Kamis, 24 Juli 2008

Bila ‘Paratidaknormal’ Ngerjain Paranormal


Ini pengalaman yang juga cukup menggelikan. Kisah yang tak seharusnya ditiru oleh mereka yang bekerja penuh dedikasi dan profesionalisme tinggi. Sebuah keusilan yang berangkat dari rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang besar.

Pengalaman ini terjadi sekitar penghujung tahun 2006 lalu. Waktu itu saya masih bekerja di dunia infotainmen sebagai reporter. Suatu hari, karena tidak tahu harus liputan kemana lagi, tiba-tiba muncul ide nyeleneh dari driver saya; wawancara dengan salah satu paranormal kondang di negeri ini! Temanya terserah, yang penting bisa ketemu dan wawancara!

Sebenarnya saya ogah. Bukan apa-apa, disamping karena tidak ada delegasi dari koordinator liputan, berurusan dengan paranormal membuat hati saya dag-dig-dug. Takut disantet dan diguna-guna coy! Mending kalo diguna-guna tambah keren, kalo diguna-guna nggak kawin-kawin? Wah bisa berabe dunk..

Singkat kata, kami mendapat konfirmasi sang paranormal bersedia diwawancara di kediamannya. Dalam perjalanan ke rumah sang paranormal ini, terus terang hati saya kebat-kebit. Saya takut si paranormal tahu kalau wawancara yang akan kami lakukan adalah wawancara main-main. Tapi syukurnya si paranormal tidak mencium gelagat kami. Hehe mungkin si paranormal udah jarang puasa Senin-Kemis jadi kesaktiannya menurun drastis kali yah:-D

Sesampainya di rumah si paranormal, kami disambut oleh dua orang penjaga berseragam kepolisian dan seorang berseragam hitam-hitam. Setelah menyebut maksud dan tujuan, kami pun diantar masuk ke dalam. Luar biasa rumah si paranormal ini. Arsitekturnya seperti istana raja-raja jaman Majapahit kali. Mungkin cukup itu kelunya. Yang jelas, kalau ditaksir dalam bentuk rupiah kediaman si paranormal ini sekitar Rp5 milyar lebih. Belum lagi dua mobil mewah yang terparkir di garasi di salah satu sudut bangunan.

Sungguh menakjubkan profesi paranormal di negeri ini yah? Pejabat eselon I, bahkan menteri mungkin jarang yang memiliki kekayaan seperti si paranormal. Kecuali, kalau si pejabat melakukan korupsi. So, ada yang berniat menjadi paranormal? Sayangnya, tidak ada akademi khusus atau perguruan tinggi keparanormalan ya?:-(

Persis di pekarangan rumah, kami bertemu dengan si paranormal yang saat itu lagi asyik bermain catur dengan temannya. Si paranormal menyambut kedatangan kami dengan senang hati. Seperti paranormal pada umumnya, ia mengenakan pakaian serba hitam. Kalau diperhatikan, mungkin lebih mirip dandanan para seniman yang lebih suka seadanya dan seenaknya.

Setelah berbasa-basi, kami lalu diajak masuk ke dalam istana sang paranormal. Ufffss, sampai di sini dulu yah. Soalnya butuh tenaga ekstra untuk melanjutkan kisah yang dramatis ini:-P

Jumat, 11 Juli 2008

Telepon Seluler


Memiliki HP, dewasa ini bukanlah hal yang luar biasa. Tukang parkir, tukang sayur, bahkan pemulung sudah ada yang memiliki HP. Saya jadi ingat waktu saya baru memiliki HP sendiri.

Pada waktu duduk di bangku SLTP kelas 3, sekitar tahun 1995, saya ingat di rumah orangtua saya baru pasang telepon rumah. Pada waktu itu, telepon rumah termasuk benda yang cukup prestisius. Bisa dibilang, hanya mereka yang berada dari kalangan menengah ke atas saja yang bisa memiliki perangkat ini (tentu saja untuk ukuran orang kampung).

Sebagai remaja yang baru tumbuh alias ABG, saya senang sekali. Dalam pergaulan dengan teman-teman sekolah, otomatis gengsi saya sedikit bertambah. Saya pun benar-benar memanfaatkan sarana milik orangtua ini untuk keperluan halo-halo dengan teman-teman. Sudah barang tentu saya gunakan juga untuk keperluan merayu cewek-cewek haha…

Seiring berjalannya waktu, memiliki telepon rumah sudah dianggap biasa. Memasuki tahun 2000 ponsel alias telepon seluler alias HP mulai menjadi barang yang “wah”! Di tahun ini, selain orang-orang berkantong tebal, tidak semua orang bisa memilikinya.

Saya hanya bisa terkagum-kagum bila melihat ada orang yang menenteng HP. Mengetahui harganya yang cukup mahal ketika itu, memegangnya pun saya tidak berani, meski hanya sekedar memegang dalam mimpi.

Tahun 2004 saya pun akhirnya merasakan memiliki HP sendiri. HP pertama yang saya miliki Nokia. Saya lupa tipenya. HP berbodi bongsor ini tentu saja saya beli dalam kondisi seken, mungkin juga sudah dalam kondisi seventeen. Soal fitur jangan ditanya, bisa telepon dan SMS saja sudah merupakan kebanggaan tersendiri yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Seperti pada telepon rumah, memiliki HP juga membuat saya senang bukan main. Meski kenyataannya masih kere, menenteng HP membuat saya serasa menjadi eksekutif muda. Lucunya, berbulan-bulan setelah itu, hampir tidak ada yang menelepon, selain sesekali saja ada yang SMS. Maklum waktu itu orang yang punya HP masih sedikit, dan perang tarif murah juga belum segencar sekarang (relasi situ aja kalee yang masih kurang banyak dan kurang berbobot!?).

Saya pun tak kehilangan akal. Untuk menambah “prestise” saya di muka orang-orang, saya menyetting HP butut saya yang masih suka nge-drop itu dengan settingan alarm yang bunyinya saya sesuaikan dengan panggilan masuk. Pas saya lagi sama teman-teman, lagi di bis kota, terminal atau lagi di pasar sekalipun (hanya di kamar mandi saja yang nggak) HP saya bunyi. Karena sudah tahu itu cuma settingan, saya pun pasang aksi seolah-olah itu telepon masuk dari seseorang. Jadilah, saya terlihat seperti orang yang penting sendiri hahaha...

Begitulah, pengalaman yang cukup malu-maluin ini. Terkadang benda bisa membuat kita mabuk kepayang juga yah… Ternyata!!??:-P

Rabu, 09 Juli 2008

Orang Pintar Belum Tentu Bijaksana


Orang pintar minum tolak angin. Begitu bunyi sebuah iklan jamu yang terkenal. Namanya juga iklan tidak ada yang tidak wajar di jingle iklan tersebut. So?

Waktu masih bekerja di kantor B (tidak usah disebut kantor apa dan di mana), saya mempunyai bos yang hampir sebagian besar karyawannya tidak menyukai sepak terjangnya. Berbagai julukan jelek disematkan kepada si bos. Bagaimana tidak, gaya kepemimpinannya arogan, emosional dan sering menganggap bawahan sebelah mata.

Bos yang satu ini sangat jeli soal melihat kesalahan bawahannya, namun sering kali menutup mata ketika ada bawahan yang berprestasi dan menguntungkan perusahaan. Dan sudah bisa ditebak tidak ada mekanisme reward dalam kepemimpinannya yang pongah kecuali: punishment, punishment and punishment! Sadis bener…?

Di kantor C saya juga menemukan bos yang wataknya tidak terlalu berbeda dengan bos di kantor B. Malah mungkin lebih parah. Bos yang satu ini sangat gemar menjatuhkan orang lain di hadapan banyak orang, namun ketika ‘kesalahan’-nya disentil sedikit saja, dia bereaksi seperti orang yang kebakaran jenggot. Bahasa kelas pinggirnya dia ini (mungkin) tipe orang yang pandai menjilat ke atas dan gemar menendang ke bawah. Hmm..cukup horor!

Dulu di kantor A saya juga punya bos yang sangat down to earth kepada bawahan. Istilah jaman sekarang bos gaul. Tapi sayang ketika sudah bersinggungan dengan fullus, dia berlaku tidak fair. Ia, dengan alasan yang dibuat-buat, mengatur pembagian “jatah” yang lebih menguntungkan pribadinya. Setelah itu, sudah bisa dipastikan semua yang pernah merasakan sepak terjangnya akhirnya mundur teratur. Ogah bekerja sama lagi dengan si bos.

Dari ketiga bos di atas, secara intelegensi, mereka ini bisa dibilang orang-orang pintar. Kalau tidak pintar mana mungkin mereka bisa menduduki posisi yang strategis di tempatnya masing-masing. Pengalaman ini membuat mata saya terbuka: Orang pintar belum tentu bijaksana. Itu saja pesannya. Salam hangat!

Jumat, 04 Juli 2008

Ayo 'Nge-Blog'!!!


Jangan Takut Dibilang Narsis

Kandidat Presiden Amerika Barack Obama bukanlah seorang narsisme. Seperti saya, ia orang yang pintar dan kreatif:-( Ia sadar betul memanfaatkan kekuatan situs atau blog pribadi untuk meraih simpati calon pemilih. Jadi, jangan sungkan memanfatkan blog seperti sohib saya si Barack itu:-D

Secara terminologi, narsis atau narsisme adalah sebutan untuk orang yang senang membangga-banggakan diri, orang yang senang memuji-muji kehebatannya sendiri, blablabla.. Sialnya, para blogger sering dikait-kaitkan dengan predikat ini. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang narsis. Ringkasnya, blog sering dikonotasikan sebagai media orang-orang narsis. Sadis yah!?

Padahal Barack Obama, di luar kemampuannya memikat calon pemilih yang amat rasional di dunia nyata, telah membuktikan sendiri kehebatan menjadi seorang blogger. Melalui situs pribadinya, Obama mampu mendulang simpati lebih banyak dari pesaingnya, Hillary Clinton, pada saat konvensi partai (lihat situs www.barackobama.com atau www.my.barackobama.com).

Selain Obama, tokoh lain yang memanfaatkan blog untuk kampanye adalah Presiden Perancis Nicolas Sarkozy. Lalu ada Perdana Menteri China When Jiabou, yang tidak cukup terkenal di dunia nyata (lokal) namun begitu populer di dunia maya (global). Sama dengan Obama, kedua tokoh ini tidak harus malu menyatakan diri sebagai blogger yang mengelola dan memelihara situs pribadinya secara rutin. Mereka juga tidak sungkan memajang foto-foto koleksi pribadi di Facebook dan menjawab testi-testi dari para pengunjung.

Selain kemampuan menarik simpati di dunia nyata, dampak memiliki blog ternyata sangat luar biasa. Sebagai contoh, sebuah artikel yang ditulis Pepih Nugraha di Harian Kompas belum lama ini menyebut, pada 6 Juni 2008, pendukung Obama di Facebook baru 864.832 netter. Belum sampai dua minggu, pendukungnya sudah 1 juta! Demikian pula di Twitter, pada 17 Juni pendukungnya 998.901, yang apabila dihitung-hitung ada 135 pendukung baru setiap 20 menitnya.

Berkah nge-blog juga dialami Wen Jiabou. Berkat usahanya mengkapling ”ruangan” di Facebook, plus berkat kepedulian dan kehadirannya mengunjungi korban gempa bumi Sichuan, popularitasnya sebagai politisi meningkat dengan menduduki 10 besar politisi dunia. Meski tidak sefantastis Obama di urutan pertama yang menggaet lebih dari 1 juta pendukung, Wen didukung 20.136 netter.

Di negeri sendiri, fenomena figur masyarakat nge-blog juga sudah mulai terlihat, meski persentasenya sangat kecil. Tercatat artis Sandra Dewi yang baru-baru ini meluncurkan blog pribadi, lalu ada Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dan politisi yang juga berlatar belakang artis, Angelina Sondakh, yang sudah sejak lama memiliki situs pribadi.

Jadi, sangat naif bila masih ada anggapan yang mengatakan blog adalah medianya orang-orang narsissshhh...