Kamis, 24 Juli 2008

Bila ‘Paratidaknormal’ Ngerjain Paranormal


Ini pengalaman yang juga cukup menggelikan. Kisah yang tak seharusnya ditiru oleh mereka yang bekerja penuh dedikasi dan profesionalisme tinggi. Sebuah keusilan yang berangkat dari rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang besar.

Pengalaman ini terjadi sekitar penghujung tahun 2006 lalu. Waktu itu saya masih bekerja di dunia infotainmen sebagai reporter. Suatu hari, karena tidak tahu harus liputan kemana lagi, tiba-tiba muncul ide nyeleneh dari driver saya; wawancara dengan salah satu paranormal kondang di negeri ini! Temanya terserah, yang penting bisa ketemu dan wawancara!

Sebenarnya saya ogah. Bukan apa-apa, disamping karena tidak ada delegasi dari koordinator liputan, berurusan dengan paranormal membuat hati saya dag-dig-dug. Takut disantet dan diguna-guna coy! Mending kalo diguna-guna tambah keren, kalo diguna-guna nggak kawin-kawin? Wah bisa berabe dunk..

Singkat kata, kami mendapat konfirmasi sang paranormal bersedia diwawancara di kediamannya. Dalam perjalanan ke rumah sang paranormal ini, terus terang hati saya kebat-kebit. Saya takut si paranormal tahu kalau wawancara yang akan kami lakukan adalah wawancara main-main. Tapi syukurnya si paranormal tidak mencium gelagat kami. Hehe mungkin si paranormal udah jarang puasa Senin-Kemis jadi kesaktiannya menurun drastis kali yah:-D

Sesampainya di rumah si paranormal, kami disambut oleh dua orang penjaga berseragam kepolisian dan seorang berseragam hitam-hitam. Setelah menyebut maksud dan tujuan, kami pun diantar masuk ke dalam. Luar biasa rumah si paranormal ini. Arsitekturnya seperti istana raja-raja jaman Majapahit kali. Mungkin cukup itu kelunya. Yang jelas, kalau ditaksir dalam bentuk rupiah kediaman si paranormal ini sekitar Rp5 milyar lebih. Belum lagi dua mobil mewah yang terparkir di garasi di salah satu sudut bangunan.

Sungguh menakjubkan profesi paranormal di negeri ini yah? Pejabat eselon I, bahkan menteri mungkin jarang yang memiliki kekayaan seperti si paranormal. Kecuali, kalau si pejabat melakukan korupsi. So, ada yang berniat menjadi paranormal? Sayangnya, tidak ada akademi khusus atau perguruan tinggi keparanormalan ya?:-(

Persis di pekarangan rumah, kami bertemu dengan si paranormal yang saat itu lagi asyik bermain catur dengan temannya. Si paranormal menyambut kedatangan kami dengan senang hati. Seperti paranormal pada umumnya, ia mengenakan pakaian serba hitam. Kalau diperhatikan, mungkin lebih mirip dandanan para seniman yang lebih suka seadanya dan seenaknya.

Setelah berbasa-basi, kami lalu diajak masuk ke dalam istana sang paranormal. Ufffss, sampai di sini dulu yah. Soalnya butuh tenaga ekstra untuk melanjutkan kisah yang dramatis ini:-P

Jumat, 11 Juli 2008

Telepon Seluler


Memiliki HP, dewasa ini bukanlah hal yang luar biasa. Tukang parkir, tukang sayur, bahkan pemulung sudah ada yang memiliki HP. Saya jadi ingat waktu saya baru memiliki HP sendiri.

Pada waktu duduk di bangku SLTP kelas 3, sekitar tahun 1995, saya ingat di rumah orangtua saya baru pasang telepon rumah. Pada waktu itu, telepon rumah termasuk benda yang cukup prestisius. Bisa dibilang, hanya mereka yang berada dari kalangan menengah ke atas saja yang bisa memiliki perangkat ini (tentu saja untuk ukuran orang kampung).

Sebagai remaja yang baru tumbuh alias ABG, saya senang sekali. Dalam pergaulan dengan teman-teman sekolah, otomatis gengsi saya sedikit bertambah. Saya pun benar-benar memanfaatkan sarana milik orangtua ini untuk keperluan halo-halo dengan teman-teman. Sudah barang tentu saya gunakan juga untuk keperluan merayu cewek-cewek haha…

Seiring berjalannya waktu, memiliki telepon rumah sudah dianggap biasa. Memasuki tahun 2000 ponsel alias telepon seluler alias HP mulai menjadi barang yang “wah”! Di tahun ini, selain orang-orang berkantong tebal, tidak semua orang bisa memilikinya.

Saya hanya bisa terkagum-kagum bila melihat ada orang yang menenteng HP. Mengetahui harganya yang cukup mahal ketika itu, memegangnya pun saya tidak berani, meski hanya sekedar memegang dalam mimpi.

Tahun 2004 saya pun akhirnya merasakan memiliki HP sendiri. HP pertama yang saya miliki Nokia. Saya lupa tipenya. HP berbodi bongsor ini tentu saja saya beli dalam kondisi seken, mungkin juga sudah dalam kondisi seventeen. Soal fitur jangan ditanya, bisa telepon dan SMS saja sudah merupakan kebanggaan tersendiri yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Seperti pada telepon rumah, memiliki HP juga membuat saya senang bukan main. Meski kenyataannya masih kere, menenteng HP membuat saya serasa menjadi eksekutif muda. Lucunya, berbulan-bulan setelah itu, hampir tidak ada yang menelepon, selain sesekali saja ada yang SMS. Maklum waktu itu orang yang punya HP masih sedikit, dan perang tarif murah juga belum segencar sekarang (relasi situ aja kalee yang masih kurang banyak dan kurang berbobot!?).

Saya pun tak kehilangan akal. Untuk menambah “prestise” saya di muka orang-orang, saya menyetting HP butut saya yang masih suka nge-drop itu dengan settingan alarm yang bunyinya saya sesuaikan dengan panggilan masuk. Pas saya lagi sama teman-teman, lagi di bis kota, terminal atau lagi di pasar sekalipun (hanya di kamar mandi saja yang nggak) HP saya bunyi. Karena sudah tahu itu cuma settingan, saya pun pasang aksi seolah-olah itu telepon masuk dari seseorang. Jadilah, saya terlihat seperti orang yang penting sendiri hahaha...

Begitulah, pengalaman yang cukup malu-maluin ini. Terkadang benda bisa membuat kita mabuk kepayang juga yah… Ternyata!!??:-P

Rabu, 09 Juli 2008

Orang Pintar Belum Tentu Bijaksana


Orang pintar minum tolak angin. Begitu bunyi sebuah iklan jamu yang terkenal. Namanya juga iklan tidak ada yang tidak wajar di jingle iklan tersebut. So?

Waktu masih bekerja di kantor B (tidak usah disebut kantor apa dan di mana), saya mempunyai bos yang hampir sebagian besar karyawannya tidak menyukai sepak terjangnya. Berbagai julukan jelek disematkan kepada si bos. Bagaimana tidak, gaya kepemimpinannya arogan, emosional dan sering menganggap bawahan sebelah mata.

Bos yang satu ini sangat jeli soal melihat kesalahan bawahannya, namun sering kali menutup mata ketika ada bawahan yang berprestasi dan menguntungkan perusahaan. Dan sudah bisa ditebak tidak ada mekanisme reward dalam kepemimpinannya yang pongah kecuali: punishment, punishment and punishment! Sadis bener…?

Di kantor C saya juga menemukan bos yang wataknya tidak terlalu berbeda dengan bos di kantor B. Malah mungkin lebih parah. Bos yang satu ini sangat gemar menjatuhkan orang lain di hadapan banyak orang, namun ketika ‘kesalahan’-nya disentil sedikit saja, dia bereaksi seperti orang yang kebakaran jenggot. Bahasa kelas pinggirnya dia ini (mungkin) tipe orang yang pandai menjilat ke atas dan gemar menendang ke bawah. Hmm..cukup horor!

Dulu di kantor A saya juga punya bos yang sangat down to earth kepada bawahan. Istilah jaman sekarang bos gaul. Tapi sayang ketika sudah bersinggungan dengan fullus, dia berlaku tidak fair. Ia, dengan alasan yang dibuat-buat, mengatur pembagian “jatah” yang lebih menguntungkan pribadinya. Setelah itu, sudah bisa dipastikan semua yang pernah merasakan sepak terjangnya akhirnya mundur teratur. Ogah bekerja sama lagi dengan si bos.

Dari ketiga bos di atas, secara intelegensi, mereka ini bisa dibilang orang-orang pintar. Kalau tidak pintar mana mungkin mereka bisa menduduki posisi yang strategis di tempatnya masing-masing. Pengalaman ini membuat mata saya terbuka: Orang pintar belum tentu bijaksana. Itu saja pesannya. Salam hangat!

Senin, 07 Juli 2008

Jumat, 04 Juli 2008

Ayo 'Nge-Blog'!!!


Jangan Takut Dibilang Narsis

Kandidat Presiden Amerika Barack Obama bukanlah seorang narsisme. Seperti saya, ia orang yang pintar dan kreatif:-( Ia sadar betul memanfaatkan kekuatan situs atau blog pribadi untuk meraih simpati calon pemilih. Jadi, jangan sungkan memanfatkan blog seperti sohib saya si Barack itu:-D

Secara terminologi, narsis atau narsisme adalah sebutan untuk orang yang senang membangga-banggakan diri, orang yang senang memuji-muji kehebatannya sendiri, blablabla.. Sialnya, para blogger sering dikait-kaitkan dengan predikat ini. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang narsis. Ringkasnya, blog sering dikonotasikan sebagai media orang-orang narsis. Sadis yah!?

Padahal Barack Obama, di luar kemampuannya memikat calon pemilih yang amat rasional di dunia nyata, telah membuktikan sendiri kehebatan menjadi seorang blogger. Melalui situs pribadinya, Obama mampu mendulang simpati lebih banyak dari pesaingnya, Hillary Clinton, pada saat konvensi partai (lihat situs www.barackobama.com atau www.my.barackobama.com).

Selain Obama, tokoh lain yang memanfaatkan blog untuk kampanye adalah Presiden Perancis Nicolas Sarkozy. Lalu ada Perdana Menteri China When Jiabou, yang tidak cukup terkenal di dunia nyata (lokal) namun begitu populer di dunia maya (global). Sama dengan Obama, kedua tokoh ini tidak harus malu menyatakan diri sebagai blogger yang mengelola dan memelihara situs pribadinya secara rutin. Mereka juga tidak sungkan memajang foto-foto koleksi pribadi di Facebook dan menjawab testi-testi dari para pengunjung.

Selain kemampuan menarik simpati di dunia nyata, dampak memiliki blog ternyata sangat luar biasa. Sebagai contoh, sebuah artikel yang ditulis Pepih Nugraha di Harian Kompas belum lama ini menyebut, pada 6 Juni 2008, pendukung Obama di Facebook baru 864.832 netter. Belum sampai dua minggu, pendukungnya sudah 1 juta! Demikian pula di Twitter, pada 17 Juni pendukungnya 998.901, yang apabila dihitung-hitung ada 135 pendukung baru setiap 20 menitnya.

Berkah nge-blog juga dialami Wen Jiabou. Berkat usahanya mengkapling ”ruangan” di Facebook, plus berkat kepedulian dan kehadirannya mengunjungi korban gempa bumi Sichuan, popularitasnya sebagai politisi meningkat dengan menduduki 10 besar politisi dunia. Meski tidak sefantastis Obama di urutan pertama yang menggaet lebih dari 1 juta pendukung, Wen didukung 20.136 netter.

Di negeri sendiri, fenomena figur masyarakat nge-blog juga sudah mulai terlihat, meski persentasenya sangat kecil. Tercatat artis Sandra Dewi yang baru-baru ini meluncurkan blog pribadi, lalu ada Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dan politisi yang juga berlatar belakang artis, Angelina Sondakh, yang sudah sejak lama memiliki situs pribadi.

Jadi, sangat naif bila masih ada anggapan yang mengatakan blog adalah medianya orang-orang narsissshhh...

Selasa, 20 Mei 2008

From ‘Singgefou’ To Minangkabau


Pesawat 'Delay' dan Kelalaian Karena Belanja

Dengan memanfaatkan fasilitas wireless gratis yang disediakan pihak hotel, saya buka juga blog kesayangan yang sudah lama tidak di-posting ini…

Pagi ini, saya dan teman-teman kantor, plus bos rupanya, tiba di Bandara Internasional Minangkabau sekitar pukul setengah sepuluh. Dari Bandara Soekarno Hatta, sebenarnya kami berangkat dengan penerbangan pertama Garuda pukul 06.05 WIB, namun pesawat delay hingga satu jam lamanya. Oya, kami datang ke Minangkabau untuk keperluan pekerjaan. Selebihnya, biasa, jalan-jalan hehe…

Saat menulis catatan ini, saya sedang duduk sendiri di Lobi Hotel Pangeran Beach, Kota Padang, tempat kami rencananya menginap sampai hari Minggu, 25 Mei 2008. Di lobi hotel, tadinya saya berdua teman saya Agung, yang asyik menjeprat-jepret obyek yang tak jelas. Tapi kemudian dia memutuskan untuk istirahat di kamar. Payah emang dia:-P.

Sepeninggal teman saya itu, saya bingung apa yang harus saya lakukan, sementara untuk istirahat di kamar hotel saya sungkan:-(. Saya juga sudah sempat buka-buka email melalui laptop yang saya bawa dari kantor. Dengan memanfaatkan fasilitas wireless gratis yang disediakan pihak hotel, saya buka juga blog kesayangan yang sudah lama tidak diposting ini. Akhirnya saya putuskan untuk menulis artikel untuk blog sajalah. Lagian saya ingat komplen beberapa teman saya soal blog saya yang belakangan jarang diposting artikel baru. Hehe rupanya masih ada juga yang care sama blog saya ini:-)

Tapi apa yah yang akan saya tulis? Soal Ranah Minang nan Rancak Bana? Wah belum banyak yang saya ketahui karena hari-hari yang kami lewati di sini juga belum banyak. Belum banyak cerita untuk diceritakan selain masakan Ikan Bakar di sebuah restoran lesehan, di salah satu sudut kota yang kami cicipi tadi siang. Belum banyak. Jadi saya belum bisa bercerita banyak tentang nagari yang indah ini.

Paling saya mau menyentil sedikit soal lawatan kami, ciee,,, saya dan teman-teman kantor maksudnya, eh, bos juga rupanya, beberapa hari lalu ke Negeri Singa Air Putih, Singapura.

Sebenarnya, sebelum tiba di Kota Padang ini, kami pun juga ada pekerjaan kantor di Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) selama enam hari dari tanggal 11-16 Mei 2008. Di Batam kami menginap di Hotel Holiday Inn di daerah Marina pesisir. Oya, jauh sebelumnya, teman-teman sudah kasak-kusuk untuk memanfaatkan kesempatan tersebut untuk juga mengunjungi Singapura yang dari Kota Batam tinggal menyebrang naek fery. Ah sudahlah, tak ada salahnya juga saya sesekali berleye-leye mencicipi negara tetangga hehe…

Jumat pagi, 16 Mei 2008, kami akhirnya menyebrang dari Pelabuhan Batam Centre ke Pelabuhan Harbourfront Singapura. Perjalanan menggunakan fery menempuh waktu sekitar 50 menit. Untuk menyebrang setiap orang harus membeli karcis seharga Rp90 ribu, dan pajak fiscal Rp500 ribu per orang.

Dari Harbourfront, yang terhubung dengan stasiun kereta api bawah tanah yang supercanggih itu, kami menuju Orchard Road, yang merupakan salah satu tempat teramai di kota transit ini. Atas saran seorang teman, kami memutuskan menginap di Apartemen Lucky Plaza di Orchard, yang kebetulan bersebelahan dengan Mount Elizabeth Hospital.

Oya, rupanya salah satu apartemen yang kami sewa, dikelola orang Indonesia yang berasal dari Pontianak. Apartemen di sini juga banyak yang disulap menjadi kamar seperti kost-kostan yang disewakan murah-meriah bagi turis berkantong seadanya seperti kami:-) ini. Kami mengambil empat kamar yang satu kamarnya seharga Sing. $60 atau sekitar Rp420.000 per malam.

Keesokan harinya, Sabtu 17 Mei 2008, tentunya setelah puas berkeliling dan belanja di Takasimaya, Bugis Junction, dan entah apalagi nama toko dan mal yang sudah kami jelajahi, serta Lucky Plaza tentunya, kami kembali ke Pulau Batam untuk mengejar penerbangan Garuda pukul 16.05 WIB. Tapi karena kelalaian sendiri, karena terlalu asyik belanja bareng ibu-ibu itu, kami harus mengundurkan kepulangan kami hingga keesokan harinya dari Bandara Internasional Hang Nadim Batam hoho…

Huh, sangat menyesal kami tidak sempat mengunjungi Patung Singa Air Marlion, di daerah City Hall, yang merupakan lambang dari negeri Lee Kuan Yew ini. Ini semua, setidaknya, gara-gara ibu-ibu yang keukeh lebih mementingkan urusan belanja ketimbang mengunjungi tempat-tempat eksotik di sana.

Makanya bu, kalau belanja inga-inga dong. Lagian ngapain jauh-jauh belanja mahal-mahal ke sana toh di Mangga Dua dan Tanah Abang jauh lebih murah. Dan itung-itung cinta produk dalam negeri yah nggak?

Yo weslah. Hari ini, Selasa, 20 Mei 2008, tepat dua hari setelah lawatan kami ke Batam-Singapura-Jakarta, dan kami sudah berada di Nagari Minangkabau. Dan teman saya si Agung itu, yang tadinya dia sudah turun dari kamar ketika artikel ini baru setengah jadi, eh dia sudah masuk ke kamar hotel lagi. Katanya dia mau pergi keliling Kota Padang naik angkot, tapi ia mau ganti celana pendek dulu katanya. Mungkin biar dikira turis beneran kali:-D

Senin, 17 Maret 2008

Film Ayat Ayat Cinta


Si Ucok pun Tak Tahan untuk Tidak Menangis

Pada saat ke Bogor seminggu sebelumnya, saya janjian ketemu seseorang di Bogor Trade Mall untuk nonton Ayat Ayat Cinta (AAC). Namun sayang tiket pada jam pertunjukan yang kami inginkan telah habis terjual sehingga hari itu kami urung nonton.

Sabtu pagi tanggal 15 Maret 2008. Saya dan sohib baru saya, Mifta Pohan alias si Ucok, bertemu seorang sahabat yang saya kenal ketika saya masih bekerja di dunia infotainment. Sahabat saya ini, seorang reporter, bernama Barata. Kami menemuinya untuk sebuah urusan di kantornya, Indigo, di daerah Cilandak, Jakarta Selatan.

Sehabis bertamu ke Kantor Indigo, rupanya si Ucok (yang juga merupakan adik kandung artis Annisa Pohan itu), benar-benar menepati janjinya mengajak saya nonton AAC yang diangkat dari novel fenomenal berjudul sama karya Ust. Habiburrahman El Shirazy. Setelah menimbang-nimbang, si Ucok memutuskan mengarahkan kemudinya ke Pondok Indah Mall (PIM) 1. Sebagai orang yang diajak, saya mah nurut aja ateuh

Singkat kata, sehabis makan di salah satu restoran PIM 1, kami nonton AAC pada jam pertunjukan 14.00 WIB. Luar biasa, setelah sekitar dua minggu diputar serentak di seluruh bioskop Indonesia jaringan 21, penonton AAC tetap saja berjubel! Untung kami sudah pesan tiket satu jam sebelum pertunjukan dimulai, sehingga kami tidak perlu bersusah payah antri seperti yang lain. Hmm

Oya, setelah sebelumnya tuntas membaca novel AAC, saya memang kurang begitu yakin versi layar lebarnya akan sebagus novelnya. Dari kacamata seorang yang awam di dunia perfilman, saya memiliki beberapa catatan khusus soal film ini. Mudah-mudahan bisa menjadi masukan bagi pihak yang terkait (produser, penulis skenario, sutradara dll.) yang kabarnya juga bakal mengulang kesuksesan film AAC dengan mengangkat cerita dari novel-novel karya Kang Abik lainnya.

Pertama, menurut saya, film berdurasi sekitar 120 menit ini terlalu mengedepankan romantisme hubungan pria-wanita (meski dibingkai dalam perspektif etika pergaulan dan poligami dalam Islam), ketimbang mengeskplorasi tema lain seperti indahnya toleransi yang diajarkan dalam Islam, yang di dalam novel digambarkan hubungan bertetangga antara Fahri Cs. dan keluarga Maria Girgis yang menganut Kristen Koptik. Dalam film, saya tidak melihat adegan-adegan saat Fahri Cs. (sebelum Fahri menikah dengan Aisha), diajak makan bersama keluarga Maria di sebuah restoran elit di Mesir. Saya juga tidak melihat fragmen saat Fahri memberi kejutan berupa kado ultah kepada Madam Nahed (ibunya Maria), dan Yousef (adik Maria) sebagai bentuk toleransi yang ditunjukkan Fahri. Tadinya saya berharap ada adegan yang menggambarkan betapa senangnya Madam Nahed saat mendapat surprise dari Fahri.

Bila saja pembuat film ini jeli, menurut saya fragmen seperti ini sangat penting ditampilkan untuk menambah kekuatan cerita. Ini juga menjadi benang merah yang menjadi alasan dan jawaban penonton mengapa Madam Nahed alias si Nyonya Boutros harus rela dan tanpa keragu-raguan menerima Fahri sebagai menantunya, meskipun niat Fahri memperistri Maria semata-mata untuk menuruti keinginan istrinya, Aisha dan untuk menolong Maria dari kondisi komanya (disamping untuk menyelamatkan Fahri dari tuduhan pemerkosaan oleh Noura). Pembuat film nyatanya lebih tertarik menitikberatkan bentuk toleransi Fahri kepada Maria secara individu, bukan kepada keluarganya secara keseluruhan.

Kedua, saya kurang begitu sreg dengan pilihan yang jatuh pada Zaskia Adya Mecca yang memerankan Noura, si gadis teraniaya anak si Muka Dingin Bahadur. Bukan karena akting Zaskia, tapi lebih karena kurang matching-nya wajah dan karakter seorang Zaskia dengan karakter seorang Noura yang bengis dan pendendam. Seharusnya pembuat film ini bisa menggiring emosi penonton untuk membenci karakter Noura. Tapi karena si imut Zaskia yang memerankan Noura, agaknya penonton seperti saya agak susah untuk memiliki perasaan seperti itu. Jadi intinya, tampang Zaskia yang imut dan sangat Melayu itu tidak cocok memerankan Noura yang berdarah Arab dan memiliki sifat bengis. Saya lebih sreg kalau Zaskia memerankan tokoh Nurul (diperankan Melanie Putria), si gadis patah hati anak pemilik salah satu pesantren dari Indonesia.

Di luar itu, saya pikir secara keseluruhan film ini sudah lumayan bagus. AAC adalah film yang menurut saya paling berbobot dibanding film-film Indonesia lainnya yang pernah saya tonton. Tema poligami dan romantisme hubungan pria-wanita (dalam perspektif Islam) yang menjadi daya tarik utama film ini, begitu indah ditampilkan secara visual oleh sang sutradara Hanung Bramantyo. Meski katanya, dari sisi pengambilan gambar hampir seluruhnya tidak dilakukan di Mesir. Begitu pula dengan pesan (message) keislamannya, disampaikan sangat wajar dan terkesan tidak dipaksakan. Seperti adegan saat Maria, si Gadis Koptik yang Aneh, membacakan surah Mariyam di hadapan Fahri dalam sebuah bus, adegan pembelaan yang dilakukan Fahri kepada Alicia dan Aisha di dalam metro, atau adegan tallaqi Fahri kepada Syaikh Utsman Abdul Fattah.

Jarang sebuah film bisa menghipnotis seseorang hingga berderai-derai seperti yang terjadi pada sohib saya si Ucok Pohan. Sehabis nonton si Ucok mengaku kepada saya dari mulai pertengahan film (saat Maria dan Nurul digambarkan tercabik-cabik perasaannya mengetahui Fahri menikah dengan Aisha, lalu serangkaian tuduhan keji yang dialamatkan kepada Fahri, atau saat Maria di ujung hayatnya meminta menjadi makmum bersama Aisha yang diimami sang suami Fahri, hingga antiklimaks saat Fahri bahagia bersama Aisha), si Ucok mengaku ia tak kuasa menitikkan airmata! Apalagi manakala kejadian-kejadian menyayat hati itu diiringi lantunan nan syahdu penyanyi Rossa dari album Ayat Ayat Cinta, atau suara serak Ust. Jeffry Al Buchori yang menyenandungkan Istighfar. Hehe tak sangka saya, si Ucok yang berbadan tinggi besar dan bermuka agak sedikit garang itu, luluh juga hatinya menonton film ini:-P. Cok, cok, cemen kali kau!

Saya sendiri? Hehe meski tak separah si Ucok rasanya sulit melupakan begitu saja esensi dari film ini. Kalau saja saya dalam posisi Fahri, saya juga rasanya sulit menolak dua hati seperti Aisha dan Maria:-P. Yang jelas, semisal saya dalam posisi Fahri yah, saya akan belajar dan berusaha untuk mendekati adil, meski kata si Saiful, teman satu kostnya Fahri, sangat tidak mungkin menerapkan konsep adil dalam perkara poligami:-). Wallahualam.