Senin, 07 Juli 2008
Jumat, 04 Juli 2008
Ayo 'Nge-Blog'!!!

Jangan Takut Dibilang Narsis
Kandidat Presiden Amerika Barack Obama bukanlah seorang narsisme. Seperti saya, ia orang yang pintar dan kreatif:-( Ia sadar betul memanfaatkan kekuatan situs atau blog pribadi untuk meraih simpati calon pemilih. Jadi, jangan sungkan memanfatkan blog seperti sohib saya si Barack itu:-D
Secara terminologi, narsis atau narsisme adalah sebutan untuk orang yang senang membangga-banggakan diri, orang yang senang memuji-muji kehebatannya sendiri, blablabla.. Sialnya, para blogger sering dikait-kaitkan dengan predikat ini. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang narsis. Ringkasnya, blog sering dikonotasikan sebagai media orang-orang narsis. Sadis yah!?
Padahal Barack Obama, di luar kemampuannya memikat calon pemilih yang amat rasional di dunia nyata, telah membuktikan sendiri kehebatan menjadi seorang blogger. Melalui situs pribadinya, Obama mampu mendulang simpati lebih banyak dari pesaingnya, Hillary Clinton, pada saat konvensi partai (lihat situs www.barackobama.com atau www.my.barackobama.com).
Selain Obama, tokoh lain yang memanfaatkan blog untuk kampanye adalah Presiden Perancis Nicolas Sarkozy. Lalu ada Perdana Menteri China When Jiabou, yang tidak cukup terkenal di dunia nyata (lokal) namun begitu populer di dunia maya (global). Sama dengan Obama, kedua tokoh ini tidak harus malu menyatakan diri sebagai blogger yang mengelola dan memelihara situs pribadinya secara rutin. Mereka juga tidak sungkan memajang foto-foto koleksi pribadi di Facebook dan menjawab testi-testi dari para pengunjung.
Selain kemampuan menarik simpati di dunia nyata, dampak memiliki blog ternyata sangat luar biasa. Sebagai contoh, sebuah artikel yang ditulis Pepih Nugraha di Harian Kompas belum lama ini menyebut, pada 6 Juni 2008, pendukung Obama di Facebook baru 864.832 netter. Belum sampai dua minggu, pendukungnya sudah 1 juta! Demikian pula di Twitter, pada 17 Juni pendukungnya 998.901, yang apabila dihitung-hitung ada 135 pendukung baru setiap 20 menitnya.
Berkah nge-blog juga dialami Wen Jiabou. Berkat usahanya mengkapling ”ruangan” di Facebook, plus berkat kepedulian dan kehadirannya mengunjungi korban gempa bumi Sichuan, popularitasnya sebagai politisi meningkat dengan menduduki 10 besar politisi dunia. Meski tidak sefantastis Obama di urutan pertama yang menggaet lebih dari 1 juta pendukung, Wen didukung 20.136 netter.
Di negeri sendiri, fenomena figur masyarakat nge-blog juga sudah mulai terlihat, meski persentasenya sangat kecil. Tercatat artis Sandra Dewi yang baru-baru ini meluncurkan blog pribadi, lalu ada Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dan politisi yang juga berlatar belakang artis, Angelina Sondakh, yang sudah sejak lama memiliki situs pribadi.
Jadi, sangat naif bila masih ada anggapan yang mengatakan blog adalah medianya orang-orang narsissshhh...
Selasa, 20 Mei 2008
From ‘Singgefou’ To Minangkabau

Pesawat 'Delay' dan Kelalaian Karena Belanja
Dengan memanfaatkan fasilitas wireless gratis yang disediakan pihak hotel, saya buka juga blog kesayangan yang sudah lama tidak di-posting ini…
Pagi ini, saya dan teman-teman kantor, plus bos rupanya, tiba di Bandara Internasional Minangkabau sekitar pukul setengah sepuluh. Dari Bandara Soekarno Hatta, sebenarnya kami berangkat dengan penerbangan pertama Garuda pukul 06.05 WIB, namun pesawat delay hingga satu jam lamanya. Oya, kami datang ke Minangkabau untuk keperluan pekerjaan. Selebihnya, biasa, jalan-jalan hehe…
Saat menulis catatan ini, saya sedang duduk sendiri di Lobi Hotel Pangeran Beach, Kota Padang, tempat kami rencananya menginap sampai hari Minggu, 25 Mei 2008. Di lobi hotel, tadinya saya berdua teman saya Agung, yang asyik menjeprat-jepret obyek yang tak jelas. Tapi kemudian dia memutuskan untuk istirahat di kamar. Payah emang dia:-P.
Sepeninggal teman saya itu, saya bingung apa yang harus saya lakukan, sementara untuk istirahat di kamar hotel saya sungkan:-(. Saya juga sudah sempat buka-buka email melalui laptop yang saya bawa dari kantor. Dengan memanfaatkan fasilitas wireless gratis yang disediakan pihak hotel, saya buka juga blog kesayangan yang sudah lama tidak diposting ini. Akhirnya saya putuskan untuk menulis artikel untuk blog sajalah. Lagian saya ingat komplen beberapa teman saya soal blog saya yang belakangan jarang diposting artikel baru. Hehe rupanya masih ada juga yang care sama blog saya ini:-)

Tapi apa yah yang akan saya tulis? Soal Ranah Minang nan Rancak Bana? Wah belum banyak yang saya ketahui karena hari-hari yang kami lewati di sini juga belum banyak. Belum banyak cerita untuk diceritakan selain masakan Ikan Bakar di sebuah restoran lesehan, di salah satu sudut kota yang kami cicipi tadi siang. Belum banyak. Jadi saya belum bisa bercerita banyak tentang nagari yang indah ini.
Paling saya mau menyentil sedikit soal lawatan kami, ciee,,, saya dan teman-teman kantor maksudnya, eh, bos juga rupanya, beberapa hari lalu ke Negeri Singa Air Putih, Singapura.
Sebenarnya, sebelum tiba di Kota Padang ini, kami pun juga ada pekerjaan kantor di Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) selama enam hari dari tanggal 11-16 Mei 2008. Di Batam kami menginap di Hotel Holiday Inn di daerah Marina pesisir. Oya, jauh sebelumnya, teman-teman sudah kasak-kusuk untuk memanfaatkan kesempatan tersebut untuk juga mengunjungi Singapura yang dari Kota Batam tinggal menyebrang naek fery. Ah sudahlah, tak ada salahnya juga saya sesekali berleye-leye mencicipi negara tetangga hehe…
Jumat pagi, 16 Mei 2008, kami akhirnya menyebrang dari Pelabuhan Batam Centre ke Pelabuhan Harbourfront Singapura. Perjalanan menggunakan fery menempuh waktu sekitar 50 menit. Untuk menyebrang setiap orang harus membeli karcis seharga Rp90 ribu, dan pajak fiscal Rp500 ribu per orang.
Dari Harbourfront, yang terhubung dengan stasiun kereta api bawah tanah yang supercanggih itu, kami menuju Orchard Road, yang merupakan salah satu tempat teramai di kota transit ini. Atas saran seorang teman, kami memutuskan menginap di Apartemen Lucky Plaza di Orchard, yang kebetulan bersebelahan dengan Mount Elizabeth Hospital.
Oya, rupanya salah satu apartemen yang kami sewa, dikelola orang Indonesia yang berasal dari Pontianak. Apartemen di sini juga banyak yang disulap menjadi kamar seperti kost-kostan yang disewakan murah-meriah bagi turis berkantong seadanya seperti kami:-) ini. Kami mengambil empat kamar yang satu kamarnya seharga Sing. $60 atau sekitar Rp420.000 per malam.
Keesokan harinya, Sabtu 17 Mei 2008, tentunya setelah puas berkeliling dan belanja di Takasimaya, Bugis Junction, dan entah apalagi nama toko dan mal yang sudah kami jelajahi, serta Lucky Plaza tentunya, kami kembali ke Pulau Batam untuk mengejar penerbangan Garuda pukul 16.05 WIB. Tapi karena kelalaian sendiri, karena terlalu asyik belanja bareng ibu-ibu itu, kami harus mengundurkan kepulangan kami hingga keesokan harinya dari Bandara Internasional Hang Nadim Batam hoho…

Huh, sangat menyesal kami tidak sempat mengunjungi Patung Singa Air Marlion, di daerah City Hall, yang merupakan lambang dari negeri Lee Kuan Yew ini. Ini semua, setidaknya, gara-gara ibu-ibu yang keukeh lebih mementingkan urusan belanja ketimbang mengunjungi tempat-tempat eksotik di sana.
Makanya bu, kalau belanja inga-inga dong. Lagian ngapain jauh-jauh belanja mahal-mahal ke sana toh di Mangga Dua dan Tanah Abang jauh lebih murah. Dan itung-itung cinta produk dalam negeri yah nggak?
Yo weslah. Hari ini, Selasa, 20 Mei 2008, tepat dua hari setelah lawatan kami ke Batam-Singapura-Jakarta, dan kami sudah berada di Nagari Minangkabau. Dan teman saya si Agung itu, yang tadinya dia sudah turun dari kamar ketika artikel ini baru setengah jadi, eh dia sudah masuk ke kamar hotel lagi. Katanya dia mau pergi keliling Kota Padang naik angkot, tapi ia mau ganti celana pendek dulu katanya. Mungkin biar dikira turis beneran kali:-D
Senin, 17 Maret 2008
Film Ayat Ayat Cinta

Si Ucok pun Tak Tahan untuk Tidak Menangis
Pada saat ke Bogor seminggu sebelumnya, saya janjian ketemu seseorang di Bogor Trade Mall untuk nonton Ayat Ayat Cinta (AAC). Namun sayang tiket pada jam pertunjukan yang kami inginkan telah habis terjual sehingga hari itu kami urung nonton.
Sabtu pagi tanggal 15 Maret 2008. Saya dan sohib baru saya, Mifta Pohan alias si Ucok, bertemu seorang sahabat yang saya kenal ketika saya masih bekerja di dunia infotainment. Sahabat saya ini, seorang reporter, bernama Barata. Kami menemuinya untuk sebuah urusan di kantornya, Indigo, di daerah Cilandak, Jakarta Selatan.
Sehabis bertamu ke Kantor Indigo, rupanya si Ucok (yang juga merupakan adik kandung artis Annisa Pohan itu), benar-benar menepati janjinya mengajak saya nonton AAC yang diangkat dari novel fenomenal berjudul sama karya Ust. Habiburrahman El Shirazy. Setelah menimbang-nimbang, si Ucok memutuskan mengarahkan kemudinya ke Pondok Indah Mall (PIM) 1. Sebagai orang yang diajak, saya mah nurut aja ateuh…
Singkat kata, sehabis makan di salah satu restoran PIM 1, kami nonton AAC pada jam pertunjukan 14.00 WIB. Luar biasa, setelah sekitar dua minggu diputar serentak di seluruh bioskop Indonesia jaringan 21, penonton AAC tetap saja berjubel! Untung kami sudah pesan tiket satu jam sebelum pertunjukan dimulai, sehingga kami tidak perlu bersusah payah antri seperti yang lain. Hmm…
Oya, setelah sebelumnya tuntas membaca novel AAC, saya memang kurang begitu yakin versi layar lebarnya akan sebagus novelnya. Dari kacamata seorang yang awam di dunia perfilman, saya memiliki beberapa catatan khusus soal film ini. Mudah-mudahan bisa menjadi masukan bagi pihak yang terkait (produser, penulis skenario, sutradara dll.) yang kabarnya juga bakal mengulang kesuksesan film AAC dengan mengangkat cerita dari novel-novel karya Kang Abik lainnya.
Pertama, menurut saya, film berdurasi sekitar 120 menit ini terlalu mengedepankan romantisme hubungan pria-wanita (meski dibingkai dalam perspektif etika pergaulan dan poligami dalam Islam), ketimbang mengeskplorasi tema lain seperti indahnya toleransi yang diajarkan dalam Islam, yang di dalam novel digambarkan hubungan bertetangga antara Fahri Cs. dan keluarga Maria Girgis yang menganut Kristen Koptik. Dalam film, saya tidak melihat adegan-adegan saat Fahri Cs. (sebelum Fahri menikah dengan Aisha), diajak makan bersama keluarga Maria di sebuah restoran elit di Mesir. Saya juga tidak melihat fragmen saat Fahri memberi kejutan berupa kado ultah kepada Madam Nahed (ibunya Maria), dan Yousef (adik Maria) sebagai bentuk toleransi yang ditunjukkan Fahri. Tadinya saya berharap ada adegan yang menggambarkan betapa senangnya Madam Nahed saat mendapat surprise dari Fahri.
Bila saja pembuat film ini jeli, menurut saya fragmen seperti ini sangat penting ditampilkan untuk menambah kekuatan cerita. Ini juga menjadi benang merah yang menjadi alasan dan jawaban penonton mengapa Madam Nahed alias si Nyonya Boutros harus rela dan tanpa keragu-raguan menerima Fahri sebagai menantunya, meskipun niat Fahri memperistri Maria semata-mata untuk menuruti keinginan istrinya, Aisha dan untuk menolong Maria dari kondisi komanya (disamping untuk menyelamatkan Fahri dari tuduhan pemerkosaan oleh Noura). Pembuat film nyatanya lebih tertarik menitikberatkan bentuk toleransi Fahri kepada Maria secara individu, bukan kepada keluarganya secara keseluruhan.
Kedua, saya kurang begitu sreg dengan pilihan yang jatuh pada Zaskia Adya Mecca yang memerankan Noura, si gadis teraniaya anak si Muka Dingin Bahadur. Bukan karena akting Zaskia, tapi lebih karena kurang matching-nya wajah dan karakter seorang Zaskia dengan karakter seorang Noura yang bengis dan pendendam. Seharusnya pembuat film ini bisa menggiring emosi penonton untuk membenci karakter Noura. Tapi karena si imut Zaskia yang memerankan Noura, agaknya penonton seperti saya agak susah untuk memiliki perasaan seperti itu. Jadi intinya, tampang Zaskia yang imut dan sangat Melayu itu tidak cocok memerankan Noura yang berdarah Arab dan memiliki sifat bengis. Saya lebih sreg kalau Zaskia memerankan tokoh Nurul (diperankan Melanie Putria), si gadis patah hati anak pemilik salah satu pesantren dari Indonesia.
Di luar itu, saya pikir secara keseluruhan film ini sudah lumayan bagus. AAC adalah film yang menurut saya paling berbobot dibanding film-film Indonesia lainnya yang pernah saya tonton. Tema poligami dan romantisme hubungan pria-wanita (dalam perspektif Islam) yang menjadi daya tarik utama film ini, begitu indah ditampilkan secara visual oleh sang sutradara Hanung Bramantyo. Meski katanya, dari sisi pengambilan gambar hampir seluruhnya tidak dilakukan di Mesir. Begitu pula dengan pesan (message) keislamannya, disampaikan sangat wajar dan terkesan tidak dipaksakan. Seperti adegan saat Maria, si Gadis Koptik yang Aneh, membacakan surah Mariyam di hadapan Fahri dalam sebuah bus, adegan pembelaan yang dilakukan Fahri kepada Alicia dan Aisha di dalam metro, atau adegan tallaqi Fahri kepada Syaikh Utsman Abdul Fattah.
Jarang sebuah film bisa menghipnotis seseorang hingga berderai-derai seperti yang terjadi pada sohib saya si Ucok Pohan. Sehabis nonton si Ucok mengaku kepada saya dari mulai pertengahan film (saat Maria dan Nurul digambarkan tercabik-cabik perasaannya mengetahui Fahri menikah dengan Aisha, lalu serangkaian tuduhan keji yang dialamatkan kepada Fahri, atau saat Maria di ujung hayatnya meminta menjadi makmum bersama Aisha yang diimami sang suami Fahri, hingga antiklimaks saat Fahri bahagia bersama Aisha), si Ucok mengaku ia tak kuasa menitikkan airmata! Apalagi manakala kejadian-kejadian menyayat hati itu diiringi lantunan nan syahdu penyanyi Rossa dari album Ayat Ayat Cinta, atau suara serak Ust. Jeffry Al Buchori yang menyenandungkan Istighfar. Hehe tak sangka saya, si Ucok yang berbadan tinggi besar dan bermuka agak sedikit garang itu, luluh juga hatinya menonton film ini:-P. Cok, cok, cemen kali kau!
Saya sendiri? Hehe meski tak separah si Ucok rasanya sulit melupakan begitu saja esensi dari film ini. Kalau saja saya dalam posisi Fahri, saya juga rasanya sulit menolak dua hati seperti Aisha dan Maria:-P. Yang jelas, semisal saya dalam posisi Fahri yah, saya akan belajar dan berusaha untuk mendekati adil, meski kata si Saiful, teman satu kostnya Fahri, sangat tidak mungkin menerapkan konsep adil dalam perkara poligami:-). Wallahualam.
Senin, 10 Maret 2008
Betapa Susah Jadi Orang Susah

Bogor-Jakarta yang Tak Terlupakan
Duh, lama nian daku tak mem-posting artikel baru. Maklum, bukan karena nggak nemu internet tapi karena rutinitas kerjaan yang begitu menyita waktu. Satu lagi, karena belakangan ini saya lagi gandrung main game komputer war-war-an. Jadi waktu untuk menulis di blog agak sedikit terabaikan. Duileehh,,,
Sekarang baru ada sedikit waktu untuk menulis di blog lagi. Mungkin karena momen yang akan saya utarakan di sini agak sedikit menyebalkan, jadi terasa sayang untuk dilewatkan begitu saja. Sebuah pengalaman yang terjadi pagi tadi, di atas KRL “Economy Class” jurusan Bogor-Jakarta yang membuat hatiku luluhlantak.
Begini ceritanya. Libur kantor selama 3 hari (Jumat, Sabtu dan Minggu) alias long nice weekend kemarin, saya manfaatkan berkunjung ke rumah seorang kerabat di daerah Leuwiliang, Bogor. Singkat kata, tiba waktu pulang. Senin pagi, sehabis subuh, saya sudah pamitan dengan tuan rumah untuk kembali ke Jakarta. Di St. Bogor saya nyampai sekitar pukul 06.45 WIB.
Setelah membeli karcis seharga Rp2.500,- dan (juga) setelah sempat mencicipi sepiring nasi goreng pinggiran, saya putuskan untuk naik salah satu KRL yang lagi ‘ngetem’. Sial, KRL yang saya naiki ternyata ada gangguan teknis. Kelihatannya ada sedikit gangguan di sistem pelistrikannya. Melihat gelagat akan ada pemunduran jadwal keberangkatan, saya putuskan untuk pindah ke KRL lain.
Oya, KRL dari Bogor tujuan Jakarta memiliki dua rute. Satu ke St. Tanah Abang dan satunya lagi ke St. Beos Kota. Sementara tujuan saya St. Kalibata. Dua rute KRL ini pasti akan melewati St. Kalibata karena perpecahan rute akan terjadi di St. Manggarai (sebelum St. Kalibata). Jadi tak masalah KRL manapun yang saya naiki pastilah melewati tujuan saya.
Tapi alamak, seperti halnya KRL pertama yang urung saya tumpangi, KRL kedua juga disesaki penumpang! Cepe deh! Dalam hati saya membatin; alamat di pemberhentian berikutnya penumpang senasib sepenanggungan akan semakin bertambah. Dan benar saja, saat KRL telah melaju dan singgah di beberapa stasiun, penumpang bukannya surut, malah tambah berjubel. Bayangkan satu gerbong yang kapasitas maksimalnya sekitar 120 penumpang diisi sekitar 700-an lebih penumpang!
Jadilah perjalanan Bogor-Jakarta hari ini terasa begitu panjang dan melelahkan. Waktu tempuh yang hanya sekitar 45 menit serasa seperti perjalanan seharian. Riweh. Sesak. Seperti kelelep, teriak seorang penumpang di dalam sana. Kasihan bapak-bapak, ibu-ibu renta dan penumpang wanita (untung tak terlihat yang bawa anak-anak). Mereka harus berjuang lebih keras untuk bertahan hingga stasiun tujuan.
Di tengah suasana dimana oksigen menjadi ‘barang’ yang sedikit berkurang kualitasnya, ada-ada saja ulah beberapa penumpang yang agak konyol. Celetukan dan banyolan mereka di tengah suasana yang bak berada di dalam kaleng Sardinces itu, bagi saya agak sedikit menghibur. Apalagi saat melihat seorang pria latah dikerjain habis-habisan oleh teman-temannya. Tapi kasihan juga sih, mukanya jadi pucat pasi setengah matang karena kelelahan. Persis kayak ikan kaleng Sardinces benaran. “Hormaaat graaaakkkkkk!” pekiknya saat teman disebelahnya melatahi dengan ucapan lain. Hehe yang lain pada mesem-mesem capek melihatnya. Siapa suruh jadi orang latah!
Tiba-tiba persis di depan saya seorang bapak-bapak berusia sekitar 40 tahun berteriak kehilangan HP. Suasana pun bertambah riuh. Teman si Bapak mencoba untuk miscall tapi tidak ada nada tunggu. Yah bapak, kenapa juga nggak ati-ati udah tau keadaan lagi kacau... Si bapak lalu berujar pendek yang sayup kudengar; ikhlas, ikhlas dah saya… Persis kejadian yang saya alami belum lama ini.
Hhh…akhirnya. Setelah berjibaku hampir 45 menit di dalam KRL yang penuh sesak, saya pun tiba di stasiun tujuan. Lega rasanya meski kaki sebelah kiri saya agak sedikit lunglai dan sakit akibat berdesak-desakan. Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada pihak pengelola jasa perkeretaapian, tolonglah benahi persoalan seperti ini. Tolong dijaga agar muatan tidak melebihi kapasitas, ya Pak. Kasihan orang susah tambah susah!
Jumat, 15 Februari 2008
Valentine is Bad Day

Tetap Waspada di Manapun Kau Berada
Valentine Days, bagi banyak orang mungkin hari yang penuh makna dan suka-cita. Bagi saya sebaliknya. Atau mungkin saya yang terlalu subyektif yah? Entahlah, pokoknya hari dimana banyak orang merayakannya sebagai hari kasih sayang itu, saya justru ditimpa kemalangan. Kesian deh eloh...
Pengalaman buruk saya ini mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi para pembaca. Terlebih bagi mereka yang tinggal, beraktifitas, atau akan bepergian ke kota besar seperti Jakarta. Tetaplah waspada akan orang-orang di sekitar anda (di bis kota, angkot, kapal, kereta, pasar, terminal dll.). Jangan mudah percaya dengan wajah yang ramah dan cantik sekalipun. Siapa tahu dibalik itu tersimpan akal-bulus yang bakal merugikan kita.
Cukup saya saja yang mengalami dan terpaksa harus mengatakan: “Valentine is bad day!” Tapi untuk valentine tahun ini saja yah… Tahun depan saya yakin Tuhan akan melipat-gandakan kasih sayangnya untuk saya dan juga buat kita semua. Amin.
Begini ceritanya. Kamis (pagi) kemarin, atau bertepatan dengan hari dimana orang-orang mengenalnya dengan istilah valentine, saya dan seorang rekan mendapat tugas kantor ke luar kota. Tujuan saya kali ini adalah Kota Bogor. Untuk menghemat waktu dan ongkos, dari Jakarta saya memilih naik KRL Ekonomi. Dari Stasiun Kalibata, sebelum meneruskan perjalanan ke Bogor, saya harus bertemu rekan saya dulu di Stasiun Lenteng Agung.
Dari rumah saya tidak memiliki firasat apa pun. Yang saya rasakan justru hari itu saya tidak begitu bersemangat dan juga tidak begitu konsentrasi. Mungkin keadaan saya yang seperti inilah yang dibaca dan dimanfaatkan orang. Padahal KRL yang saya tumpangi pagi itu tidak begitu penuh sesak, meski saya juga tidak kebagian tempat duduk.
Saya baru menyadari telah kehilangan sesuatu ketika saya sudah turun dari kereta dan telah menjejakkan kaki di Stasiun Lenteng Agung. Seperti air terjun, seketika luruh hati saya mendapati HP yang saya taroh di dalam mini bag dan dikaitkan di ikat pinggang celana bagian depan, telah raib entah kemana!
Wasalam, begitulah yang terjadi. HP kesayangan saya merk Sony Ericsson K610i yang saya beli lebih dari setahun yang lalu itu, benar-benar telah berpindah tangan. Sedikit saya menyesali diri akibat keteledoran saya. Andai waktu bisa berbalik sepersekian menit saja, mungkin saya bisa memperbaiki keadaan yang tidak menguntungkan ini. Tapi mana mungkin waktu bisa di-rewind seperti memutar kaset rekaman. Ah, tidak mungkinlah itu.
Lets bygone be bygone, yang lalu biar berlalu. Kata orang Betawi barang udah ilang apa mo dikate. Yang ilang kagak usah disesali tapi harus dijadiin pelajaran supaya lebih ati-ati, nyok!
Keesokan harinya saya lekas-lekas mem-blokir nomor saya di Grafari Telkomsel, Jalan Jendral Gatot Subroto, Jakarta. Keinginan saya cuma satu; menyelamatkan nomor saya yang sudah saya gunakan hampir 2 tahun dan, satu lagi, saya ingin cepat-cepat membuang kenangan yang tidak begitu baik di hari valentine tahun ini.
Rabu, 13 Februari 2008
Ririn Dwi Ariyanti

“Manusia Jangan Egois”
Kata Ririn, mengapa sering terjadi banjir karena manusia suka menyepelekan alam. Kita harusnya menyayangi alam karena alam nggak bisa didaur ulang. Banjir terjadi terus, jadi manusia nggak boleh egois hanya memikirkan kehidupan sekarang. Pikirkan untuk beberapa tahun ke depan, untuk alam yang bisa dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.
Sore itu, langit di Timur Jakarta begitu bersahabat. Seraut wajah cantik khas Melayu terlihat sedang diwawancarai awak infotainment. Seperti biasa, ia begitu bersemangat dengan bibir yang tak henti-hentinya mengembang. Di luar sana, puluhan penggemarnya dengan setia menunggui dara kelahiran Jakarta, 6 November 1985 yang hari itu sedang syuting sebuah sinetron.
Usai diwawancarai infotainment, Ririn dengan ramah menerima kami. Beberapa hari sebelumnya, Ririn memang telah berjanji bertemu di sebuah rumah mewah di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur, yang dijadikan tempat syuting sinetron berjudul Cahaya. Seperti seorang sahabat yang telah lama tak bersua, Ririn dengan antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
Kata sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina yang baru lulus November 2007 ini, air adalah kebutuhan primer yang sama besar artinya dengan nafas kita. Manusia tanpa air mustahil bisa hidup. Air adalah kebutuhan yang sangat penting. Kita minum dan membersihkan diri dengan air. Jadi, kata artis muda yang bermain bagus dalam beberapa sinetron seperti Ada Apa dengan Cinta, Bukan Diriku, Cincin dan Impian Cinderella ini, sudah selayaknya bila kita menghargai keberadaan air dengan sebaik-baiknya.
“Kita harus menjaga air dari pencemaran. Karena kalau kita nggak bisa dapetin air yang bagus, dampaknya mempengaruhi kesehatan kita banget. Kalau air yang nggak bagus itu, baju warna putih kalau diucuci bisa berubah kuning lama-lama. Terus untuk diminum bau, kalau dimasak yah nggak sehat. Akhirnya bisa jadi penyakit buat tubuh kita. Makanya air harus kita jaga dari pencemaran,” cerocos Ririn.
Cara yang paling gampang untuk menjauhkan air dari pencemaran, adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan. Setiap orang, kata dara yang mengaku setiap hari bisa minum sampai 3 liter air ini, pasti bisa melakukannya asalkan ada kesadaran.

“Kesadaran dari diri kita sendiri itu sangat penting. Contohnya ayah saya paling marah kalau lihat anaknya buang sampah sembarangan. Saat lagi di mobil misalnya, nggak usah buang sampah di dalam mobil. Nanti kalau sudah sampai di rumah baru dibuang di tempat yang benar. Ini saja sudah sangat membantu menjaga keseimbangan alam kok,” ujar bungsu dari 2 bersaudara pasangan Amelia Rusanti dan Sudirman Riantonoto.
Tak terasa sudah lebih 15 menit kami berbincang santai di sela-sela break syuting pemeran Talita di sinetron Cahaya ini. Yang menyenangkan raut mantan kekasih Benny Mulya ini tidak berubah seperti di awal-awal wawancara. Ia tetap ceria dan murah senyum. Dan, keceriaannya itu kontan bertambah tatkala saya memintanya berpose di depan kamera.
“Pokoknya saya berharap PDAM bisa terus meningkatkan pelayanannya untuk masyarakat. Kalau bisa sih air yang diproduksi bisa langsung diminum, meskipun untuk mewujudkan ini sepertinya butuh waktu yang lama. Mudah-mudahan saja hal ini bisa diwujudkan. Kalau itu sudah bisa terealisasi yang senang kan masyarakat juga, dan itu untuk kesehatan juga,” imbuh Ririn. Ya deh...
Pondok Kelapa, Kamis, 31 Januari 2008
Zili, Rosa Hilda dan si Ucok Pohan, yang terakhir adalah pemrakarsa sekaligus penggemar berat si Ririn:-P
Langganan:
Postingan (Atom)

