konteks duniawi). Rasanya tak ada yang tidak sepakat dengan ungkapan ini. Hayo siapa yang tidak sepakat? Tanpa keluarga kita seperti manusia yang tanpa identitas (bahasa kerennya luntak-lantung) dan kering kayak kerupuk...

Keluarga adalah segalanya. Tentu saja, karena keluargalah yang senantiasa ada di saat kita bahagia maupun di saat kita sedang berduka. Kebanggaan kita adalah kebanggan keluarga, pun dengan kesedihan dan kemeranaan kita. Yang pertama sekali, keluargalah yang akan turut merasakan. Setelah itu baru--kalau ada: teman sejati, pacar sejati, tetangga idola dan orang-orang baik hati lainnya yang keberadaannya dewasa ini sudah sangat langka!

Blogger, ketergantungan terhadap keluarga akan sangat terasa di kala kita jauh. Kalau masih sangsi, coba deh jauh-jauh dari keluarga. Dalam kesendirian, acap kita membayangkan kebersamaan yang terekam bersama keluarga tercinta. Dan ibarat figura, rumahlah yang senantiasa membingkai setiap kenangan itu. Coba putar kembali memori kita. Sungguh indah bukan?

Di rumah kita mendapatkan segalanya. Perhatian, kasih sayang, masakan favorit bikinan ibu, sampai hal-hal terkecil seperti soal sisiran rambut kita yang terlihat kurang rapi, atau tentang seseorang yang saat ini sedang dekat dengan kita. Wuiihhh

Ayah, ibu, kakak, adik-adik, saudara, ponakan dan seterusnya merupakan pelangi yang memberi warna indah bagi kehidupan kita. Sungguh, merekalah yang pertama mengerti soal terkecil tentang kita. Yang terkecil sekalipun!

Jauh dari keluarga, kita seperti kapas yang tertiup angin guys… Lunglai tanpa akar dan pegangan. Cuma sehelai ingatan yang mendadak terhempas. Rindu yang sangat tiba-tiba membuncah. So, jangan sia-siakan keluarga kita. Meski terkadang kita jauh, tetapi--sekuat tenaga--berusahalah untuk membuat mereka bangga.

Rabu, 07 November 2007

Mukesh Ambani, Orang Terkaya di Dunia


Kekayaan mereka bisa melunasi hutang Indonesia
yang katanya sampai 7 turunan pun belum tentu bisa dilunasi bow….


Blogger, di sebuah koran nasional ditulis tentang orang terkaya baru sedunia saat ini dipegang oleh putra India bernama Mukesh Ambani.

Tertulis kekayaan Mukesh, seperti dilansir surat kabar berbahasa Inggris terbitan India The Times of India, Selasa 30 Oktober 2007 mencapai US$ 63,2 miliar (Rp 568 triliun).

Kekayaan pria kelahiran Aden, Yaman, itu melampaui Bill Gates dan taifun Meksiko Carlos Slim yang kekayaannya sekitar US$ 62,29 miliar, pakar investasi Warren Buffet dengan kekayaan US$ 56 miliar, atau saudagar baja India Laksmi Mital dengan pundi-pundi sekitar US$ 50,9 miliar.

Kekayaan Mukesh Ambani, pemilik Reliance Industries Limited (RIL), raksasa petrokimia India itu meroket sangat menakjubkan dan terjadi dalam beberapa bulan terakhir saja. Sebab, akhir Agustus 2007 lalu, dalam daftar orang terkaya di dunia versi majalah Forbes, ia masih diurutan ke-14 orang terkaya dunia, dengan kekayaan US$ 20 miliar.

Uniknya adik kandung Mukesh, Anil, yang sama-sama mewarisi bisnis peninggalan orangtua mereka, Dhirubhai Ambani, juga tercatat sebagai orang terkaya nomor enam dengan kekayaan mencapai US$ 32,4 miliar.

Jika kekayaan mereka digabung, keduanya layak dinobatkan sebagai keluarga paling kaya di seluruh dunia dengan total kekayaan melebihi US$ 100 miliar atau senilai dengan hutang negara kita.

Blogger, luar biasa sekali yah kekayaan mereka. Hanya dengan kekayaan dua orang saja bisa melunasi hutang Negara Indonesia yang katanya sampai 7 turunan pun belum tentu bisa dilunasi!

Tirta Dharma


Mereka yang Mengibarkan Panji-panji Tirta Dharma

Blogger, dari sekian banyak kebutuhan hidup manusia, yang paling tidak bisa ditunda adalah kebutuhan akan air. Air adalah sumber kehidupan di muka bumi ini. Menurut penelitian, susunan tubuh manusia sendiri mengandung air sekitar 70-80 persen dari berat tubuhnya. So, bekerja melayani masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, menurutku adalah tugas mulia seperti halnya pekerjaan seorang guru, penyapu jalan, penjaga lintasan rel kereta api atau para petani yang menghasilkan makanan yang kita makan.

Untuk persoalan air, rasanya kita patut berterima kasih pada para tukang ledeng yang bekerja mengibarkan panji-panji Tirta Dharma demi melayani masyarakat yang kekurangan akses terhadap air bersih. Seribu kata sanjungan dan terima kasih, tak salah bila kita haturkan untuk para tukang ledeng yang bekerja di PDAM-PDAM di seluruh Indonesia. Mereka adalah para pejuang di bidang perairminuman yang patut diperhatikan.

Oya, seperti juga isu-isu yang gencar disuarakan di dunia semisal pemanasan global (global warning), perubahan cuaca (climate change) dan juga penebangan liar (illegal logging), isu kelangkaan air bersih juga menjadi isu krusial. Bayangkan, menurut catatan WHO, di seluruh dunia lebih dari 1,1 miliar orang kurang memiliki akses terhadap air bersih. Sementara di Indonesia, diperkirakan lebih dari 100 juta penduduk (46 %) baik yang ada di perkotaan maupun yang ada di perdesaan masih kesulitan mengakses air bersih.

Kesempatan untuk bekerja menyuarakan panji-panji Tirta Dharma, tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Per 1 Agustus 2007, aku mulai mengenal dunia perairminuman bergabung dengan Majalah Air Minum yang diterbitkan Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi). Sebuah pengalaman yang memperkaya ruang pemahaman mengenai satu persoalan lagi.

Jumat, 02 November 2007

Teknologi Delta Qualstone


Saatnya Teknologi Kita Bicara

Pernahkah Anda bayangkan bagaimana Nabi Ibrahim AS membangun Ka’bah? Sebuah bangunan paling monumental penyedot devisa terbesar di dunia. Demikian pula bangunan Candi Sewu yang konon dibangun dalam satu malam…?

Di negara kita, mewujudkan dua “keajaiban” di atas, saat ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Saat ini telah hadir sebuah teknologi mutakhir di bidang fisik konstruksi yang mampu membangun rumah tipe 36 plus, dalam hitungan 2-4 jam. Temuan ini adalah Teknologi Delta Qualstone buah karya putra terbaik bangsa dari hasil penelitian dan riset lebih dari 20 tahun.

Teknologi ini telah didaftarkan pada Departemen Kehakiman, Ditjen HAKI dan HAM dengan nomor Paten: S00.2002.00127, Desain: A00.2002.01748, dan Merek: D00.2002.18573-18783.
Teknologi yang dikembangkan dengan sistem waralaba (franchise) ini merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya. Aset bangsa yang digali dari sumberdaya alam (SDA) yang melimpah dan tersedia di belahan dunia manapun (batu, koral, semen).

Apabila mendapat perhatian dari pemerintah temuan teknologi ini akan mampu mengangkat martabat bangsa dengan menterjemahkan arti kata Indonesia sebagai negeri “Untaian Zamrud Khatulistiwa”. Kata-kata yang sering kita dengar di penghujung kantuk kita.

Delta Qualstone, Batu Beton Cetak
Berstandar Minimal K.125
Multifungsi, Bermutu dan Ekonomis
Nomorsatu di Dunia.


Diciptakan untuk segala jenis bangunan: dinding, saluran irigasi, jalan, talud/turap (penahan tanah), kolom dan lantai jembatan, pagar, pelabuhan peti kemas bahkan landasan pesawat terbang dsb.

Dicetak dari bahan dasar batu koral, pasir dan semen dengan sistem saling mengunci (mengikat) satu sama lain sehingga pemasangannya tanpa menggunakan adugan perekat (semen).

Sebagai inovasi di bidang fisik konstruksi, Teknologi Delta Qualstone saat ini paling unggul di dunia karena sangat kuat, tahan api, pemasangan cepat, knockdown, mampu beradaptasi terhadap getaran gempa hingga 7-9 skala richter. Dengan harga yang relatif murah dan ramah lingkungan teknologi ini juga sangat cocok untuk daerah rawan gempa dan rawa-rawa.

Teknologi Delta Qualstone dirancang sebagai solusi untuk menggantikan komponen bahan bangunan lainnya seperti batu kali, batubata, batako, conblock, pavingblock, seng, genteng, asbes dll.

Atasi Krisis Bangun Industri Teknologi Delta Qualstone

Temuan Teknologi Delta Qualstone dapat menjadi solusi mengatasi krisi multi-dimensi. Menyiapkan lapangan pekerjaan bagi jutaan penganggur, mengentaskan kemiskinan, menyelamatkan lingkungan, menjamin kualitas bangunan, bahkan penjualan lisensi ke luar negeri dapat membayar hutang negara Indonesia yang mencapai lebih dari Rp. 1.000,- trilyun. Masya ampun!