Senin, 07 Januari 2008

Sriwijaya FC Tumbangkan PSMS


Dukung Terus Laskar "Wong Kito"

Akhirnya tim kebanggan "Wong Kito" Sriwijaya FC melaju ke babak semifinal Turnamen Copa Dji Samsoe. Pada pertandingan laga kedua perempat final di Stadion Gelora Sriwijaya, Jaka Baring, Palembang, yang digelar tadi malam, PSMS takluk dari tim tuan rumah dengan skor 0-4.

Bagi warga Sumsel tentunya kemenangan ini sangat menggembirakan. Tim tangguh sekelas PSMS yang memiliki julukan "Ayam Kinantan" bisa ditumbangkan dengan skor telak 0-4 atau agregat gol 2-4. Kemenangan ini sekaligus membuktikan siapa sebenarnya macan yang paling ditakuti di wilayah Sumatera. Ini komentar pegamat di televisi.

Laga 2 x 45 menit yang disiarkan langsung oleh Lativi ini memang sangat menarik. Kedua tim saling menunjukkan suguhan permainan terbaiknya. Namun Laskar "Wong Kito" ternyata lebih dominan dari sisi strategi dan penguasaan bola. Gol pertama Sriwijaya FC dicetak melalui sundulan Renato Elia. Kemudian pada menit ke 55 keunggulan bertambah melalui gol Keith Kayamba. Berturut-turut gol ketiga dan keempat dicetak oleh Keith Kayamba dan Christian Lenglolo.

Ada beberapa hal yang patut dicatat dari kemenangan ini. Pertama, menghadapi tim setangguh PSMS, tim "Wong Kito" benar-benar menunjukkan keperkasaannya. Kita berharap, mudah-mudahan prestasi ini bukan hanya karena kebetulan anak-anak Sriwijaya FC bertanding di kandang sendiri. Kedua, tim asuhan Rahmat Darmawan ini juga konsisten menunjukkan sportifitasnya, meski di menit-menit akhir tim PSMS sempat menunjukkan gelagat yang "kurang baik" akibat, mungkin, sudah terlalu frustasi menghadapi keganasan Laskar "Wong Kito".

Di luar kemenangan, kebanggan "Wong Kito" tentu saja berkenaan dengan tempat pertandingan yakni Stadion Gelora Sriwijaya, Jaka Baring itu sendiri. Seperti diketahui, Stadion Gelora Sriwijaya yang berkapasitas 40.000 penonton itu merupakan stadion kebanggaan masyarakat Sumsel. Stadion ini juga merupakan stadion terbesar kedua di Indonesia setelah Stadion Gelora Bung Karno. Stadion ini juga diakui sebagai salah satu stadion terbarik bertaraf internasional.

Sebagai warga Sumsel, tentunya kita bangga memiliki stadion semegah itu. Dan yang tak kalah penting kita juga memiliki tim tangguh yang patut dibanggakan.

Pada babak semifinal nanti, Sriwijaya FC telah ditunggu Pelita Jaya Purwakarta. Adu gengsi ini rencananya akan digelar di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis mendatang. Laga semifinal lainnya Persipura Jayapura versus Persija Jakarta. So, kita doakan semoga Laskar "Wong Kito" kembali bisa memetik kemenangan.

Jumat, 04 Januari 2008

Angin Segar untuk Infotainmen


"Infotainmen Sejajar dengan Karya Jurnalistik Lain"

Berita infotainmen yang selama ini dianggap jurnalistik remeh-temeh, ternyata punya kekuatan sendiri dan sejajar dengan pemberitaan lainnya seperti politik, ekonomi, dan sosial. Bahkan, banyak kasus publik yang sering kali tidak bisa dilakukan oleh media pemberitaan lain, berita infotainmen mampu mengupas tuntas.

Media Indonesia, Jumat 4 Januari 2008

Pagi ini saya membaca sebuah berita di Harian Media Indonesia yang membuat saya sedikit terhibur. Sebuah berita tentang infotainmen. Maklum, sebagai orang yang pernah bekerja di dunia infotainmen kurang lebih 1,5 tahun (di tayangan Kroscek, Lens dan situs berita Kroscek), saat membaca berita tersebut ingatan saya tiba-tiba kembali pada masa-masa saat masih bergelut di dunia yang satu itu.

Adalah Agus Maladi Irianto, mahasiswa S3 FISIP UI Depok yang mengangkat disertasi berjudul: Kontestasi Kekuasaan Sajian Acara Televisi: Studi Tentang Program Tayangan Infotainment. Agus mempertahankan disertasinya dan mendapatkan nilai cum laude untuk penelitiannya itu.

Menurut Agus, infotainmen bukan sekedar berita remeh-temeh. Sebab, dari liputan-liputannya sering kali mampu membongkar persoalan publik, yang boleh jadi tidak mampu dilakukan oleh liputan di bidang lain.

Agus mencontohkan kasus pengakuan pengacara muda Farhat Abbas yang tidak pernah menikah dengan perempuan lain kecuali Nia Daniaty. Kasus itu akhirnya terbongkar dan muncul perempuan lain yang pernah menjadi isteri Farhat. Kasus menghebohkan dari keluarga Cendana, terkait dengan pernikahan siri Mayangsari dan Bambang Trihatmodjo yang selama ini tertutup akhirnya juga terbongkar.

Agus meyakini sajian acara yang bertarung lebih dari 15 jam itu telah melibatkan sejumlah kepentingan. Selain kepentingan televisi, juga telah merembet ke kepentingan negara menyangkut regulasi, rumah produksi, biro iklan, lembaga survei penonton, partai politik, dan organisasi kemasyarakatan yang merespons tayangan itu.

Sebagai sajian televisi, kata Agus yang dulunya wartawan Jakarta-Jakarta dan harian sore Wawasan Semarang itu, berita infotainmen mampu memporoduksi representasi realitas sosial dengan melibatkan interaksi dan negosiasi dengan sejumlah pelaku.

Begitulah kata Pak Agus Maladi Irianto.

Kamis, 03 Januari 2008

Banjir Oh Banjir


Politisi Jangan Cuma Berjanji!

Seperti biasa, Jakarta kembali “berlangganan” banjir. Hujan sedikit saja sebagian besar jalanan dan rumah penduduk sudah digenangi air. Sungguh ironis, Jakarta yang di waktu musim kemarau termasuk daerah rawan sumber air, di musim hujan malah dihadiahi air yang melimpah ruah.

Pagi kemarin, Rabu 2 Januari 2008, saya tiba di Jakarta dari Kota Bengkulu dengan menumpang bis Putra Rafflesia. Memasuki Kota Jakarta, dari mulai wilayah tol Kebun Jeruk, hujan berfrekuensi sedang sudah menyambut bis yang kami tumpangi.

Dari berita yang saya lihat di televisi, ternyata hujan memang sudah mulai melanda ibukota sejak beberapa hari yang lalu. Dan benar saja, beberapa titik langganan banjir seperti sebagian wilayah Kampung Melayu, Jatinegara, Cawang dan Cililitan seperti tahun yang sudah-sudah harus rela didatangi tamu yang tak diundang.

Apa penyebab banjir? Ada banyak. Tapi tentu tidak bisa sepenuhnya menyalahkan masyarakat, misalnya, yang mempunyai kebiasaan membuang sampai sembarangan di got dan sungai-sungai. Dalam hal ini, menurut saya, semua pihak harus bertanggung jawab menjaga lingkungan tetap bersih.

Namun sudah sewajarnya pula bila pihak yang paling disorot dari masalah banjir yang seperti tidak pernah selesai ini adalah pemerintah. Ada banyak hal mengapa banyak yang menuntut pertanggung jawaban pemerintah terhadap persoalan ini.

Pertama, soal penegakan hukum aparat pemerintah (kepolisian, departemen terkait dan lembaga peradilan) terhadap pelaku penebangan hutan (illegal logging) yang seperti menegakkan benang basah. Kedua, pemerintah tidak punya konsep yang jelas bagaimana menciptakan dan membangun infrastruktur kota yang bebas banjir. Sejauh ini pemerintah beralasan terkendala persoalan dana.

Apapun, sudah sewajarnya bila pemerintah membuka mata terhadap persoalan ini. Apalagi Gubernur yang sekarang, Bapak Fauzi Bowo, seingat saya pada waktu kampanye dahulu pernah berjanji bisa mengatasi banjir apabila ia terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012. Waktu itu jargon yang diusung Fauzi Bowo bunyinya begini: “Persoalan Banjir, Serahkan pada Ahlinya!” Jadi wajar kalau sekarang masyarakat bertanya, kemanakah gerangan ahlinya?

Tentu terlalu cepat untuk menagih janji itu mengingat untuk mengatasi persoalan banjir bukanlah perkara mudah. Namun, setidaknya ini menjadi ukuran ternyata mengatasi banjir tak bisa selesai hanya dengan bicara. Mari sama-sama kita berbuat tanpa harus menunggu janji pemerintah.

Rabu, 02 Januari 2008

Tahun Baru Harus Ada Perubahan yang Lebih Baik


Kuingin Ada Perubahan Penghasilan yang Lebih Baik, Setuju!

Detik-detik pergantian tahun baru telah kita lewati. Betulkah kita menginginkan ada perubahan (resolusi) yang signifikan di tahun baru ini? Tapi bagaimana mungkin bisa ada perubahan yang lebih baik bila kita tidak segera berbenah, merencanakan, bekerja keras merealisasikan keinginan tersebut?

Blogger, apa sih sebenarnya cita-cita kita “singgah” di dunia ini? Ingin mencari ketenaran? Mungkin. Ingin disegani? Hmm… Ingin kaya? Bisa jadi. Ingin membuat orang-orang di sekitar kita bahagia? Wow, sungguh mulia. Atau ingin masuk surga saat kita sudah tidak di dunia ini? Hehe…maunya!

Oya, saat masih kuliah di Bengkulu (sekitar tahun 2000), saya punya tetangga yang kata-katanya cukup berkesan di kepala saya. Tetangga saya ini, biasa, teman ngolor-ngidul saya. Waktu itu ia bertanya kepada saya apa tujuan kita hidup di dunia ini? Saya menjawab sekenaknya: Hidup kaya raya mati masuk surga! Dasar! :-)

Ada betulnya juga, kata tetangga tadi menanggapi jawaban saya. Tapi lengkapnya begini (tetangga saya pun bercerita), pertama tujuan kita hidup di dunia ini adalah ingin punya pendidikan, kalau bisa setinggi-tingginya. Kalau sudah punya pendidikan kita ingin punya pekerjaan (penghasilan). Lalu kalau sudah punya pekerjaan keinginan berlanjut ingin punya keluarga (menikah dan punya anak). Kalau yang ini juga sudah terpenuhi keinginan berlanjut ingin punya rumah sendiri. Terakhir kalau semua keinginan itu telah terpenuhi, kelak kalau kita mati, kita ingin masuk surga!

Kalau dipikir-pikir sih betul juga apa yang dikatakan tetangga saya itu. Istilahnya itu tujuan mendasar (prinsipil) hampir setiap orang di muka bumi ini (kalau bisa): punya pendidikan, punya pekerjaan tetap, punya keluarga, punya rumah sendiri dan, kalau mati, ingin masuk surga.

Di luar tujuan tadi? Itu hak setiap orang untuk meraihnya. Menyangkut apa yang dikatakan tetangga saya itu, mungkin saat ini ada yang masih menjalani tujuan tadi dari awal, ada pula yang sudah separuh bisa menempuhnya, bahkan ada yang hampir di ujung tujuan tadi alias yang sudah serba punya dan tinggal menuju tujuan akhir yaitu mati masuk surga hehehe…

Blogger, apa pun persepsi kita tentang tujuan hidup di dunia ini, tetaplah berbuat yang terbaik, berbuat yang benar, tidak melanggar aturan dan merugikan pihak lain. Tetaplah bersemangat dan yakin bahwa apa yang kita cita-citakan akan bisa kita raih dengan kerja keras dan doa yang sungguh-sungguh. Keep the fight!

Salam manis… :-D

Selasa, 18 Desember 2007

Selamat Tahun Baru 2008



Pulang Kampung Ah…

Senin kemarin, kami mendapat surat edaran dari bigbos. Isinya membuat semua merasa senang berseri-seri: cuti bersama dari tanggal 20 Desember sampai tanggal 2 Januari. Wah, benar-benar berita baik.

Saat membaca surat edaran yang dinanti-nanti itu, pun saat sebelumnya saya telah mendengar kasak-kusuk soal cuti bersama ini, dalam kepalaku sudah terbayang kampung halaman. That’s right, saya memutuskan untuk pulang kampung sajalah. Insya Allah dalam waktu dekat ini saya luncur ke kampung halaman saya, Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang. Ikutikutikut... :-P

Bukan apa-apa, selain senang--mudah-mudahan--bisa kumpul bersama keluarga lagi, momentum pulang kampung kali ini bisa dikatakan putaran episode kedua dari “terbukanya” isi kepala ini mengenai dunia wirausaha (UKM maksudnya). Momen pulang kampung kali ini akan kumanfaatkan untuk menindaklanjuti angan-angan saya mengenai dunia yang satu itu.

Oyah, di penghujung Desember 2007 ini, di kalender tertera tanggal yang manis-manis dan cantik-cantik (maksudnya banyak tanggal merahnya). Mulai Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Tanggal merah, bagi mereka yang biasa terjebak pada rutinitas kantoran merupakan tanggal yang dinanti-nantikan alias tanggal keramat. Yang lebih menggembirakan, penghujung tahun 2007 ini sebagian institusi seperti PNS menerapkan cuti bersama untuk karyawannya. Asik yah…

Khusus untuk tahun baru, saya yakin banyak yang sudah punya rencana-rencana spesial. Saya ucapkan selamat menyambut Tahun Baru 2008 dengan tenang dan damai. Semoga tahun 2007 menjadi tahun kenangan indah, dan tahun 2008 adalah tahun harapan yang jauh lebih indah. HappY nEW YeAR!!! :-D

IKLAN NIH ...

Senin, 17 Desember 2007

Mengapa Kita Harus Berkurban


Nilai Sosial Idul Qurban

Ibadah kurban hakikatnya adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, sikap mementingkan diri sendiri, rakus dan sikap serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kesetiakawanan sosial.

Sungguh saya sangat beruntung dilahirkan sudah beragama Islam. Entah bagaimana ceritanya kalau, seumpama yah, saya dilahirkan dari keluarga yang non muslim. Saya tidak yakin orang seperti saya bisa memiliki kecerdasan spiritual yang tajam sehingga saya tercerahkan dengan kesadaran sendiri (menjadi muallaf). Hehe bukan saya under-estimate pada diri sendiri loh...

Islam, bagi saya yang awam ini, benar-benar menjadi penuntun jalan hidup yang sangat mulia. Tentu saja kalau tuntunan Rasul dijalankan dengan sebenar-benarnya seperti sholat lima waktu, puasa, zakat, syukur-syukur bisa berhaji ke tanah suci. Itu tuntunannya, pelaksanaannya? Wah itu mah dikembalikan ke diri kita masing-masing.

Seperti agama-agama lain, Islam juga mengenal hari-hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, Isra Mi’raj, Maulid Nabi dan Tahun Baru Islam. Berkaitan dengan hari besar ini, sebentar lagi umat muslim di seluruh dunia akan merayakan Idul Adha 1428 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 20 Desember 2007.

Setiap ritual yang ada dalam Islam, kalau kita cermati, ternyata mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Lagi-lagi, ini dari kacamata orang awam loh. Contoh misalnya sholat, kalau kita menjalankannya dengan keikhlasan, ternyata sholat bisa menjadi rambu-rambu kita mencegah perbuatan munkar. Dari sisi kesehatan? Tak sedikit yang telah merasakan manfaat dari gerakan sholat bagi kebugaran tubuh. Bahkan ada loh yang telah membuktikan sendiri, ternyata sholat bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Kalau mau diurai satu demi satu makna-makna dari tuntunan Islam yang lainnya, lagi-lagi dari kacamata orang awam loh, tentunya akan sangat panjang sekali, guys... Nah, kebetulan sebentar lagi umat Islam akan merayakan Idul Adha 1428 Hijriah. Tentunya, bagi umat muslim sendiri, sedikit banyak sudah tahu pesan apa yang terkandung dari ibadah kurban ini.

Berdasarkan sejarah yang tertulis di Al-Quran, ibadah kurban sendiri diambil dari sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putra satu-satunya, Ismail AS. Namun, saat keimanan dan keikhlasan Nabi Ibrahim AS telah ditunjukkan, dengan kebesarannya Allah mengganti Ismail AS dengan seekor domba.

Dari kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS itulah, penyembelihan hewan kurban yang rutin dilaksanakan umat Islam hakikatnya, menurut beberapa ustadz yang saya sering dengar ceramahnya, tidak lebih dari bentuk ibadah yang meniscayakan arti pentingya kesetiakawanan sosial dan wujud ketakwaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Hal tersebut terlihat jelas dari pesan dalam kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS, dan diperkuat firman Allah dalam Alquran: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS Al-Kautsar:1-2).

Ibadah kurban, menurut ustad lagi, hakikatnya adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, sikap mementingkan diri sendiri, rakus dan sikap serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kesetiakawanan sosial.

Selamat Idul Adha 1428 Hijriah. Semoga kita bisa memaknai ibadah kurban lebih dalam lagi dari sekedar yang dituliskan di sini. Maaf kalau ada salah-salah yah...

zwani.com myspace graphic comments
Myspace Islam Comments

Jumat, 14 Desember 2007

Haruskah Seumur Hidup Jadi Orang Gajian?


Kata Orang Pintar sih Jangan Mau

"Kehidupan Anda hari ini adalah hasil dari cara berfikir Anda kemarin. Kehidupan Anda besok akan ditentukan oleh apa yang Anda pikirkan hari ini.”

Valentino Dinsi, penulis buku “Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian

Suatu hari, ketika saya (secara tak sengaja) berada di sebuah toko buku terkenal di Jakarta, ada sebuah buku yang cukup menggelitik tersempil di antara buku-buku lainnya. Dari judulnya saja sudah sangat menggugah rasa ingin tahu setiap yang membaca. Judulnya, menurutku, sangat amat provokatif banget: ”Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian” hmm

Jujur, daku tidak sampai hati eh, tidak sampai habis maksudnya, membaca buku setebal 315 halaman yang termasuk best seller itu. Maklum, namanya juga baca di tempat alias numpang alias nebeng, jadi bacanya tidak terlalu leluasa gitu loh:-P…

Pada prinsipnya buku karya Valentino Dinsi ini tak berbeda dengan buku-buku lainnya yang bercerita mengenai prospek dunia wirausaha (entrepreneurship). Lebih spesifik buku ini memberi semangat dan menuntun pembaca, terutama Anda yang saat ini berstatus karyawan, untuk menjadi entrepreneur sejati.

Hadirin dan hadiroti yang terhormat, dalam mengarungi hidup yang penuh ombak dan kerikil ini tentunya kita punya pilihan-pilihan. Sok ateuh, asalkan pilihan tersebut membuat kita bahagia dan cara mendapatkan keuntungan itu tidak merugikan pihak lain, syukur-syukur bisa mendatangkan manfaat buat banyak orang. Nah, semua berpulang pada diri kita masing-masing, guys...

Bekerja pada pihak lain (menjadi karyawan) atau menciptakan pekerjaan sendiri (wiraswasta), tentunya juga merupakan pilihan. Sebagai sebuah pilihan, keduanya juga memiliki prospek dan resiko masing-masing. Lagi-lagi, tinggal berpulang ke kitanya, siapkah kita dengan resiko-resiko itu? Atau kita sudah terlanjur nyaman dengan apa yang kita raih saat ini, dengan hanya menjadi karyawan misalnya? Atau kita mau mencoba mengembangkan sumber penghasilan lain di luar pekerjaan tetap kita?

Sodara soda’a, di dunia ini tidak ada orang yang tidak ingin menjadi kaya secara finansial, bahkan orang sanggup melakukan perbuatan apa pun untuk menjadi kaya, termasuklah melakukan korupsi. Saya sangat sepakat sekali soda’a soda’a. Semua orang pasti memiliki keinginan dan berjuang untuk meraih impian menjadi kaya, minimal bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Namun, soda’aku yang berbahagia, bukan kapasitas saya untuk menjabarkan bagaimana menjadi kaya. Orang-orang seperti penulis buku Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian yang super-keren itu mungkin salah satu yang bisa dijadikan rujukan. Kalau kata ane sih, semua berpulang kepada diri kita masing-masing. Sedikit membuka cakrawala tentang sesuatu yang menarik minat kita, tak ada salahnya untuk dilakukan. Slow but sure, man...

Selamat merenungi dan tetap bersemangat!