Jumat, 15 Februari 2008

Valentine is Bad Day


Tetap Waspada di Manapun Kau Berada

Valentine Days, bagi banyak orang mungkin hari yang penuh makna dan suka-cita. Bagi saya sebaliknya. Atau mungkin saya yang terlalu subyektif yah? Entahlah, pokoknya hari dimana banyak orang merayakannya sebagai hari kasih sayang itu, saya justru ditimpa kemalangan. Kesian deh eloh...

Pengalaman buruk saya ini mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi para pembaca. Terlebih bagi mereka yang tinggal, beraktifitas, atau akan bepergian ke kota besar seperti Jakarta. Tetaplah waspada akan orang-orang di sekitar anda (di bis kota, angkot, kapal, kereta, pasar, terminal dll.). Jangan mudah percaya dengan wajah yang ramah dan cantik sekalipun. Siapa tahu dibalik itu tersimpan akal-bulus yang bakal merugikan kita.

Cukup saya saja yang mengalami dan terpaksa harus mengatakan: “Valentine is bad day!” Tapi untuk valentine tahun ini saja yah… Tahun depan saya yakin Tuhan akan melipat-gandakan kasih sayangnya untuk saya dan juga buat kita semua. Amin.

Begini ceritanya. Kamis (pagi) kemarin, atau bertepatan dengan hari dimana orang-orang mengenalnya dengan istilah valentine, saya dan seorang rekan mendapat tugas kantor ke luar kota. Tujuan saya kali ini adalah Kota Bogor. Untuk menghemat waktu dan ongkos, dari Jakarta saya memilih naik KRL Ekonomi. Dari Stasiun Kalibata, sebelum meneruskan perjalanan ke Bogor, saya harus bertemu rekan saya dulu di Stasiun Lenteng Agung.

Dari rumah saya tidak memiliki firasat apa pun. Yang saya rasakan justru hari itu saya tidak begitu bersemangat dan juga tidak begitu konsentrasi. Mungkin keadaan saya yang seperti inilah yang dibaca dan dimanfaatkan orang. Padahal KRL yang saya tumpangi pagi itu tidak begitu penuh sesak, meski saya juga tidak kebagian tempat duduk.

Saya baru menyadari telah kehilangan sesuatu ketika saya sudah turun dari kereta dan telah menjejakkan kaki di Stasiun Lenteng Agung. Seperti air terjun, seketika luruh hati saya mendapati HP yang saya taroh di dalam mini bag dan dikaitkan di ikat pinggang celana bagian depan, telah raib entah kemana!

Wasalam, begitulah yang terjadi. HP kesayangan saya merk Sony Ericsson K610i yang saya beli lebih dari setahun yang lalu itu, benar-benar telah berpindah tangan. Sedikit saya menyesali diri akibat keteledoran saya. Andai waktu bisa berbalik sepersekian menit saja, mungkin saya bisa memperbaiki keadaan yang tidak menguntungkan ini. Tapi mana mungkin waktu bisa di-rewind seperti memutar kaset rekaman. Ah, tidak mungkinlah itu.

Lets bygone be bygone, yang lalu biar berlalu. Kata orang Betawi barang udah ilang apa mo dikate. Yang ilang kagak usah disesali tapi harus dijadiin pelajaran supaya lebih ati-ati, nyok!

Keesokan harinya saya lekas-lekas mem-blokir nomor saya di Grafari Telkomsel, Jalan Jendral Gatot Subroto, Jakarta. Keinginan saya cuma satu; menyelamatkan nomor saya yang sudah saya gunakan hampir 2 tahun dan, satu lagi, saya ingin cepat-cepat membuang kenangan yang tidak begitu baik di hari valentine tahun ini.

Rabu, 13 Februari 2008

Ririn Dwi Ariyanti


“Manusia Jangan Egois”

Kata Ririn, mengapa sering terjadi banjir karena manusia suka menyepelekan alam. Kita harusnya menyayangi alam karena alam nggak bisa didaur ulang. Banjir terjadi terus, jadi manusia nggak boleh egois hanya memikirkan kehidupan sekarang. Pikirkan untuk beberapa tahun ke depan, untuk alam yang bisa dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.

Sore itu, langit di Timur Jakarta begitu bersahabat. Seraut wajah cantik khas Melayu terlihat sedang diwawancarai awak infotainment. Seperti biasa, ia begitu bersemangat dengan bibir yang tak henti-hentinya mengembang. Di luar sana, puluhan penggemarnya dengan setia menunggui dara kelahiran Jakarta, 6 November 1985 yang hari itu sedang syuting sebuah sinetron.

Usai diwawancarai infotainment, Ririn dengan ramah menerima kami. Beberapa hari sebelumnya, Ririn memang telah berjanji bertemu di sebuah rumah mewah di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur, yang dijadikan tempat syuting sinetron berjudul Cahaya. Seperti seorang sahabat yang telah lama tak bersua, Ririn dengan antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.

Kata sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina yang baru lulus November 2007 ini, air adalah kebutuhan primer yang sama besar artinya dengan nafas kita. Manusia tanpa air mustahil bisa hidup. Air adalah kebutuhan yang sangat penting. Kita minum dan membersihkan diri dengan air. Jadi, kata artis muda yang bermain bagus dalam beberapa sinetron seperti Ada Apa dengan Cinta, Bukan Diriku, Cincin dan Impian Cinderella ini, sudah selayaknya bila kita menghargai keberadaan air dengan sebaik-baiknya.

“Kita harus menjaga air dari pencemaran. Karena kalau kita nggak bisa dapetin air yang bagus, dampaknya mempengaruhi kesehatan kita banget. Kalau air yang nggak bagus itu, baju warna putih kalau diucuci bisa berubah kuning lama-lama. Terus untuk diminum bau, kalau dimasak yah nggak sehat. Akhirnya bisa jadi penyakit buat tubuh kita. Makanya air harus kita jaga dari pencemaran,” cerocos Ririn.

Cara yang paling gampang untuk menjauhkan air dari pencemaran, adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan. Setiap orang, kata dara yang mengaku setiap hari bisa minum sampai 3 liter air ini, pasti bisa melakukannya asalkan ada kesadaran.

“Kesadaran dari diri kita sendiri itu sangat penting. Contohnya ayah saya paling marah kalau lihat anaknya buang sampah sembarangan. Saat lagi di mobil misalnya, nggak usah buang sampah di dalam mobil. Nanti kalau sudah sampai di rumah baru dibuang di tempat yang benar. Ini saja sudah sangat membantu menjaga keseimbangan alam kok,” ujar bungsu dari 2 bersaudara pasangan Amelia Rusanti dan Sudirman Riantonoto.

Tak terasa sudah lebih 15 menit kami berbincang santai di sela-sela break syuting pemeran Talita di sinetron Cahaya ini. Yang menyenangkan raut mantan kekasih Benny Mulya ini tidak berubah seperti di awal-awal wawancara. Ia tetap ceria dan murah senyum. Dan, keceriaannya itu kontan bertambah tatkala saya memintanya berpose di depan kamera.

“Pokoknya saya berharap PDAM bisa terus meningkatkan pelayanannya untuk masyarakat. Kalau bisa sih air yang diproduksi bisa langsung diminum, meskipun untuk mewujudkan ini sepertinya butuh waktu yang lama. Mudah-mudahan saja hal ini bisa diwujudkan. Kalau itu sudah bisa terealisasi yang senang kan masyarakat juga, dan itu untuk kesehatan juga,” imbuh Ririn. Ya deh...

Pondok Kelapa, Kamis, 31 Januari 2008

Zili, Rosa Hilda dan si Ucok Pohan, yang terakhir adalah pemrakarsa sekaligus penggemar berat si Ririn:-P

Senin, 11 Februari 2008

Sriwijaya FC Ukir Sejarah Baru


Raih ‘Double Winner’ Liga Indonesia

Setelah cukup lama tidak mem-posting artikel baru--karena kesibukan di sana-sini--saya tentunya tidak ingin melewatkan satu kesempatan langka untuk turut ber-eufhoria. Sekedar ikut merayakan kemenangan tim idola saya; Sriwijaya FC Laskar Wong Kito Galo! :-P

Lupakan sebentar carut-marut dunia persepakbolaan kita di bawah naungan PSSI, lupakan soal keributan-keributan para suporter bola yang kerap terjadi, lupakan soal sepinya prestasi pemain lokal yang berkualitas, lupakan soal prestasi timnas kita yang tidak cukup membanggakan, dan lupakan soal kegamangan kita menatap masa depan persepakbolaan tanah air. Pokoknya lupakan dulu yang sedih-sedih deh:-D

Sebagai warga Sumsel di perantauan, tak usah diragukan lagi saya adalah salah seorang yang turut berbahagia dan bangga atas kemenangan Sriwijaya FC versus PSMS dengan skor 3-1 yang digelar Minggu malam, 10 Februari 2008 di Stadion Jalak Harupat Kabupaten Bandung. Kemenangan ini dicatat sebagai sejarah baru di blantika persepakbolaan tanah air sebuah tim mampu mengawinkan (double winner) Copa Indonesia dan Liga Indonesia dalam satu musim! Hebat yah…

Selain saya dan warga Sumsel lainnya, para pemain dan official, tentunya ada dua orang yang paling berbahagia atas kemenangan tim berjuluk ‘Laskar Wong Kito’ ini. Yang pertama, siapa lagi kalau bukan sang arsitek Rahmat Darmawan. Di bawah kepemimpinan pelatih yang menjadi kandidat kuat pelatih timnas pengganti Ivan Kolev ini, Sriwijaya FC yang baru berusia 3 tahun mampu menjadi tim terbaik di Indonesia.

Kedua, siapa lagi kalau bukan Gubernur Sumsel Syahrial Oesman. Di televisi terlihat Pak Syahrial tak henti-hentinya mengumbar senyum sembari mengangkat Piala Liga Djarum Indonesia. Terlepas dari ketidakjelasan berapa besar uang rakyat (yang diambil dari APBD) yang sudah tersedot untuk mengorbitkan Sriwijaya FC, tak bisa dipungkiri dengan kemenangan ini Pak Syahrial telah membuat warga Sumsel terhibur dan bangga memiliki tim sekuat Sriwijaya FC. Ini merupakan credit point tersendiri bagi yang bersangkutan menjelang Pilkada Sumsel yang rencananya bakal digelar November 2008. “Sukses untuk Pak Syahrial!”

Di luar eufhoria kemenangan tim kuning Sriwijaya FC, ada hal yang patut dicatat dari sosok pelatih PSMS Freddy Mulli saat mengomentari kemenangan tim lawan. Saat diwawancarai Anteve secara on the spot usai laga yang mendebarkan itu, Freddy dengan sportif mengakui keunggulan Sriwijaya FC. Bak seorang pujangga Freddy mengatakan kalimat yang begitu dalam secara makna, “Yang terindah itulah juara.”

Bravo Sriwijaya FC! Bravo dunia sepakbola tanah air! Bravo untuk saya sendiri hehehe…

Sabtu, 02 Februari 2008

Banjir Lagi, MPDT Aje Bang Fauzi…


Hujan yang mengguyur Jakarta dan Bogor dua hari belakangan ini, praktis membuat sebagian besar wilayah ibu kota lumpuh. Di mana-mana lalu-lintas mandek. Air menggenang di jalanan bahkan di rumah-rumah penduduk, menambah pilu warga ibu kota yang baru saja lepas dari masalah serupa seminggu sebelumnya. Duh, ibu kota…

Kondisi ibu kota yang sebagian besar lumpuh dan semrawut akibat banjir, kontan membuat sebuah harian nasional menggerutu. Dalam editorialnya, harian tersebut (Media Indonesia edisi Sabtu, 2 Februari 2008) menyebut kondisi ini sudah memasuki tahap memalukan negara. “Malu memiliki ibu kota negara yang bukan hanya mengalami macet dan semrawut, tetapi juga tiap kali musim hujan datang berubah menjadi sungai dan waduk.”

Sangat beralasan apa yang dikemukakan sebagian besar media kita. Apalagi bila melihat simbol-simbol sebuah bangsa seperti bandara internasional mendadak harus berhenti beroperasi. Seperti yang terjadi Jumat kemarin, Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup akibat banjir. Tak hanya itu, areal istana negara yang konon, selama ini bebas banjir juga tak luput dari genangan air setinggi 1 meter.

Pertanyaannya adalah mengapa kondisi ini tidak juga bisa diatasi? Mengapa kita semua (yah masyarakat, juga pemerintah dan DPR) tidak pernah belajar dari masa lalu dan dari negara lain? Padahal banyak orang pintar di negara kita? Tapi percuma juga sih kalau kita tidak punya kesadaran dan komitmen untuk keluar dari kondisi ini. Waduh!

Terlepas dari solusi mengatasi banjir dengan membangun Banjir Kanal Timur dan Kanal Barat, yang belum juga terealisasi akibat terbentur masalah pembebasan lahan, pemerintah sebenarnya sudah tahu ada solusi lain dan sangat brilian untuk mengatasi persoalan multi-kompleks ibu kota. Solusi itu adalah dengan membangun dan mengimplementasikan konsep pengelolaan sumberdaya air perkotaan secara terpadu atau bahasa kampung saya Integrated Urban Water Resources Management (IUWRM):-P

Dalam sebuah wawancara khusus saya dengan salah seorang penggagas konsep ini (Dr. Ir. Firdaus Ali, M.Sc) di kampus UI Depok belum lama ini, Firdaus mengemukakan perihal metode ini. Menurut dosen FT-UI ini, salah satu solusi yang pada dasarnya tidak terkendala pembebasan lahan adalah dengan membangun suatu sistem terowongan bawah tanah multi-guna (Multi Purpose Deep Tunnel atau MPDT).

Di negara-negara maju sistem terowongan bawah tanah sudah sangat familiar. Kalau anda hobi nonton film-film action barat seperti Die Hard yang dibintangi Bruce Willis, kita bisa saksikan terowongan yang dimaksud itu. Di dalam terowongan inilah beberapa obyek vital seperti saluran pipa air, gas, telepon dan listrik di tempatkan. Bahkan di dalam terowongan ini juga bisa difungsikan sarana transportasi seperli tol dan jalur kereta api. Kebayang kan kalau kita punya sistem perkotaan seperti ini?

Memang sih, menurut Firdaus Ali, biaya yang dibutuhkan untuk merealisasikan konsep ini sangat besar. Untuk membangun MPDT sejauh 22 kilometer di bawah kota Jakarta dibutuhkan investasi sebesar Rp17, 2 triliun! Toh biaya ini bukan hal yang mustahil bila selama ini kita sanggup menanggung kerugian akibat banjir yang mencapai Rp18,7 triliun dan kerugian akibat kemacetan yang mencapai Rp43 triliun.

Saya sih sepakat, pilih membangun MPDT ketimbang menanggung kerugian yang sudah jelas kita rasakan seperti selama ini. Disamping modern, kita juga bisa merasakan multimanfaat jangka panjang dalam rangka mengatasi beragama persoalan kota seperti kelangkaan air baku, kemacetan, banjir dll. Anda bagaimana?:-D

Selasa, 29 Januari 2008

Jangan Remehkan Tukang Ojek


Pejabat Manfaatkan Jasa Tukang Ojek

Ada beberapa kejadian unik di balik pemakaman Pak Harto di Astana Giri Bangun, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Senin kemarin. Sejumlah pejabat terlihat naik ojek menuju areal pemakaman. Mo ngirit Pak? Atau sebagai bentuk penghormatan terakhir buat Sang Jendral Besar?


Ini pemandangan yang tak biasa. Sejumlah pejabat Ring-1 seperti Andi Mallarangeng, Menteri Perhubungan Jusman Syafei Djamal, Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita, serta Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, Senin kemarin terlihat sedang naik ojek motor. Rupanya ini bukan karena mo ngirit atau sebagai bentuk penghormatan terakhir buat Pak Harto, atau juga malah ingin mengajarkan kepada rakyat bagaimana caranya berhemat loh. Bukan. Ini lebih karena terpaksa karena hampir seluruh akses menuju areal pemakaman macet total!

Bukan hanya di Karanganyar yang terkena macet, jalanan di Jakarta yang dilewati oleh iring-iringan mobil jenazah Pak Harto dari Cendana menuju bandara, juga mengalami kondisi serupa. Teman sekantor saya hanya bisa ngomel-ngomel karena ia harus memilih memutar naek angkot untuk menghindari macet. Hari biasa saja macetnya sudah minta ampun, apalagi dengan kondisi seperti itu. Hehe coba kalo naek ojek mungkin bisa sedikit mengurangi kemacetan yah...

Saya sendiri bersyukur karena tiap hari hampir tidak pernah dipusingkan dengan persoalan macet yang bisa bikin stres. Maklum rumah kontrakan saya dengan kantor jaraknya tak lebih dari 100 meter. Tapi yang namanya tinggal di Ibukota pasti tidak akan lepas dengan persoalan satu ini. Kalau sudah terbentur dengan kondisi ini semestinya kita sudah bisa mengantisipasi semisal pergi lebih awal atau memanfaatkan angkutan yang bisa meminimalisir macet seperti naek busway, kereta api, dan…ojek tentunya.

Oya, ngomong-ngomong soal tukang ojek dan meninggalnya Pak Harto memang seperti membincangkan langit dan bumi. Jauh sekali. Meninggalnya Pak harto tak ada urusannya dengan eksistensi tukang ojek. Tapi bagi tukang ojek di Karanganyar lain lagi. Meninggalnya Pak Harto tentu saja mengandung berkah tersendiri. Salah seorang tukang ojek bernama Sutikno mengaku selama dua jam bisa mengantongi uang jasa antar sekitar Rp 350 ribu. Rata-rata ia mengantar tamu-tamu resmi yang ikut mengantar Pak Harto ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Wah senangnya (maksudnya para tukang ojeknya!):-P

Di akhir catatan singkat ini, saya hanya bisa mengucapkan; ‘Selamat jalan Pak Harto’ dan ‘Selamat mengantarkan Pak Harto eh, selamat mengantarkan para pelayat dengan selamat untuk para abang-abang tukang ojek’ maksudnya...

Sabtu, 26 Januari 2008

Pakis Monyet alias Pakis Kera


Tanaman Hias Eksotik nan Sensitif

Tanaman hias satu ini sungguh unik. Bentuk dan bulunya mirip monyet alias kera. Makanya nama yang disandangnya pun beragam; Pakis Monyet, Pakis Sun Go Kong, Pakis Hanoman dan Pakis Emas. Tapi ada pula yang menyebutnya Ayam Emas. Hmm...?

Saya pertama kali melihat tanaman ini, waktu berkunjung ke rumah teman di Pagar Alam, Sumatera Selatan, pertengahan Oktober 2007 lalu. Dari kejauhan saya sudah mulai tertarik dengan bentuknya yang unik seperti monyet. Sungguh saya taklah menyangka itu adalah tanaman hias! Sejenis palm berjenggot.

Setelah itu rasa tertarik saya dengan sendirinya sirna seperginya saya dari kota berhawa sejuk, Pagar Alam. Namun sekarang, saya benar-benar tidak menyangka ternyata tanaman ini sudah mulai merambah Ibukota. Peminatnya pun lumayan banyak. Kebetulan, saya punya teman yang juga tinggal di Jakarta dan berasal dari Pagar Alam. Eh ternyata teman tadi juga sudah merambah bisnis ini. Ya sudah, akhirnya saya putuskan untuk membantunya mencari pasar. Itung-itung buat nambah-nambah jajan anak:-D

Mengamati respon terhadap tanaman ini, sebuah tabloid ibukota memprediksi pakis monyet bakal menggeser eksistensi bonsai di pelataran bisnis florikultura. Salah seorang pemilik nurseri Agung Flora Jakarta yang diwawancarai mengaku harga yang ditawarkan untuk pakis monyet mencapai Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu untuk yang berdiameter 17 cm. Sedangkan untuk ukuran diameter 24 cm dibandrol Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu. Pemilik nurseri ini mengaku, hampir tiap hari mampu menjual 4-6 pot pakis monyet.

Di ajang pameran, konon pakis monyet sempat mengguncang pasar loh. Ini mungkin karena bentuknya yang aneh dan jarang dijumpai di Indonesia. Hanya yang dikhawatirkan para penjual, importir tanaman dari Thailand ikut bermain untuk mematikan pasar tanaman nan unik ini. Oya, hampir sebagian besar pakis monyet yang sekarang beredar di Ibukota ternyata berasal dari Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Asal usul pakis monyet

Di balik keunikannya, ternyata spesies ini juga mengandung nilai historis. Menurut beberapa sumber, tanaman pakis monyet ini berasal dari negeri Tiongkok. Sebelumnya, tanaman ini telah populer dengan nama Golden Chicken (ayam emas). Ada pula yang menyebutnya Pakis Emas, Pakis Sun Go Khong (itu loh tokoh kera dalam cerita klasik Cina) atau Pakis Hanoman, tokoh kera dalam kisah Ramayana.

Masih dari cerita yang beredar, di negeri rumpun bambu pakis monyet biasa terlihat dan ditanam di dalam permukiman atau tempat tinggal orang terpandang di zaman kerajaan atau pejabat-pejabat zaman dulu. Bahkan ia ditanam di sekitar luasnya area ruang balairung kerajaan di zaman Tiongkok kuno.

Karena mungkin sempat tenggelam ditelan zaman atau bisa jadi mulai langka peredarannya, tanaman ini dianggap antik. Dan di zaman modern ini, pakis monyet kembali muncul, sehingga tak heran bila kolektor berburu tanaman unik ini untuk diletakkan di dalam tempat tinggal mewah. Sebab, tanaman ini memang cocok ditaruh di dalam ruangan. Itu sesuai dengan proses perkembang-biakannya sebagai tanaman in-door.

Tanaman so sensitif

Tanaman ini ternyata seperti memiliki perasaan saja yah. Ia ternyata sangat sensitif seperti anak perempuan:-P. Sesuai anjuran, tanaman ini harus disediakan tempat yang teduh. Bila tidak, maka pertumbuhannya makin melambat. Terkena air pun juga dilarang, karena jika kadar airnya terlalu banyak, maka akan busuk. Pakis monyet sebaiknya diletakkan di tempat teduh.

Cara penyiramannya dengan merendamkan tanaman di atas media yang sudah diberi air. Itu dilakukan untuk menghindari daun pakis monyet agar tidak cepat rusak. Kalau panas berlebih pun, maka akan memperlambat tumbuhnya daun. Tanaman ini akan tampak lebih eksotik bila ketinggiannya telah mencapai lebih dari 50 cm. (Dikutip sebagian dari Tabloid Galeri)

jual pakis monyet jual pakis kera jual pakis hanoman jual pakis emas...

Kamis, 24 Januari 2008

Polemik di Balik Sakitnya Pak Harto


Seberapa Perlu Memaafkan Beliau?

Berita mengenai sakitnya mantan Presiden Soeharto akhir-akhir ini banyak menghiasi pemberitaan di media massa. Seiring dengan itu, polemik maaf-memaafkan dan soal status hukum bagi mantan penguasa Orde Baru itu juga ikut mengemuka.

Blogger, kalau kita perhatikan media massa akhir-akhir ini, selain isu mengenai politik, bencana alam, impor kondom bekas, aliran sesat, kelangkaan minyak tanah, kenaikan harga kedelai dan kebutuhan pokok lainnya blablabla, isu lain yang tak kalah hangat dibicarakan saat ini adalah soal sakitnya Pak Harto.

Sebegitu pentingnya pembahasan mengenai sakitnya Pak Harto, hingga membuat para ‘kuli tinta’ rela menunggui rumah sakit tempat beliau dirawat sekedar mengetahui perkembangan kesehatannya. Sampai-sampai media perlu juga melakukan investigasi ke pemakaman keluarga Pak Harto di Solo, hingga mewawancarai paranormal segala. Hmm sakitnya saja sudah sebegini heboh, bagamaina kalau--misalnya--beliau meninggal yah?

Di luar sakitnya Pak Harto, kita ketahui terjadi pro dan kontra di masyarakat atas kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat Pak Harto semasa ia menjadi presiden. Perlukah masyarakat memaafkan beliau? Perlukan proses hukum atas ‘Bapak Pembangunan’ dilanjutkan meski beliau dalam keadaan sakit?

Secara kemanusiaan, kita tentu sepakat untuk memafkan sajalah bapak kita ini. Terlepas dari banyaknya kesalahan, kita juga tidak bisa mengabaikan begitu saja jasa-jasa beliau bagi bangsa ini. Toh berbicara dosa tentunya urusan masing-masing dengan Tuhan. Tapi kalau soal hukum saya sepakat harus diselesaikan menurut mekanisme yang berlaku. Ini sebagai pembelajaran bahwa hukum di negara ini memang tidak pandang bulu mau dia rakyat jelata atau mantan presiden sekalipun.

Jujur, secara pribadi saya sungguh sangat prihatin dengan kondisi Pak Harto. Melihat paras rentanya yang sakit-sakitan, yang dikejar-kejar oleh sorotan kamera wartawan, seperti tak pernah terbayangkan akan seperti ini saat melihat beliau berkuasa dahulu. Selama berkuasa ia seperti tak tersentuh (untouchable), gagah perkasa seolah tak mengenal kata ‘lemah tak berdaya’. Sayangnya kini beliau benar-benar menjelma bak bayi yang tak berdaya.

Ini pelajaran bagi siapa pun, terlebih bagi seorang pemimpin. Bahwa kekuasaan tidak pernah abadi. Bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang harus kita pertanggung jawabkan. Rasulullah Saw bersabda: ”Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahuallam.