Jumat, 05 Oktober 2007

Superman Never Die

Ingin Jadi Superhero? Gampang!

Ingin jadi seorang superhero yang sebenarnya? Gampang. Ga perlu jauh-jauh dan mahal. Di Indonesia ada seorang ibu-ibu tua yang bisa melahirkan superhero-superhero yang sesungguhnya. Siapakah dia?

Pada saat membuat karikatur Superman, sambil tertawa-tawa sendiri karena lucu sendiri, aku terkenang saat masih kecil dahulu. Waktu itu, aku termasuk penggemar berat serial tivi Superman loh. Hampir tidak pernah kulewatkan serial yang satu ini. Dalam benakku, terkagum-kagum betapa hebat dan gagahnya sosok Superman itu.

Bertahun-tahun setelah itu, tokoh rekaan dari DC Comics karya seniman Kanada, Joe Shuster dan penulis AS Jerry Siegel pada tahun 1932 itu, tetap hidup dan melegenda hingga sekarang. Mengiringi kesuksesan The Man of Steel, kini bermunculan pula tokoh-tokoh yang nggak kalah oke lainnya seperti Batman, Spiderman, Catwomen, Wonderwomen dll.

So and the so, kapan yah tokoh-tokoh superhero kita seperti Lutung Kasarung, Gatot Kaca, Si Buta dari Goa Hantu, Jaka Sembung, Jaka Tarub, Samson Betawi, Suparman, Suparmin, truz ada Mak Lampir, Mak Erot, Nyi Blorong… Eh, emak-emak dan nyi-nyi masuk nggak yah superhero made in Indonesia?

Hmm…sepertinya kalau Mak Lampir dan Nyi Blorong patut dipertanyakan kredibilitasnya. Tapi kalau Mak Erot? Wah, cocok sekali menyandang julukan superhero yang sebenarnya. Lah kok bisa? Ya iyalah, karena dia bisa membantu ribuan lelaki menjadi ‘superhero’ yang tadinya superloyo. :-D

Jadi, ketimbang mengagumi tokoh rekaan asal luar, rasanya lebih bermakna kalau kita mengagumi superhero kita sendiri seperti Mak Erot itu. ;-P

Duh Infotainmen

Infotainmen Cermin Wajah Bangsa-kah?

Sedikit catatan dari orang yang pernah merasakan bekerja sebagai pewarta infotainmen. Sekedar curahan pendapat, bukan untuk mengecilkan arti sebuah upaya. Tak ada masalah, masalahnya justru terletak pada masalah itu sendiri. Bingung kan? "Bo, ini kan infotainmen…"

Bekerja di dunia infotainmen membuatku banyak belajar dan belajar banyak. Lebih satu setengah tahun (Agustus - Nopember 2005 dan dilanjutkan Mei 2006 - Juli 2007) aku merasakan pengalaman cukup mengesankan selama bekerja sebagai reporter di sebuah production house (PH) yang memproduksi tayangan Lens-JakTV, Kroscek-TransTV dan situs Krosceknews.com. Keseharian pekerjaanku tak jauh-jauh dari dunia keartisan yang, jujur saja, banyaklah menyimpan kepalsuan (geto lohh).

Kepalsuan yang kumaksud berkenaan dengan pola kehidupan artis--tapi tidak semuanya juga loh--yang serba glamour dan cenderung tidak memiliki empati pada keseharian rakyat kita yang serba susah, juga dipenuhi retorika yang, meminjam istilah Tukul "Katro" Arwana-narsis tralala, dengan statemen-statemen yang (lagi-lagi kebanyakan loh)-dangkal dan tidak penting amat gitu loh.

Bo, namanya juga infotainmen? :-P

Terkadang lagi, materi pertanyaan cenderung menjungkirbalikkan logika keilmuan seorang reporter (oya, rata-rata pewarta infotainmen pendidikannya Strata Satu loh). Bayangkan kita bertanya tentang hal yang tidak sebanding dengan kompetensi seperti: “Berapa kali Anda pacaran”, “Berapa kali Anda diputusin”, “Anda sekarang lagi jalan ama siapa”, “Mengapa Anda bercerai”, “Kapan kamu menstruasi pertama kali”, “Mengapa kamu senang anjing” blablabla… Ya ampun, sungguh, anak kecil pun kalau cuma seperti itu bisa juga dong.

Tapi memang, tak bisa dipungkiri predikat artis, menurutku, adalah sebuah kapital. Beruntunglah bagi mereka yang berpredikat sebagai artis. Mereka adalah ‘barang dagangan’ yang super-ekslusif, mahal dan bisa menaikkan promosi suatu produk. Tak salah bila untuk menjadi seorang artis atau selebritis, orang bisa mengorbankan segalanya. Tak terkecuali kehormatan dan rasa malu (masa sih?).

Jurnalisme infotainmen sendiri, yang kabarnya menjadi anak tiri PWI, rupanya tanggap dengan fenomena ini. Sejak kebangkitan era televisi swasta tahun 1996, infotainmen bermunculan bak jamur di musim hujan di hampir setiap televisi swasta. Bayangkan, setidaknya kita punya 12 stasiun televisi swasta. Bila rata-rata setiap televisi memiliki 4 acara infotainmen, berarti ada 48 infotainmen di Indonesia. “Jangan salah, ini menyumbang lapangan pekerjaan yang tidak kecil,” kata seorang saudagar pemilik infotainmen mencoba menakar dampak positifnya, saat heboh kontroversi tayangan infotainmen belum lama ini.

Terlepas itu, masyarakat memang mengapresiasi dengan baik beragam acara infotainmen itu. Terbukti--meski pernah difatwakan haram oleh NU untuk pemberitaan yang mempergunjingkan terlalu dalam rumah tangga orang lain--infotainmen tidak pernah surut dari masa ke masa. Bahkan bisa menandingi rating program acara berita di televisi. Sudah pasti, media yang banyak peminatnya mendatangkan fulus berupa pemasangan iklan. Buah karya para jurnalis infotainmen, diganjar dengan omzet miliaran rupiah. Tapi bukan milik para pekerja loh.

Jurnalisme infotainmen tergolong baru. Hal ini muncul justru disebabkan efek ikutan dari apa yang disukai massa. Bicara massa, dalam perspektif dunia pemasaran, adalah uang. Fakta ini tak terbantahkan. Uniknya, infotainmen tidak mementingkan apa inti pembicaraan. Pembicaraan yang terkesan dungu sekali pun bukanlah sebuah masalah. Tak penting apa yang mereka katakan, tetapi siapa yang mengatakan apa. Ujung-ujungnya tak jelas, siapa yang melayani siapa dan untuk apa (sebenarnya).

Bo, ini kan infotainmen…?

Nyambungnya lagi, artis mengapresiasi infotainmen dengan sukacita. Bahkan ada--sebagian loh--yang mencari-cari masalah untuk digosipkan supaya menjadi bahan perbincangan. Catet, ini tak berlaku bagi artis yang terkenal atau pun tidak. Sama saja. Sedikit kepalsuan untuk menaikkan nilai jual tak apalah, meski kehidupan pribadi dikunyah-kunyah oleh khalayak. Promosi gratis untuk menaikkan pamor geto lohh…

Simbiosis mutualisme pun melanggengkan hubungan ini. Tapi benarkah itu menguntungkan artis dan pekerja infotainmen? Kalau dipikir, sebenarnya, bukan keuntungan pekerjanya, melainkan para saudagar-saudagar pemilik infotainmen dan televisi itu loh. Tidak sama sekali masyarakat. Tidak sama sekali selain waktu yang terbunuh secara manis dengan menikmati tingkah pola para artis yang dibungkus dalam balutan karya jurnalistik. Mereka menyebutnya “hiburan”. Tapi benarkah?

****
Jujur kacang ijo, sudah lama aku ingin hengkang dari dunia yang satu itu. Namun karena keadaan dan belum ada pekerjaan yang benar-benar cocok, akhirnya aku tetap bertahan dengan hati yang setengah terpaksa (kesian yah?). Betapa perihnya digosipin, tapi tahukah Anda, betapa perih juga jadi tukang gosip hehe…

Bo, namanya juga infotainmen.

Pada prinsipnya, bukan cara mencari beritanya yang aku tidak suka. Untuk bahan pembelajaran mengasah kemampuan jurnalistik, sebenarnya bekerja di dunia infotainmen tidak ada yang salah, bahkan cenderung dianjurkan. Teknik-teknik pelaporan yang diterapkan tak berbeda jauh dengan news-broadcasting dan media cetak populer. Bahkan tak hanya mengandalkan pakem jurnalistik 5W+1H, tetapi juga seni mengemas berita menjadi investigative reporting, narrative reporting dengan sentuhan sastra yang memukau (kata lain dari puitis) hehe….

Yup, terlepas dari ketidaknyaman bekerja di dunia infotainmen--terutama yang dimiliki PH--semisal soal pembagian ranah waktu yang terlalu ekstrem, dan juga sistem bekerja yang belum ada keberpihakan kepada kelas pekerja, infotainmen--lagi-lagi bukan cara mencari beritanya--sungguhlah sebuah pekerjaan yang apa yah? Buah simalakama? Entahlah...

Bo,,,

Udah ah! Bo, bo, mulu emang kebo ;-P? Salam takzim.

Jembatan Selat Sunda


Proyek Prestisius itu Bernama Jembatan Selat Sunda

Rabu, 4 Oktober 2007, Pemda Lampung dan Pemda Banten, bersama rekanan mereka dari Artha Graha Network, menandatangani nota perjanjian pelaksanaan prastudi kelayakan pembangunan jembatan Selat Sunda sepanjang 29 kilometer yang diperkirakan menelan dana Rp. 100 trilyun.

Model konstruksi jembatan yang akan menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera itu kemungkinan besar adalah tipe suspensi. Seperti diketahui, salah satu kendala pembangunan di tengah laut adalah adanya palung laut sedalam 200 meter dengan panjang 2,5 kilometer.

Rencananya di atas jembatan juga akan dibangun jalur kereta api Trans-Jawa-Sumatera. Studi kelayakan akan dilakukan selama 2 tahun. Apabila dinyatakan layak, baru pada tahun 2012 pembangunan jembatan Selat Sunda bisa dimulai.

Selain dapat menimbulkan multi-flier effect dari sisi ekonomi dan budaya bangsa, pembangunan jembatan ini tentu akan meningkatkan kebanggan (pride) kita sebagai bangsa. Namun yang menjadi pertanyaan, dari manakah sumber dana pembangunan jembatan tersebut? Serta yang tak kalah penting teknologi manakah yang akan dipakai nantinya?

Apakah, lagi-lagi, harus mengandalkan teknologi dan sumberdaya manusia dari luar? Padahal, di negeri ini, telah ditemukan sebuah teknologi baru karya anak bangsa yang bisa mengatasi problematika dunia pembangunan (fisik konstruksi) seperti persoalan kecepatan, kekuatan, termasuk persoalan gempa dan pembangunan dasar laut yang mengandung tingkat kerumitan luar biasa.

Wahai petinggi negeri, teknologi itu adalah “Teknologi Delta Qualstone” karya anak bangsa sendiri.

Kamis, 04 Oktober 2007

Cerpen "Tragedi di Sungai Musi"


Tragedi di Sungai Musi
Sebuah Cerita Pendek

Sinaps: Kisah seorang gadis desa bernama Marni yang hidup di pinggiran Sungai Musi, sungai besar yang membelah Kota Palembang. Kisah yang berakhir tragis di antara hening Sungai Musi dan gemuruh sebuah pesta rakyat: organ tunggal!

****

WANITA itu, Marni namanya, mengelus-elus rambutnya yang panjang sampai menjela bahu. Matanya yang bulat memandang keindahan Sungai Musi yang masih ditutupi kabut tipis. Pagi itu, entah pagi yang ke berapa, Marni kembali melakukan aktivitasnya.

Sepagi itu, Marni terbiasa melakukan kebiasaannya. Bangun subuh-subuh sekali untuk membantu ibunya membuat jajanan warung, mencuci, lalu mandi di sungai yang membelah Kota Palembang.

Marni membetulkan letak kain mandi yang membelit tubuhnya. Hati-hati dituntunnya kaki menuju rakit. Selesai mandi ia harus segera mengantarkan kue-kue yang dibuat ibunya, sebelum anak-anak berangkat sekolah. Dan sepagi itu, Marni hanya sendiri.

Meski dinginnya Sungai Musi bagai mencucuk tulang, bukan hambatan baginya untuk menceburkan diri ke dalam sungai. Rasa segar setelah mandi sangat terasa manfaatnya. Dari bibirnya yang mungil terdengar senandung kecil. Hitung-hitung menghibur diri dari sergapan dinginnya Sungai Musi.

Marni merasa apa yang dirasakannya merupakan rahmat dari Tuhan. Meski cuma tinggal di pinggiran kota, jarang ia dapat bercengkrama secara leluasa dengan alam. Ia pun menyadari kebiasaannya mandi pagi-pagi sekali itu, merupakan pilihan yang tepat. Tepat karena bila saja ia mandi agak siang maka sungai yang jernih itu sudah tidak asli lagi. Tangan-tangan manusia sudah mulai mencemari sungai dengan berbagai limbah dan kotoran.

Ia merasa sedih, sungai yang menjadi salah satu sandaran hidup banyak orang kini telah tercemar dimana-mana. Padahal, sungai itu sendiri dimanfaatkan oleh banyak orang untuk berbagai keperluan seperti mandi dan mencuci. Sungai juga tempat habitat banyak ikan yang bisa dimanfaatkan untuk santap sehari-hari. Tapi kini, sulit menemukan kondisi sungai yang bersih selain sepagi itu.

Marni ingat kata-kata gurunya di SMU dulu. Gurunya mengatakan kebiasaan masyarakat membuang sampah dan kotoran di sungai sulit dihilangkan karena sudah dilakukan sejak dahulu. Semacam sudah menjadi tradisi. Di samping memang karena berbagai faktor seperti kemiskinan dan kurangnya pemahaman masyarakat akan budaya hidup bersih. Toh, meski berbagai macam alasan, Marni tetap tak habis pikir dengan kebiasaan masyarakatnya yang kurang sehat itu.

Satu kali Marni pernah membaca artikel di sebuah koran lokal tentang budaya dan perilaku masyarakat di luar negeri. Sungai-sungai di sana benar-benar dimanfaatkan untuk kesejahteraan dan kenyamanan warganya. Selain dijadikan air baku untuk air minum, sungai di luar negeri juga dikelola sebagai tempat wisata. Hukum pun benar-benar ditegakkan bagi mereka yang mencemari sungai. Ujung-ujungnya, dengan pengelolaan yang baik tak hanya pemerintahnya yang senang, warga pun merasakan manfaatnya.

Tak mau berlama-lama dengan pikirannya, Marni segera saja menyelesaikan mandinya membasuh tubuh dengan sabun wangi. Tak hanya itu, berendam lama-lama nanti bukannya menyegarkan malah mendatangkan penyakit.

Marni mengangkat tubuhnya yang basah ke atas rakit di pinggir sungai. Agak kaget ia melihat orang yang datang. Orang itu tak lain Zainal, lelaki yang di kampungnya dikenal dengan julukan si hidung belang. Maklum, sudah punya anak isteri tetapi gemar menggoda anak gadis orang. Tiba-tiba perasaan Marni jadi tidak enak. Terlebih dengan sepinya suasana pagi itu.

“Selamat pagi manis,” ujar Zainal, bibirnya menyungging sebuah senyuman nakal.

Marni segera menyadari keadaan dirinya. Kain mandinya yang basah benar-benar seperti mencetak lekuk-lekuk tubuhnya yang molek. Gadis itu tidak ingin keadaanya itu menimbulkan pikiran-pikiran jorok dalam diri lelaki itu.

“Aduh sombongnya. Sendirian saja ya?“ kembali suara si lelaki terdengar, seolah ingin secepatnya minta ditanggapi.

Marni hanya melempar senyum kecut sekedar membalas sapaan orang. Dia lalu bergegas meninggalkan tempat itu. Entah, ia tiba-tiba merasa risih. Apalagi sambil berlalu tadi masih sempat dilihatnya pandangan liar lelaki itu yang seolah hendak menelannya.
****

Hari demi hari dilewati Marni seperti biasa. Bangun pagi-pagi sekali untuk membantu ibunya, lalu merasakan nikmatnya belaian air sungai yang menyejukkan.

Nun di tempat lain, tanpa disadari si gadis, sepasang mata liar milik Zainal selalu mengawasi gerak-geriknya. Hati lelaki berusia 35 tahun itu rupaya telah tertambat dengan kemolekan tubuh Marni. Timbul pikiran-pikiran jorok dalam diri Zainal.

Kepala Zainal pusing. Dan jawaban dari semua itu adalah Marni.
****

Malam itu bulan sepertinya sedang menunjukkan pesonanya. Marni bukannya tak menyadari itu. Dari tadi ia bersenandung riang di teras rumahnya sembari menikmati bulan yang malam itu begitu sempurna.

Puas menikmati pemandangan malam, Marni lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia kini asyik mematut diri di depan cermin. Sendiri.


Marni sering mendengar pujian dari orang lain mengenai dirinya. Mereka bilang ia gadis yang cantik dan rajin membantu orang tua. Jujur saja, Marni bukannya tidak bangga dengan segala macam pujian itu. Hatinya berbunga.

Ia bersyukur atas anugrah yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Sebisanya Marni memelihara kecantikannya dengan menjalani hidup bersih dan sehat. Itu saja rahasianya.

Sebagai kembang desa, Marni sering dicap sombong oleh banyak lelaki lantaran menolak cinta ataupun pinangan mereka. Padahal, ia hanya mencoba bersikap jujur kepada para pemuda itu. Ia sudah memiliki tambatan hati. Seorang pemuda baik hati yang kini sedang bekerja di Malaysia. Seorang TKI. Bagaimana mungkin ia mengkhianati cinta kekasihnya?

Dua tahun lalu, sebelum kekasihnya berangkat ke Negeri Jiran, mereka telah berikrar untuk menjaga cinta suci mereka. Sepulangnya nanti, sang kekasih telah berjanji untuk menyunting dirinya sebagai isteri.

“Sepulangnya Abang nanti, Abang janji akan melamar Marni,” begitu janji sang kekasih.

Teringat kata-kata itu Marni jadi tersenyum sendiri. Seketika rindu menyergap dirinya. Kalau sudah begitu, foto sang kekasih di sudut kamar menjadi pelabuhan berbagai rasa yang membuncah hatinya.

Berada dalam suasana rindu berat, membuat Marni terkaget tatkala mendengar ketukan pintu kamarnya. Pasti sahabatnya Tika, pikir Marni. Malam itu, mereka memang sudah janji menonton orgen tunggal di ujung kampung.

Sebenarnya Marni merasa sungkan mengingat acara seperti itu bukanlah acara yang baik untuk gadis seperti mereka. Tapi karena desakan sahabatnya, Marni akhirnya tidak bisa menolak. Apalagi mereka sudah sepakat untuk tidak berlama-lama di sana. Tak apalah, hitung-hitung sebagai hiburan dari pada terus-terusan disiksa rindu pada sang kekasih.
****

Selesai berdandan seadanya, Marni lalu pamit pada orang tuanya. Ibunya wanti-wanti agar ia jangan terlalu larut pulang dari sana. Mereka berangkat dari rumah sekitar pukul 20.30.

Setibanya di sana acara resmi ternyata baru saja dimulai. Marni dan Tika dipersilahkan duduk di kursi undangan yang masih kosong. Di atas panggung, terdengar kata sambutan bernada basa-basi dari ahli rumah. Lelaki yang menyampaikan pidato seadanya itu mengungkapkan acara itu diadakan dalam rangka syukuran atau selamatan salah satu keluarga yang baru saja dilantik sebagai anggota Bintara Polri. Seluruh keluarga malam itu tampak sukacita, termasuk si polisi muda yang duduk paling depan di kursi undangan. Marni mengenal pria muda itu. Seorang sahabat kecilnya yang pernah menyatakan cinta kepadanya.

Setelah acara resmi selesai, acara berlanjut ke acara hiburan. Acara yang paling banyak dinanti. Seorang biduanita membuka acara hiburan dengan nomor-nomor lagu pilihannya. Suara musik dangdut sontak membahana. Seorang lelaki tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan lagak seorang jawara ia menyawer sang biduan yang berpakaian dan bersuara seksi.

Marni mengenal orang yang menyawer si biduan. Ia tak lain si lelaki hidung belang Zainal. Dari atas panggung mata lelaki itu mengerling ke arahnya. Dari tadi rupanya Zainal memperhatikan kehadiran Marni di acara tersebut. Dan Marni bukannya tak memperhatikan hal itu.

Belum pukul sepuluh Marni lalu mengajak Tika pulang. Ia jengah berada di tempat seperti itu. Apalagi dilihatnya orang-orang banyak yang mabuk. Belum lagi pandangan jalang si Zainal. Lengkap alasannya untuk lekas-lekas pulang ke rumah.
****

Dalam perjalanan pulang, Tika tiba-tiba bertemu Tono, pacarnya. Karena rumahnya sudah tidak terlalu jauh, dan lagi Marni tidak mau mengganggu pasangan yang sedang dimabuk asmara itu, ia lalu memutuskan pulang sendiri. Dan, justru di sinilah petaka itu dimulai.

Marni tak menyadari sepasang mata membuntutinya sejak ia dan Tika memutuskan pulang. Mata itu merah. Bau alkohol tercium dari mulutnya yang menyunggingkan seringai. Terlebih saat mengetahui Marni kini sendirian.

Kejadian itu begitu cepat. Ketika melewati pengkolan jalan gang rumahnya yang memang agak gelap, Marni merasakan tangan kekar mendekapnya dari belakang. Dia mau berteriak minta tolong, tetapi mulutnya sudah disumpal orang dengan sapu tangan. Hidungnya mencium bau sesuatu yang begitu menyengat. Entah bau apa, seperti bau obat. Napas gadis malang itu megap-megap. Sejurus kemudian ia sudah tidak sadar lagi apa yang telah terjadi atas dirinya.
****

Lelaki itu menatap mangsanya yang tergolek tak berdaya di semak-semak pinggir sungai. Bibirnya mengumbar seulas seringai kemenangan. Napasnya turun naik dikuasai hawa nafsu dan alkohol. Tanpa tunggu lebih lama si lelaki menggagahi tubuh Marni yang tergolek tak berdaya. Tidak cukup hanya satu kali, gadis malang yang belum lagi sadar dari pingsannya itu diperkosa berulang kali.

Malam itu, di pinggir Sungai Musi yang beriak kecil telah terjadi peristiwa kebiadaban anak manusia. Tak begitu jauh dari sana, penduduk mulai ramai menabuh kentongan tanda terjadi sesuatu yang tidak beres. Yah, sesuatu yang tidak beres malam itu adalah raibnya seorang gadis yang beberapa saat lalu habis menonton acara organ tunggal di kampung itu.

Dan malam itu serasa lebih panjang bagi para penduduk, terutama keluarga si gadis yang tak lain adalah Marni. Mereka sibuk mencari Marni ke sana kemari.

Keesokan harinya, saat sinar matahari mulai menerpa wajahnya, Marni tiba-tiba tersadar dari pingsannya. Yang pertama kali dirasakan gadis itu adalah perih di bagian bawah tubuhnya. Dilihatnya pakaian yang ia kenakan berserakan di mana-mana.

Menyadari apa yang telah menimpa dirinya, Marni menjerit sekuat yang bisa dilakukannya. Beberapa orang penduduk yang mendengar jeritan gadis malang itu tergopoh-gopoh mencari sumber suara.

Mereka menemukan seorang gadis yang sedang menangis di atas perahu yang tertambat di tepian Sungai Musi. Ya Tuhan, gadis itu Marni. Gadis yang tadi malam dikabarkan hilang setelah menyaksikan acara pesta organ tunggal!

Dimuat di Harian Sriwijaya Post Minggu, 19 Januari 2003

Banyak Belajar dari Kesulitan


Bermain Kolecer Jadi Kegiatan yang Menyenangkan
Catatan perjalanan Teknologi Delta Qualstone di Leuwiliang-Bogor ***3


Hidup adalah sebuah proses. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan. Tapi kita punya keyakinan. Dan keyakinan itulah yang membuat kami bertahan meski dalam kondisi sesulit apapun. Catatan ini kurangkum dari tanggal 14 Maret-14 April 2006 --(sebelum membaca tulisan ini disarankan untuk membaca "Sang Mpu Pergi Meninggalkan Kami" -bagian tiga dari tiga tulisan).

* * * *
Sebuah Renungan

Catatanku kali ini kuawali dengan sebuah pertanyaan besar. Mungkin. Di setiap sudut pandang individu, yang kebanyakan masyarakat dalam wilayah persinggahan orang-orang Delta. Juga orang-orang di sekitar Delta, sahabat, bahkan tak sedikit dari anggota keluarga, yang menurutku belum sepenuhnya memahami arti perjalanan ini. Mengapa orang-orang seperti kami, yang dintaranya memiliki potensi di bidangnya masing-masing, rela “menyia-nyiakan” waktu demi sesuatu yang belum tampak hasilnya. Bahkan bagi yang sudah berkeluarga, sanggup meninggalkan anak dan istri hingga berbulan-bulan lamanya. Sungguh. Semua itu rela ditinggalkan. Ada Apa dengan Kita?

Tak bisa kujelaskan secara gambalang. Tapi, sebelum pertanyaan-pertanyaan di atas coba kujawab, aku ingin mengingatkan tentang karakter masyarakat kita pada umumnya, yang pada galibnya telah kita mafhumi bersama. Tapi ini bukan untuk sok tahu. Cuma untuk menyegarkan ingatan kita bahwa telah menjadi kultur masyarakat kita bahwa sesuatu terkadang lebih berat dinilai dari sudut pandang penghasilan (income) yang diperoleh seseorang. Jamak kita tahu bahwa keberhasilan lebih dilihat dari seberapa besar seseorang punya sesuatu secara materi. Kasarnya ia punya penghasilan pasti dari pekerjaan yang dilakoni. Apakah pegawai negeri, swasta, anggota DPR, pedagang, tukang parkir, satpam dan sebagainya. Umumnya semua jenis pekerjaan tersebut secara penghasilan punya limit waktu berjangka: harian, mingguan, dwi-mingguan atau bulanan.

Logika bekerja dan mendapat penghasilan seperti ini adalah sangat masuk akal dan tidak ada yang bisa membantahnya. Inilah yang selama berpuluh-puluh tahun telah menjadi semacam ‘nilai’ yang terpola dengan begitu presisinya. Mungkin salah, bisa juga benar, itulah pendapatku. Toh semua itu dikembalikan kepada pribadi masing-masing.

Lalu, adakah hubungannya pendapat di atas dengan pekerjaan yang kami lakukan? Ada saja. Karena tak sedikit dari kami (angggota Delta Qualstone Grup), yang karena keterlibatan dan konsekuensi yang harus diterima seringkali dianggap individu yang tidak punya pertimbangan, tidak perhitungan, egois, bahkan tak sedikit yang dianggap sudah gila. Walah! Lagi-lagi pendapat seperti ini kuanggap wajar. Mungkin karena mereka belum sepenuhnya memahami. Atau mungkin mereka melihat dari kacamata pekerja kebanyakan, yang bekerja langsung dapat uang.

Benar bahwa hidup memang harus dihadapkan pada persoalan keseharian seperti makan, kontrakan, listrik, air, punya rumah sendiri, kondangan, pendidikan atau pergi berlibur kemana kek: Taman Safari, Gunung Leuser atau ke Ujung Kulon. Tak melulu soal akan seperti apa hidup kita lima atau sepuluh tahun ke depan, meski hanya sedikit yang berpikir jauh seperti ini. Boro-boro mau memikirkan kapan kira-kira utang Negara ini bisa dilunasi? Serta apa yang bisa dilakukan untuk memberikan sesuatu yang berarti bagi kemajuan bangsa dan Negara. Minimal bisa menjadi yang terbaik buat diri sendiri dan keluarga saja, rasanya sudah cukup. Tapi sebentar. Bisakah kita berubah dari apa yang kita pikirkan hari ini? Tentu bisa.

Ada lagi sebuah pendapat yang mengungkapkan fakta berikut ini. Tanpa disadari kebanyakan dari kita, mungkin juga penulis sendiri, masih terobsesi dengan paham ‘pekerja-isme’ warisan kaum penjajah. Mental pekerja memang lebih baik dari mental pemalas. Tapi mungkin pesannya bukan itu. Sepatutnya kita memang harus berkaca dari Negara yang sudah lebih maju dari kita. Kita patut prihatin dengan para pemimpin kita yang tak pernah beres membawa bangsa ini menjadi lebih baik. Hasil yang paling terlihat dari pemimpin kita setelah maupun ketika masih menjabat adalah menggelembungnya pundi-pundi kekayaan. Bukan kesuksesan mereka membawa amanah yang dipikul. Bayangkan, era reformasi yang sebentar lagi akan memasuki usia 10 tahun, belum juga mampu mengikis budaya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita, dan terutama para pemimpin kita masih larut dalam eufhoria mencari kestabilan diri, pribadi dan keluarga sendiri. Parahnya, kebobrokan mental pemimpin, diperparah dengan rendahnya kesadaran yang dipimpin untuk bangkit dan maju tanpa harus menunggu berkah para pemimpin (pemerintah). Begitulah kondisinya. Memang sedikit yang mau bersusah, dan meyakini sesuatu meski harus dimulai dari kondisi nol dan tanpa arti apa-apa. Entah, mungkin karena hanya sedikit yang berjiwa pelopor dan pendobrak pakem. Makanya, kata orang-orang pintar, bangsa ini sulit untuk maju bukan karena kemiskinan sumberdaya alamnya, tetapi lebih kepada miskinnya sumber daya manusianya. Coba, logika manakah dipakai saat kita menjual bahan baku seperti kulit, karet, tembaga, besi, timah dan sebagainya, yang kita ekspor ke luar negeri, justru yang kembali ke kita adalah barang-barang siap pakai dari negara-negara yang membeli hasil bumi kita. Ironis kan? Sumberdaya melimpah, tapi tidak diimbangi dengan daya saing di bidang sumberdaya manusianya.

Sekedar membongkar kembali kesuksesan perjalanan orang-orang hebat, bolehlah kita mengulik kisah-kisah tentang kesuksesan anak masnusia di muka bumi ini. Bukankah, kisah-kisah orang besar selalu dipenuhi berbagai romantisme, kontradiksi, intervensi, resistensi, yang semuanya menjadi pengiring setia berabad-abad lamanya. Bagi yang tak kuat tentu akan tersingkir dan ditelan masa. Bagi yang memiliki keyakinan dan ketekunan hebat akan memetik buah yang dicita-citakan. Bahkan sejarah akan mengenangnya dengan tinta emas. Kisah kerasulan Nabi Muhammad SAW yang diiringi kebencian dan penolakan bahkan dari keluarga dan kaumnya sendiri, pun kisah keilmuan Albert Einstein yang dianggap gila oleh masyarakatnya, atau kisah sukses raksasa bisnis software dunia Bill Gates, yang menjadi milyuner di usia yang belum 30 tahun. Toh semua itu tidak selalu melewati jalan-jalan mulus. Selalu dipenuhi liku, dibanjiri keringat dan berbagai macam rintangan, bahkan tak sedikit harus dibayar mahal dengan darah dan air mata. Hikmah yang mungkin bisa dipetik adalah spririt juang dan pelajaran ketahanan mental yang luar biasa demi mencapai apa yang telah menjadi keyakinan pribadi.

Kembali mengenai pertanyaan besar di awal pembahasan ini. Apa gerangan yang membuat orang-orang Delta begitu yakin, hingga harus tahan menderita, menghadapi konsekuensi yang sering dianggap tidak logis dan sia-sia? Bagi kami, tentu alasannya tak sekedar dari hitungan mate-matis. Banyak hal yang membuat kami merasa yakin akan teknologi yang kami perjuangkan. Tapi kembali lagi, bila parameternya dari hitungan mate-matis, kami juga tak bisa menampiknya. Toh, terkadang tak selamanya keyakinan tumbuh dan berkembang hanya dari satu aspek alasan.

Meski belum dibakukan secara formil, telah terpikirkan ide untuk membentuk Keluarga Besar Basma (KBB), sebagai wadah kesatuan orang-orang yang telah berjasa dan berandil bagian terhadap pengembangan Teknologi Delta Qualstone. Soal bagaimana teknis pengaturan dan pembagian peran nanti, tentu hanya orang-orang tertentulah yang mempunyai hak untuk mengaturnya. Yang jelas sudah lebih dari 100 orang yang telah melibatkan diri untuk turut membangun cita-cita Teknologi Delta Qualstone.

Dalam konsepnya, KBB direncanakan merupakan pusat kebijakan pengelolaan dan kepemilikan lisensi Teknologi Delta Qualstone atau TDQ. TDQ adalah sebuah temuan teknologi baru di bidang fisik konstruksi ter-mutakhir yang ditemukan oleh putra terbaik bangsa. Teknologi ini dikembangkan secara bisnis dengan sistem lisensi waralaba dengan pasar dunia seperti halnya CFC, KFC, McDonald, Donkin Donuts, bahkan acara televisi paling popular di tahun 2005 seperti Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol dikembangkan dengan sistem serupa. Tentu, jika kita berbicara income sebuah Negara asal pemilik lisensi yang baru segelintir disebutkan itu, bayangkan berapa juta dolar uang Negara miskin seperti Indonesia, yang seharusnya digunakan untuk pembangunan mengalir bak air bah ke Negara-negara asal lisensi yang dibeli tersebut.

Tapi kita patut bersyukur, di tengah keringnya kreatifitas di bidang keilmuan, kini di negeri ini telah hadir sebuah temuan teknologi terbaru, yakni Teknologi Delta Qualstone yang mulai memperkenalkan dan menyiapkan bisnis waralaba untuk pengembangan dan pemasaran produk yang memang digali dari kekayaan bumi Indonesia. Bila rata-rata bisnis lisensi bergerak dalam bidang makanan dan entertainmen sudah sedemikian hebatnya, bayangkan betapa dahsyat sebuah bisnis berbasis teknologi yang memang menjadi dasar kebutuhan pokok manusia yaitu tempat tinggal, dikembangkan pula dengan sistem waralaba?

Jadi, saat kubaca kembali proposal penawaran investasi TDQ dengan bunyi kalimat: “Kami berani dan dengan bangga menampilkan produk teknologi andalan Indonesia yang bisa menaikkan harga diri bangsa di mata dunia internasional. Kami punya keyakinan bahwa melalui perwujudan teknologi inilah akan dibangun infrastruktur perekonomian Indonesia. Seluruh mega-proyek pembangunan TDQ mengarahkan visi dan misi ke depannya disesuaikan dan sejalan dengan orientasi dan tujuan pembangunan nasional (going concern concept). KBB-TDQ siap menjadikan Indonesia sebagai pusat distributor lisensi dan franchise produk TDQ untuk pasar global. Dari penjualan sistem lisensi beserta multi flier effect yang ditimbulkan, akan membawa Indonsia mempunyai potensi ekonomi yang tak kalah dengan negara maju di dunia.” Begitulah. Mungkin sedikit banyak ada benarnya.

Keyakinan ini semata bukan gambaran yang penuh mimpi dan mengada-ada. Bagi kami, ini merupakan gambaran yang sangat logis dilihat dari kacamata kebutuhan, keunggulan dan hitungan mate-matisnya. Sebagai ilustrasi dan analisa pasar yang kami lakukan, Indonesia membutuhkan setidaknya 200 juta pcs produk TDQ per-hari untuk pembangunan fisik konstruksi (estimasi dari perhitungan produk sejenis yang konvensional). Bila royalty franchisor (pemilik lisensi) adalah Rp. 300 per-satuan barang (pcs), maka Rp. 300x200 juta pcs = Rp. 60 milyar per-hari atau Rp. 1,56 trilyun per-bulan. Bagaimana kalau kita bicara dunia? Dari perhitungan kami, pasar dunia membutuhkan sedikitnya 5 milyar pcs produk TDQ per hari. Bila royalty fee untuk tingkat dunia adalah Rp. 1000 per pcs, maka 5 milyar x Rp. 1000 = Rp 5 trilyun per hari atau Rp. 130 trilyun pe rbulan. Kemana uang sebanyak itu mengalir? Kepada siapa lagi kalau bukan kepada franchisor. Dan tentu saja income sebesar ini akan menjadi sumbangan devisa terbear bagi negara di sektor pajak. “Dengan income sebesar itu
Indonesia bisa terbebas dari belitan utang yang mencapai Rp. 1000 trilyun, dalam waktu yang tidak terlalu lama,” begitulah kira-kira.

Logika yang agak sulit dimengerti kan? Memang semua itu sebatas di atas kertas. Lebih jauhnya, tentu harus ada riset yang lebih mendalam dan pembuktian pasar yang lebih konkret. Tapi minimal, atau setidaknya, itu yang menjadi dasar pemikiran teknologi ini. Itulah yang menjadi roh dan spirit yang tetap hidup (survive) dalam setiap jiwa mereka yang terlibat di teknologi ini. Sebuah pencapaian maksimal yang masih harus terus diperjuangkan. Yup, meski untuk itu harus melewati berbagai persoalan dan pendakian yang terjal dan beresiko tidak kecil.

Time flies like an narrow

Akan datang suatu masa ketika kegembiraan menjadi bunga dari keyakinan dan ketekunan pantang menyerah. Akan datang. Lihatlah matahari yang terbit di ufuk timur. Selalu memancarkan semangat dan tak pernah lelah “memberi” tanpa mengharapkan “menerima”. Atau lihatlah ketika bulan yang manis dengan cahayanya yang pudar namun kuat. Mereka menantikan kita berubah. Menjadi lebih baik dari hari kemarin. Itu sisi lainnya.

Ada lagi, mungkin, satu pertanyaan besar yang selalu menggelayut di benak kami, dan semuanya yang menanti dan menunggu sekuel ini adalah: kapan cita-cita besar ini bisa terealisasi? Sulit menjawabnya. Secara logika harus tidak pernah lelah bekerja dan berusaha. Tapi satu hal yang selalu kami yakini bahwa kunci dari meledaknya pekerjaan ini adalah launching perdana untuk mengenalkan teknologi ini kepada masyarakat dan kalangan investor. Nah, inilah yang sekarang sedang kami perjuangkan. Melewati segala macam cobaan dan rintangan dengan segala pernak-pernik dan beragam rasa yang ditawarkan. Wuih…

Spirit lainnya yang menjadi penyerta perjalanan ini, selain cita-cita menangajak umat selalu bersyukur kepada Sang Pencipta, adalah berhubungan dengan keunggulan TDQ secara teknik, terutama inspirasi temuan TDQ yang menurut penemunya, merupakan petikan Al-Quran yang menjadi pedoman umat Islam di seluruh jagad raya. Bahwa ada sebuah al-hadist yang berbunyi: “Barang siapa dapat mengungkap misteri tentang batu, maka akan muncul sembilan macam sumber kehidupan mahluk di muka bumi.” Ditambah magnet bangunan konstruksi pertama di dunia yaitu Kaabah di Mekkah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS. Dan juga inspirasi bangunan-bangunan candi yang banyak terdapat di Nusantara yang hingga kini, beberapa diantaranya masih berdiri kokoh. Itulah semacam mantra dan hikayat suci yang menjadi keyakinan keberadaan teknologi ini. Maski agak sulit dicerna logika, tapi begitulah adanya.

Makanya tak terlalu berlebihan bila diantara kami sering muncul angan-angan di sela-sela obrolan santai hari-hari. Banyak hal. Terutama masa depan. Dan sedikit banyak obrolan-obrolan santai tersebut telah tertuang dalam semacam AD/ART seperti mengenai prilaku, tentang bisnis, pembagian hak, pendirian perumahan keluarga dan sebagainya. Diluar itu, masih dalam obrolan oge, banyak diantara kami yang mempunyai angan-anagn memiliki sesuatu yang berupa materi dan kebendaan. Namun itu bukanlah semata-mata cita-cita utama. Materi hanyalah sedikit dari banyak aspek yang melandasi keterlibatan ini. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana upaya yang kami lakukan dapat sebanyak-banyaknya mendatangkan manfaat bagi orang banyak.

Seperti itulah kiranya, sedikit jawaban mengenai pertanyaan-pertanyaan besar, yang mungkin masih menggelayut di benak banyak orang tentang teknologi ini. Mudahan-mudahan ulasan di atas bisa memberikan sedikit gambaran. Mungkin ini cuma mimpi? Biarlah, toh kata orang-orang besar, kalau kita ingin sesuatu, bermimpilah terlebih dahulu sebelum kita benar-benar menggapai apa yang kita impikan. Tapi bagi kami, hal ini bukan sekedar mimpi, karena kami berangkat dari keyakinan yang kuat. Ibaratnya begini, seorang petani harus menanam bila ingin memanen. Bila ingin mendapatkan hasil yang terbaik maka, maka harus disertai dengan pupuk, ilmu, sedikit kenekatan, kerja keras dan pantang menyerah. Begitu kira-kira.

Oya, sebagai pelengkap catatan ini, ingin kutuliskan pula mengenai gambaran keseharian kami pada minggu-minggu terakhir ini. Makin banyak tantangannya. Lagi-lagi hal yang paling utama adalah persoalan dengan Pak Gandhi, investor kami. Terutama soal rencana-rencana awal seperti yang tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) yang jauh dari harapan. Juga soal biaya hidup kami di Leuwiliang yang telah dikurangi. Padahal, untuk ukuran 10 orang, uang yang dikirm Pak Gandhi sangatlah tidak mencukupi. Terpaksa kami, lagi-lagi harus mengencangkan ikat pinggang. Tapi itu tadi, terjadinya rasionalisasi di bidang anggaran, membuat bon di warung bertambah bengkak. Ya ampun. Malahan di minggu-minggu terakhir, bon di warung sudah mencapai nominal yang paling tinggi, selama riwayat ngutang kami di sini, hampir Rp 2 juta!

Tentu saja, kondisi ini menjadikan pekerjaan kami terasa lebih berat, terutama bagi teman kami si Erick yang bertugas mengurusi pasokan kebutuhan sehari-hari. Tentu bukan sesuatu yang ringan untuk meyakinkan orang dalam kondisi yang terus-terusan meminta tenggang waktu. Tapi entah bagaimana pendeketan yang dilakukan teman kami Erick, ia selalu bisa meyakinkan Teh Lis, pemilik warung. Dan lagi-lagi untuk makan hari-hari, kami bisa diselamatkan oleh kebaikan Teh Lis, dan juga kerja keras saudara kami, si Erick. Duh, untung masih ada orang baik seperti Teh Lis yah? Kalau tidak, entah bagaimana nasib kami di Leuwliang.

Tapi pernah juga terjadi semacam ungkapan kekesalan Teh Lis. Ini wajar saja karena uang yang seharusnya bisa diputar untuk modal tertahan oleh utang yang belum kami bayar selama lebih dua minggu ini. Bukannya tidak mau membayar, karena memang kondisi kami yang tidak memungkinkan. Pernah ada satu hari si Erick tidak pergi ke warung seperti biasanya. Mana uang di saku sudah tidak tersisa. Memaksa hari itu kami memasrahkan diri dengan keadaan. Tidak ngopi pagi-pagi seperti biasanya, apalagi untuk sekedar sarapan ecek-ecek. Sempat kami berpikir, hari itu kami tidak akan menyentuh nasi. Namun Tuhan rupanya mendengar rintihan kami. Tak disangka, datang kiriman makanan dari tetangga di seberang rumah. Itu loh rumahnya bapaknya Aie, pacar salah satu teman kami yang bernama Julis alias Jo. Alhamdulillah….

Ada lagi kisah yang menyangkut pemakaian listrik. Masalahnya kami belum membayar rekening listrik selama empat bulan. Ini terjadi beberapa hari yang lewat sebelum catatan ini usai kutulis. Petugas PLN datang untuk memberitahukan masalah tunggakan yang belum dibayar, bahkan berniat akan mencabut listrik di rumah hari itu juga. Ada-ada saja jalan yang ditunjukkan oleh Yang Kuasa. Tiba-tiba Pak Haji Edi, pemilik rumah yang kami kontrak, bertamu ke rumah. Nah, kebetulan Pah Haji Edi mengenal petugas PLN yang aku lupa namanya itu. Alhamdullillah, berhubung kenal, akhirnya petugas PLN masih memberi tempo selama satu minggu dimuka. Bahkan denda-denda yang mencapai jutaan rupiah yang seharusnya kami bayar, bisa dielemimir dengan batuan Pak Haji Edi. Mungkin inlah hikmah bila kita baik dengan orang lain. Orang juga akan membalas kebaikan kita dengan faedahnya. Amin.

Banyak lagi kemudahan-kemudahan yang ditunjukkan oleh Tuhan kepada kami. Disamping perkembangan yang terus kami jajagi. Semuanya memberikan kami pelajaran dan hikmah yang luar biasa. Kisah-kisah sepele seperti ini tentu tak hendak kami lupakan begitu saja. Kami yakin Allah mendengar doa dan pinta kami. Benar bagi-Nya yang telah menjanjikan kemudahan di setiap kesulitan-kesulitan. Terima kasih ya Allah, lagi-lagi masalah kami telah Engkau ringankan.

Colling down vs hot news

Tinggal di Leuwiliang sebenarnya aku banyak beroleh inspirasi untuk kutuangkan dalam bentuk tulisan seperti ini. Salah satunya menulis cerpen yang mengisahkan pergaulan muda-mudi di daerah ini. Judulnya: “Gadis di Pematang Sawah”. Meski belum sempat kutulis. Berangkat dari kisah nyata seorang gadis desa setempat yang lugu dan (maaf) agak gelo kepada beberapa orang pemuda pendatang (ahai!). Mungkin karena sering bertemu, si gadis desa akhrinya terperangkan dalam ungkapan Jawa yang sangat terkenal itu: witing tresno jalaran suko kulino alias jatuh cinta karena seringnya bertemu, alias cinlok gitu loh…

Benar ini merupakan kisah nyata yang benar-benar nyata. Kalau kuperhatikan sih, si gadis lugu ini sebetulnya periang, gemar tertawa, tapi dari sisi gaya busana dia menganut gaya era tahun 70-an alias gaya konservatif-tradisional. Padahal usianya belum 20 tahun. Tapi yang kami salut, dia itu punya kepercayaan diri yang sangat besar. Saking tingginya malah terlalu over. Begitu, meski sering membuat kesal, tapi tak bisa dipungkiri si Dia yang pede abis ini telah memberikan cerita yang sulit kami lupakan di pengembaraan kami di sini.

Tak perlu kusebutkan namanya, takut nanti banyak yang geer dan ‘merasa’. Teman kami si Manto menyebutnya dengan panggilan si Radiator. Hahaha mungkin karena orangnya terlalu hiperaktif dan sering berputar ke sana ke mari layaknya mesin radiator kali hehe… Dia tinggal di kampung tetangga kami. Kami memang sering berinteraksi dengan pemuda-pemudi kampung tetangga yang kebetulan masih terhitung teman si Radiator juga, seperti Shanti, Yuli dan lain-lain. Singkat cerita, mungkin karena sudah bosan nge-jombloh, si Radiator naksir berat kepada beberapa teman kami di sini (karena menyangkut privasi dan dilindungi undang-undnag tak perlu kusebutkan namanya hehe). Meski harus menelan pil pahit cintanya bertepuk sebelah tangan, ternyata si Radiator bukanlah tipe wanita kebanyakan yang gampang menyerah mengejar lelaki.

Tak disangka, entah bagaimana ceritanya, ternyata aku juga merupakan sasaran terakhir dari si pengejar cinta, Radiator. Aku juga ditaksir olehnya? Padahal sudah menjadi style-nya bila ia naksir dengan seseorang maka tak pelak akan diproklamirkan layaknya sebuah kabar gembira ria. Seolah semuanya telah menjadi miliknya (hehe…abang!) Tak ayal, berita ini segera menjadi topik hangat, mengalahkan persoalan bon di warung dan odol yang sudah tiga hari ini habis. Dan tentu saja, si Radiator sangat berperan dalam memainkan isu ini. Layaknya seorang kepala desa yang mencari dukungan, ia pun tak kalah sibuk bercerita kesana kemari. Dan, semua tertawa gembira. Haha…

Sebetulnya, tak ada masalah dengan tingkah si Radiator yang agak norak itu. Malahan kami menganggapnya sebuah relaksasi. Namun yang membuat kami tak habis pikir adalah tingkahnya di pematang sawah beberapa waktu yang lalu. Si Radiator cs memang sering bermain di pamatang sawah di dekat rumah kami. Tak ada angin tak ada hujan, mungkin dia menganggap dirinya si seksi Rani Mukherje, hari itu, di tengah matahari jam 12 siang, dia tiba-tiba menari-nari layaknya sang bintang di film-film Bollywood saja.

Pada mulanya kami mendapat hiburan gratis di siang bolong. Tapi sebentar. Ya ampun, semua kami yang melihat show tunggalnya hari itu tiba-tiba terlongong-longong. Si Rani Mukherje bajakan yang masih saja menari-nari itu tiba-tiba melepaskan bajunya! Hingga hanya tinggal pakaian dalamnya saja yang tersisa! Masyalah. Wah-wah, aku yang tak menyaksikan langsung saja bisa membayangkan betapa serunya kejadian itu. Begitulah kiranya kisah yang norak ini. Mohon jangan terlalu dianggap serius. Ini cuma romantika yang menjadi pengiring di tengah kegalauan akan keseharian kami yang sempat kering. Lumayan.

Di sela-sela mengisi waktu luang, kami juga menikmati semacam mainan tradisi tahunan di daerah ini. Namanya kolecer. Terbuat dari bambu yang diraut pipih menyerupai kipas angin dengan dua mata sisi. Kalau di Jepang mungkin disebut “baling-baling bambu”. Ukurannya bermacam-macam. Dari yang kecil berukuran panjang 20 cm hingga yang berukuran 2,5 meter bahkan ada yang lebih. Kolecer ini diberi tiang penyangga dan ditegakkan di ketinggian, semacam di atas pohon. Nah ketika angin berhembus kencang, maka kolecer akan berputar sehingga menimbulkan suara yang melengking dan terkadang berirama. Bila angin yang datang tidak beraturan, maka akan terdengar bunyi seperti suara helikopter. Hampir tiap rumah di sini terdapat mainan tradisional seperti ini. Jadi bisa dibayangkan suara yang ditimbulkan dari putaran baling-baling bambu yang berputar serentak dari tiap-tiap rumah. Sungguh suatu hal yang membangkitkan imajinasi tertentu bagi yang mendengarnya. Namun terasa begitu asing bagi yang baru kali itu mendengarnya. Itulah kolecer. Biasanya mainan tradisi ini muncul tiap tahun di bulan-bulan dengan keadaan angin yang berhembus cukup kencang diantara bulan Desember hingga April.

Tak mau kalah dengan penduduk setempat, para Bujang Belantan juga ikut larut dengan permainan tradisi ini. Kami juga membuat kolecer berbagai ukuran dan dari berbagai bahan: mulai dari bambu, plastik bekas, kaleng, sampai pelepah dauh pohon kelapa dan palem yang tumbuh di dekat tempat tinggal kami. Sedikit berbeda, salah satu kolecer yang kami buat kami kreasikan dengan bebunyian kaleng bekas yang diletakkan dekat baling-baling. Kaleng ini diberi semacam tuas dari bambu yang apabila kolecer berputar secara otomatis akan menyentuh tuas yang akan menghasilkan bebunyian dari kaleng tadi. Nah, karena suaranya yang agak beda, kolecer kami yang satu ini banyak mengundang daya tarik para tetangga. Terutama ibu-ibu dan anak-anak. Mungkin mereka menganggap aneh? Kok ada ya kolecer bunyinya garing seperti bunyi kaleng diisi batu? Heheh..itu salah satu cara kami mengisi hari-hari dengan kegiatan santai.

Begitulah. Dalam hidup terkadang akan kita jumpai suatu kebiasaan yang unik. Nah bagaimana kita mengemas sesuatu yang unik menjadi sedikit berbeda, bergantung dengan kreasi yangh kita miliki. Yang terpenting harus pintar-pintar menciptakan suasana yang asik dan menyegarkan. Meski di tengah kondisi yang sangat memprihatinkan sekalipun. Ingat, tak selamanya perjuangan dinilai baik dan realistis.

Ada saja anggapan yang kurang simpatik dan bernada menyepelekan. Begitulah kira-kira sejarah kesuksesan mencatat. Kuncinya harus ber-positive thinking. Anggap semua itu sebagai cambuk yang memacu kreasi kita untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Begitu lebih bijak dan berbobot kiranya. Yakinlah bahwa roda kehidupan selalu berputar. Ibarat kolecer. Kadang diatas, kadang dibawah.

Duh kolecerku…

Kamis, 20 September 2007

Sang Mpu Pergi Meninggalkan Kami


Hari-hari Terasa Semakin Menantang
Catatan perjalanan Teknologi Delta Qualstone di Leuwiliang-Bogor **2


Jujur, kegalauan akan ketidakpastian masa depan sering menyelinap dalam benak kami. Namun saat melihat peluang yang datang, terkadang semangat itu kembali menyala-nyala. Inilah yang kami rasakan. Di saat “Sang Mpu” meninggalkan kami pulang ke Sumatera, justru prospek mendekati kami. Mr. Yuki yang berasal dari Jepang dan Ir. Ariyanto, seorang konsultan dan praktisi arsitektur yang berdomisili di Kota Bogor, di antaranya. Catatan ini kurangkum dari tanggal 14 Februari-14 Maret 2007 --(sebelum membaca tulisan ini disarankan untuk membaca “Kampung itu Bernama Kampung Kosol” terlebih dahulu-bagian dua dari tiga tulisan).

* * * *
Hari ini tepat dua bulan aku berada di tanah Banten, tepatnya di Leuwiliang, sebelah selatan Kota Bogor. Atau sekitar 46 km dari kota tempat salah satu istana kepresidenan terletak, yakni Istana Bogor. Banyak hal yang kami dapat selama kurun waktu yang lebih dari cukup untuk membuat seekor anak singa berlari dengan kecepatan 40 km/jam. Ibarat tempaan besi Sang Mpu, memang belum terlalu sempurna untuk dapat digunakan. Tapi mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, serta cobaan dan pelajaran yang kami dapat, makin hari kami makin lebih baik. Mudah-mudahan. Mungkin seperti harapan Sang Mpu.

Salah satu hikmah terbesar yang kami dapat di Leuwiliang adalah kesabaran. Kesabaran menghadapi kondisi dan keadaan yang serba memprihatinkan. Kesabaran menghadapi segala benturan permasalahan dan persoalan yang datang bagai tak berujung. Hanya kebersamaan dan keyakinan yang membuat kami bertahan. Terus memompa semangat juang serta tidak lupa menengadahkan tangan meminta kepada-Nya. Yah, hanya kepada-Nya lah tempat yang paling tepat untuk berkeluh kesah dan meminta pertolongan. Bukankah Allah SWT telah menjanjikan bahwa dibalik setiap kesulitan terdapat kemudahan? Dia bukankah tidak akan pernah merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang merubahnya. Wahai, itulah inti dari keyakinan kami di sini.

Daya tempa yang kami dapat begitu terasa setelah “Sang Mpu” meninggalkan kami semua menuju Pulau Sumatera untuk maksud yang, tentu saja hanya beliau sendiri yang tahu (telah dua bulan lamanya kami ditinggal pergi). Sejak itulah kami seolah kehilangan figur “ayah” di tengah-tengah kami. Kami bertahan seadanya, berjuang sekuat tenaga membangun mimpi-mimpi indah menjadi kenyataan tanpa beliau di sisi kami. Mungkin keadaan seperti ini memang dikondisikan, mungkin juga tidak. Mungkin keadaan ini merupakan bagian dari skenario tempaan “Sang Mpu”? Bahwa beliau menginginkan kami kuat dalam kondisi apapun. Beliau inginkan kami menjadi manusia-manusia “tahan banting” agar bisa mengemban amanah yang tidak kecil ini? Begitulah sikap positif kami menghadapi kenyataan yang agak rumit ini. Sikap positif mampu memompa semangat yang layu menjadi kencang dan berenergi. Sikap positilah yang bisa mengajarkan kita berpikir dan bertindak bijak sehingga langkah-langkah yang ditempuh melupakan yang terbaik. Insya Allah kita bisa melewati keadaan seburuk apapun dengan pikiran yang jernih dan hati yang tenang. Yup, meski semua itu terkadang dimulai dari kondisi-kondisi yang terkadang pahit dan memilukan. Itulah, lagi-lagi ujiannya.

Sehari-hari kami tetap menjalani aktifitas dengan semangat yang terus kami pelihara. Melaksanakan tanggung jawab piket di dapur, meski untuk urusan yang satu ini kami sudah dibantu oleh Alex, si cowok kemayu yang telah kami anggap seperti saudara kami sendiri. Serta tak lupa melaksanakan tugas piket mushola, begaul dengan penduduk sekitar, begadang sembari bernyanyi dengan gitar pinjaman, atau sekedar nongkrong, ngobrol ngolor-ngidul di pingggir jalan depan rumah sembari menunggu datangnya azan magrib. Oya, di Kampung Kosol kami beroleh banyak kenalan baru yang sudah kami anggap seperti saudara sendiri. Ada beberapa yang telah begitu akrab dengan kami diantaranya si Salam. Orangnya sebetulnya baik, meski agak urakan dan terkadang suka seenaknya. Dia punya sepeda motor yang sering kami pinjam pakai untuk sekedar jalan-jalan ketemu kenalan atau lihat dangdutan di desa tetangga.

Di markas Leuwiliang personil-personilnya juga tidak menentu. Efroni misalnya, terpaksa harus pulang kampung ke Pagar Alam untuk urusan mengikat janji setia dengan seorang gadis asal Surabaya. Begitupun Andi yang sudah hampir satu bulan ini mudik ke Pagar Alam. Namun yang sampai saat ini masih ‘lekap’ ada beberapa orang yaitu Wilman, Joko, Julis, Pian, Santo, Manto, Erik, Topan, Kak Agus dan aku sendiri. Ditambah pasukan ‘kelam-timbul’ seperti Madjid, Pinsi, Makmun, Bakti dan yang lainnya. Atas kesepakatan bersama, kami juga telah membentuk semacam badan usaha kepengurusan “Basma Furniture” yang dimanajeri Wilman, meski pengelolaannya belum terlalu optimal. Basma Furniture merupakan semacam embrio usaha berbasiskan Teknologi Delta Qualstone di bidang furniture beton. Yah, mungkin ide furniture beton dengan sentuhan artistik berbasiskan sebuah temuan teknologi merupakan yang pertama di dunia yang kami kembangkan. Meski baru sebatas ide yang belum sepenuhnya terealisasi, toh kami menganggapnya sebuah terobosan yang cukup prospektif di masa yang akan datang.

Oya, perlu juga diketahui personil-personil yang telah berkeluarga di sini adalah Kak Agus, Joko dan Wilman, ditambah pasukan ‘kelam timbul’ seperti Makmun, Pinsi dan Madjid. Bagi kami yang belum berkeluarga, perasaan jauh dari keluarga tentu berbeda dari mereka yang telah punya anak dan isteri. Apalagi ada tanggung jawab yang ditinggalkan. Belum lagi perasaan ingin bertemu dan mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang tercinta. Semua itu tidak bisa dipungkiri akan senantiasa menjadi bagian pikiran dan buncahan perasaan. Sungguh bukan suatu yang mudah untuk dijalani, mengingat kondisi seperti saat ini yang belum sepenuhnya bisa memberikan tanggung jawab secara materil. Alangkah beratnya menghadapi kenyataan seperti ini. Tidak mudah untuk senantiasa memelihara harapan-harapan mereka yang siang dan malam selalu dihinggapi perasaan rindu. Tidak mudah untuk meyakinkan mereka bahwa kondisi seperti saat ini tidak akan berjalan lama. Tidak mudah. Butuh kesabaran, keikhlasan dan saling pengertian yang dilandasi kepercayaan, pengertian, keyakinan dan cinta. Yah Ummi, bersabar dan ikhklaskan perjuangan ini. Tetap istiqomah dan berdoa untuk keberhasilan kita. Yakinlah Allah bersama orang-orang yang sabar. Amin.

Rumah tempat tinggal sekaligus berfungsi sebagai kantor sementara kami di Leuwiliang cukup sederhana dan lumayan nyaman buat kami. Yap, meski pada awal ditempati banyak yang harus dibenahi karena kondisi bangunannya yang cukup memprihatinkan. Rumah permanen yang mempunyai empat kamar itu tepat berada di pinggir sawah yang dari kejauhan akan terlihat pegunungan Pongkor, Bogor. Bila malam tiba kawasan dataran tinggi nun di sana akan dihiasai oleh kerlap-kerlip lampu rumah penduduk. Agak ke belakang rumah, sekitar 100 meter terdapat sebuah sungai yang benama Cinaniki yang lumayan besar dan berair jernih. Oya, di sungai ini terkadang kita akan menemui suatu pemandangan yang agak asing sekaligus mendebarkan bagi mata yang memandang loh…? Posisi rumah yang kami tempati ini juga agak menyendiri dari rumah-rumah penduduk sehingga kami bisa leluasa dan tak terlalu mikir-mikir kalau ingin bernyanyi sembari berteriak-teriak sekalipun.

Begitulah panorama alam di sini. Lumayan indah sebagai tempat bermukim. Namun sebagai tempat pengembangan dan percepatan cita-cita memang telalu jauh dari pusat kota. Apalagi saat persoalan-persoalan dengan Pak Gandhi mulai mengemuka, padahal prospek yang harus kami tangkap sangatlah banyak seperti dengan Bupati Kaur, Bengkulu Selatan, Pemkab Kutai, Mr. Yuki dari Jepang, atau dengan Pak Putu dari Bali. Kondisi ini tentu akan lebih terbuka bila kami berada di Kota Metropolitan, Jakarta yang merupakan gudangnya investor kelas kakap. Namun apa mau dikata, kondisi kami belum memungkinkan.

Meski begitu, telah banyak kemajuan yang kami dapat selama kami berada di Leuwiliang. Secara spiritual, maski sedikit, kami merasakan ruh keimanan kami yang kian bertambah. Pembacaan Surah Yasin, yang kandungan maknanya sangat luar biasa itu, hampir tak lupa kami kumandangkan setiap selesai melaksanakan sholat Magrib berjamaah. Bahkan, pernah pada malam tahun baru Islam 1427 Hijriah yang lalu, pembacaan Surah Yasin sampai tujuh kali berturut-turut kami lakukan. Itulah saat-saat yang paling syahdu yang pernah kami rasakan di Leuwiliang. Saat-saat dimana puncak kepasrahan kami sandarkan dengan sepenuh jiwa. Kami yakin setiap doa-doa yang kami panjatkan akan mendapat jawaban dari-Nya. Mungkin hari ini. Mungkin lusa. Mungkin nanti. Harus bersabar dan tetap berusaha.

Kemajuan lain yang kami rasakan berhubungan dengan pekerjaan yang kami lakukan. Seperti soal perhitungan pembiayaan proposal pabrik yang menurut kami kian matang. Penyusunan AD/ART “Keluarga Besar Basma” yang terus dibenahi. Juga rencana pendirian PT. Janur Basma Internasional sebagai badan hukum pengganti Koperasi Delta Qualstone. Gambar-gambar yang dibuat Topan pun makin banyak dan variatif. Bahkan pengembangan TDQ yang bisa membuat segala macam furniture beton yang unik seperti kursi, meja, tempat tidur dan sebagainya, dimulai dari otak-atik gambar di komputer. Belum lagi perkembangan di lapangan yang berhubungan dengan calon investor baru.

Pada umumnya respon mengenai TDQ sangat besar dan positif. Misalnya, hari Selasa, 7 Maret 2006, aku, Kak Agus dan Madjid berangkat ke Jakarta menemui staf ahli Pemkab Kutai di Hotel Radtop Jakarta. Walaupun dari Bogor ke Jakarta kami harus menumpang KRL kelas ekonomi (tarifnya Rp. 2500/orang) yang penuh sesak manusia, namun tak membuat kendur semangat kami. Semua pasti ada hikmah yang tanpa disadari bisa melatih kepekaan kita akan lingkungan sekitar dan kenyataan yang terkadang memprihatinkan. Terakhir pada hari Sabtu, 18 Maret 2006 kami kedatangan tamu Mr. Yuki dan beberapa koleganya dari Jepang. Mr. Yuki ini adalah kontraktor kakap yang akan membangun sebuah rumah sakit di Jakarta. Mr. Yuki adalah kolega dari Ir. Ariyanto, seorang konsultan di bidang pembangunan dan praktisi arsitektur yang berdomisili di Kota Bogor. Beliaulah yang membawa Mr. Yuki hingga menjejakkan kaki di markas para Bujang Belantan di Leuwiliang nan terpencil ini.

Oya, tentang Ir. Ariyanto ini ada sesuatu yang unik yang mungkin bisa menjadi penggambaran betapa Teknologi Delta Qualstone memiliki daya magnet yang luar biasa. Ir. Ariyanto ini merupakan kenalan dan pernah menjadi mitra bisnis Pak Kancil dalam bidang perkapalan. Sebelum mengenal TDQ, Ir. Ariyanto telah lebih kurang 10 tahun mempelajari dan mencoba mengembangkan sebuah teknologi di bidang produk bahan bangunan yang berasal dari Spanyol. Sudah tak terhitung biaya yang ia keluarkan untuk mengembangkan teknologi tersebut. Teknologi Spanyol ini menggunakan styrofoam untuk bekisting (mal) sebagai pasangan coran dinding yang pengerjaannya juga sangat cepat. Namun teknologi Spanyol ini mempunyai banyak kelemahan seperti tidak tahan api, tidak efektif karena dari sisi pemasangan harus menggunakan alat khusus dan orang yang memasangnya pun harus ahli. Serta dari sisi pemanfaatan bahan baku yang harus impor.

Jadi kami menduga mungkin hal inilah yang menjadi faktor penghambat mengapa teknologi Spanyol yang coba dikembangkan Ir. Ariyanto di Indonesia kurang mendapat respon positif. Nah, setelah melihat dan mengamati secara langsung keunggulan TDQ, Ir. Ariyanto akhirnya mau terlibat mengembangkan teknologi karya anak bangsa sendiri. Lelaki kelahiran Jawa yang juga putra menteri di era Soeharto itu akhirnya meninggalkan teknologi yang selama ini ditekuninya. Begitulah, hingga akhirnya Ir. Ariyanto sebagai orang yang berpengalaman di banyak proyek, me-review perhitungan pembiayaan proposal TDQ. Membuat perbandingan yang lebih konkrit antara TDQ dengan produk konvensional lainnya, hingga membawa koleganya yang dari Jepang berkunjung ke markas Bujang Belantan di Leuwiliang. Nah!

Ingin juga kutambahkan di sini tentang keterlibatan Pak Kancil yang merupakan motor dan sumber inspirasi baru bagi kami. Riwayat keterlibatan Pak Kancil yang berasal dari Madura ini dimulai dari Haji Sukai yang juga telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan TDQ dalam hal membuka link-link baru dengan para calon investor. Haji Sukai-lah yang memperkenalkan TDQ kepada Pak Kancil hingga bisa disebut sebagai bagian dari tim di Leuwiliang. Bahkan dari sisi penguasaan tentang TDQ kami semua cukup salut dengan beliau. Pada saat Mr. Yuki datang misalnya, Pak Kancil-lah yang lebih banyak ambil bagian dan berbicara layaknya seorang sales marketing kepada calon konsumen. Yah, karena memang Pak Kancil ini bisa dikatakan merupakan pemain lama dalam bidang soft-selling. Pekerjaan sehari-harinya ia adalah salah seorang pendiri perusahaan yang menjadi distributor mobil keluaran Merci di Indonesia, yakni PT. Indomobil. Riwayat bagaimana ia mendirikan perusahaannya itu, juga dipenuhi romantisme yang mirip dengan perjuangan yang dilakukan orang-orang Delta. Bagaimana merasakan berjuang dari nol, dari yang tidak ada menjadi ada, sampai untuk makan bersama pun harus ngutang sana-sini.

Itulah sedikit tentang Pak Kancil. Darah pengusaha memang mengalir deras dalam tubuhya. Selain Indomobil, bersama sang istri ia juga melakoni usaha perkebunan sayur-mayur anti-pestisida (makanan organik) yang khusus memasok keperluan orang-orang Jepang yang mukim di Jakarta dan sekitarnya. Ia juga seorang yang menggeluti olahraga mobil dan even yang berhubungan dengan dunia balap. Prestasinya di dunia balap juga sudah tak terhitung. Ia pernah menjadi juara off-road tingkat nasional. Di rumahnya di Kota Bogor saja terdapat semacam bengkel atau workshop yang terkadang diperuntukkan juga untuk mencari pemasukan tambahan buat keluarganya. “Karena setiap langkahku harus menjadi uang,” begitu kata Pak Kancil suatu ketika saat berbincang-bincang dengan kami.

Keseriusan Pak Kancil bergabung dalam tim memang sudah banyak teruji. Misalnya, beliau sampai mempercayakan perusahaannya menjadi penjamin pemesanan master Ana sebesar Rp. 77 juta di perusahaan moulding PT. Indo Murayama di Bekasi. Harga yang harus dibayar pun tidak murah bagi Pak Kancil. Itulah ujian baginya. Ketika muncul persoalan yang berhubungan dengan komitmen dan kepercayaan, Pak Kancil harus ‘pasang badan’ diantara PT. Indo Murayama dan perusahaannya sebagai penjamin atas pemesanan master Ana senilai Rp. 77 juta. Tekanan dari perusahaannya pun tak kecil bagi Pak Kancil, hingga harus disidang dan diberi sanksi berupa penyetopan gaji untuk beberapa bulan.

Meski harus menerima berbagai cobaan, toh tidak membuat Pak Kancil kehilangan energi untuk tetap melanjutkan perjuangan perwujudan cita-cita Teknologi Delta Quasltone secara bersama-sama. Setiap ada kesempatan pastilah Pak Kancil dengan sedan tuanya, lebih sering bersama Haji Sukai, menyempatkan bertandang ke markas Leuwiliang. Bercerita mengenai prospek, atau membahas persoalan kecil. Terkadang ngolor-ngidul, dengan tak lupa membawa oleh-oleh dua loyang besar martabak manis yang dibeli di Pasar Leuwiliang khusus untuk para Bujang Belantan.

Begitulah. Persoalan yang terkadang pahit sebetulnya bisa menjadi gurih dan lezat bila diterapkan dengan cara berpikir yang manis dan positif. Ibarat kerak goreng yang selalu menjadi teman setia para Bujang Belantan, bila dikelola dengan baik dan benar tentu akan menjadi hidangan yang gurih dan lezat rasanya. Semua merupakan pilihan. Tinggal kita yang memilah mana yang terbaik dan bisa bermanfaat. Seperti martabak tidak ada yang pahit bukan? Kecuali, mungkin, martabak basi. Tinggal pilih rasa kesukaan kita. Mau yang rasa kacang, selai nanas, strawberry, keju, tapai ketan atau… mau dicampur aduk semuanya…? Hmmm…

Hehe..itu cuma penggalan dari kisah-kisah yang terkadang menjadi pemompa semangat dan menjadi bahan pelajaran yang sangat berharga. Bahwa betapa mahal harga sebuah kepercayaan. Ketika ia mulai dikangkangi maka akan berakibat yang kurang baik terhadap citra individu bahkan grup. Yang pada akhirnya merembet pada terseoknya perjalanan yang hendak dilalui. Atau ketika reputasi menjadi tercela akibat komitmen yang setengah-setengah bisa memporak-porandakan struktur bangunan yang teramat kokoh sekalipun. Bahkan bisa merembet ke wilayah hukum. Tapi beruntunglah semua yang kami hadapi dibangun dengan berlandaskan pengertian yang jauh ke depan. Meskipun terkadang hanya dari satu sisi. Tapi sampai kapan? Wallahualam.

Terakhir kami mendengar kabar lewat SMS yang kurang mengenakkan dari kampung halaman. Hal yang seharusnya tidak perlu terjadi bila saja ada keterbukaan dan kejujuran. Kami hanya bisa berdoa semoga semua yang sudah terjadi menjadi pelajaran yang berharga buat pelajaran grup ke depan. Bahwa kebersamaan, kekompakkan, keterbukaan dan satu persepsi terkadang menjadikan kita lebih besar dari masalah-masalah yang ada. Yakin bahwa amanah yang kita emban ini tidaklah kecil. Semua kita sedang dipersiapkan untuk kuat dan tangguh menghadapi setiap kondisi seburuk apapun. Pelipur lara di masa sulit hanyalah doa yang selalu kami panjatkan setiap selesai melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.

Ya Allah ridhoilah perjalanan kami ini. Berikanlah kami kekuatan kesabaran. Jauhkan kami dari sikap sombong, angkuh, iri, dengki, tamak dan semua sikap yang tidak Engkau sukai. Gembirakanlah hati kami menghadapi setiap persoalan yang bagai tak berujung ini ya, Rabb. Peliharalah harapan dan cita-cita kami. Peliharalah harapan keluarga kami. Satukan selalu kami dalam kebersamaan, kekompakkan dan kekeluargaan. Jauhkan kami dari perpecahan dan pertikaian. Ya Allah, jangan matikan kami kecuali dalam keadaan iman dan Islam. Terima kasih ya Allah. Terima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami. Amin ya Rabbal alamin…

Kampung itu Bernama Kampung Kosol


Sebuah Kampung nan Indah di Selatan Kota Bogor
Catatan perjalanan Teknologi Delta Qualstone di Leuwiliang-Bogor *1


Catatan ini merupakan penggalan kisah yang kurangkum dari tanggal 15 Januari – 14 Februari 2006 (bagian pertama dari tiga tulisan). Berisi cerita perjalananku bersama seorang sahabat, Santo namanya, dari kampung halamanku, Tebing Tinggi–Lahat menuju Kampung Kosol, Kabupaten Bogor. Sebuah kisah penuh romantika, sedih, senang dan susah campur aduk jadi satu. Tak sedikit hikmah yang kami dapat. Semua itu demi sebuah perwujudan: Teknologi Delta Qualstone.

* * * *
Hujan yang seakan tiada henti sepanjang perjalanan menuju Jasinga seolah menjadi penyambut bagi kami. Hari itu, Minggu, 15 Januari 2006 kami menjejakkan kaki pertama kali di Kampung Kosol, Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Hujan masih mengguyur saja. Dari terminal Kalideras, Jakarta, tentu saja setelah tanya sana tanya sini, kami naik bus AKAP Jakarta-Jasinga dengan ongkos Rp. 15 ribu per-orang yang menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam. Dari arah Jasinga, kami harus naik angkutan umum lagi ke arah Leuwiliang. Perjalanan tak kurang 20 menit menuju Kampung Kosol, Desa Sadeng, yang menjadi tujuan kami. Di sepanjang perjalanan menuju Leuwiliang ini, aku tak henti-henti mengagumi keindahan alam Bogor yang mempesona. Sempat aku berpikir penduduk di sini pastilah sangat bangga memiliki daerah yang sejuk, subur, yang dialiri oleh sungai besar, serta ditopang oleh perbukitan yang bak raksasa tidur di kejauhan.

Yup, daerah ini memang dikenal sebagai daerah penghujan, mungkin itulah yang menjadikannya berkah bagi alam dan penduduknya. Sangat berbeda dengan suasana Ibu Kota yang bising, polusi dan macet. Suer bikin stress. Aku membayangkan seumpama mempunyai kemampuan secara finansial, sangat ingin aku tinggal dan menetap di daerah pedesaaan yang masih asri. Yang ketika malam tiba akan terdengar suara binatang-binatang kecil seperti jangkrik, kodok atau tokek. Atau bisa dengan leluasa menikmati angin yang berhembus semilir membersihkan paru-paru. Dan ketika pagi tiba akan disambut senandung selamat pagi dari burung-burung hutan yang sampai ke telinga. Cukup sederhana kan? Itulah sebuah pilihan.

Sebetulnya, sudah lama aku menantikan keberangkatan ini. Cuma karena sesuatu dan lain hal, aku bersama Santo temanku, harus menunda sampai saat yang tepat itu tiba. Perlu juga kuterangkan tentang pengalamanku pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta
pertengahan tahun 2005. Bisa dikatakan aku cukup tahu tentang suka-duka perjuangan para Bujang Belantan hingga mendapatkan investor Pak Gandhi ketika berada di Serpong, Tangerang.

Oya, perlu juga kujelaskan arti kata ‘Bujang Belantan’. Dalam bahasa Pagar Alam, Sumsel, bermakna para pemuda yang mempunyai tekad mulia dan tujuan demi kepentingan orang banyak. Bisa dikatakan ‘Bujang Belantan’ merupakan simbol jiwa kepahlawanan seorang lelaki yang pantang menyerah dan gigih berusaha. Begitulah kira-kira arti Bujang Belantan.

Selama berada di Jakarta aku menumpang tinggal di kontrakan kakakku, Edy Suherli, di Meruya, Jakarta Barat. Dia sudah lebih empat tahun bekerja sebagai reporter di tabloid Cek dan Ricek. Melalui koneksi dialah aku sempat merasakan bekerja sebagai reporter tayangan Kroscek yang tayang di TransTV. Selama kurang lebih 3 bulan aku mendapatkan pengalaman jurnalistik yang sungguh seru dan mengasyikkan. Mengasyikkan, pertama, karena bidang jurnalistik adalah keahlianku (aku menyelesaikan kuliah dari mulai D1, D3 hingga S1 di jurusan jurnalistik). Kedua, karena Kroscek merupakan tayangan yang khusus meliput tentang selebriti di Jakarta. Jadi, melalui pekerjaanku aku banyak bertemu dengan fublic figure yang selama ini cuma bisa kusaksikan melalui televisi dan surat kabar. Nama-nama seperti Akbar Tanjung, Emha Ainun Nadjib, Titiek Puspa, aktor kawakan Roy Marten, penyanyi Dhea Mirella, Widi AB Three, Shania, Yuni Shara, Kristina, Rossa, Dewi Sandra, Nugie, mantan artis panas Inneke Koesherawati, bintang sinetron Meisya Siregar, Tia Ivanka, Dhini Aminarti dan Natalie Sarah, merupakan beberapa nama yang pernah kuwawancarai secara eksklusif.

Yak, itulah sekelumit perjalananku bergelut dengan dunia gosip saat menjadi wartawan infotainmen di Jakarta. Di sela-sela menjalani rutinitas yang padat sebagai reporter Kroscek, hampir tiap minggu kusempatkan bertandang ke rumah Kak tiok yang dijadikan markas sekaligus tumpangan tim Delta Qualstone (Kak Agus dan Topan). Dari rumah Kak Tiok yang tidak begitu jauh, selalu kusempatkan pula mampir ke pabrik kasur yang merupakan usaha keluarga milik Kak Tiok yang disulap menjadi pabrik batu. Disanalah para Bujang Belantan menetap tinggal dan setiap hari memproduksi batu Delta secara manual, hingga bisa membuat bangunan prototipe (semacam gazebo berukuran 3x3 meter) yang pada akhirnya mempertemukan Teknologi Delta Qualstone dengan Pak Gandhi. Tim Delta di Serpong waktu itu adalah: Kak Agus, Topan, Sumanto, Andi, Pipen, Pian, Joko, Erik, ditambah Herman, Pak Didit dan Bakti. Kurasakan bagaimana kerasnya mereka meneteskan keringat perjuangan. Lebih banyak harus menahan keinginan dikarenakan kondisi keuangan yang memprihatinkan, makan seadanya, bahkan harus menahan perasaan diantara sesama. Mereka mendapatkan pelajaran ketahanan mental yang sungguh luar biasa. Jarang ada pengalaman seperti ini.

Begitulah cerita perjalananku ketika pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta pertengahan 2005. Bertemu dan merasakan pahit-getir perjuangan para Bujang Belantan selama jauh di rantau dan sempat merasakan pengalaman jurnalistik mengesankan. Semuanya mengajarkanku bagaimana kerasnya kehidupan Kota Metropolitan.

Setelah tidak lagi di Kroscek aku kemudian memutuskan full-time mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran di Delta. Oya, perlu juga kujelaskan sedikit tentang Delta Qualstone. Delta Qualstone merupakan temuan teknologi baru di bidang fisik konstruksi dan produk bahan bangunan multi fungsi dan multi keunggulan. Teknologi ini ditemukan oleh salah seorang putra terbaik bangsa bernama Mursalim yang telah mendapatkan sertifikat pendukung sebagai sebuah temuan teknologi baru. Ke depan teknologi ini direncanakan dikembangkan dengan sistem lisensi-waralaba dengan pasar dunia. Artinya secara ekonomi teknologi ini menjanjikan kemakmuran bukan hanya bagi pemiliknya, tetapi juga bagi bangsa dan Negara sebagai sebuah aset yang menyentuh banyak aspek; ekonomi, politik, sains dan teknologi, serta kebanggaan (pride) sebagai bangsa.

Keinginan untuk full-time di Delta Qualstone juga didukung oleh Kak Salim, sang penemu yang masih terhitung saudara bagiku. Saat itu memang kondisi sangat logis karena perkembangan yang sudah mendapatkan investor yaitu Pak Gandhi. Pikirku, pasti banyak yang bisa kulakukan untuk turut memberikan arti bagi perjalanan dan kemajuan teknologi ini. Aku juga sempat menyaksikan pembahasan draft MoU yang cukup alot antara Kak Salim, Kak Agus, Pak Didit dengan Pak Gandhi bersama istri dan putranya, Yourgen, di rumah Kak Tiok di Serpong, Tangerang. Dalam MoU yang telah ditandatangni disebutkan bahwa star pekerjaan dimulai satu minggu setelah hari raya Idul Fitri 1426 Hijriah (meski dalam kenyataannya agak meleset).

Berhubung star pekerjaan dimulai satu minggu setelah hari raya, maka ada kesempatan buat kami untuk mudik berlebaran di kampung halaman. Sebenarnya saat itu aku sebetulnya tidak ingin mudik karena ingin merasakan berlebaran di Jakarta. Namun karena Kak Salim menawariku untuk pulang bersama mereka, aku akhirnya memutuskan berlebaran di kampung kami, Tebing Tinggi, Lahat, Sumatera Selatan. Kami (aku, Kak Salim dan kedua anak beliau, Habit dan Ana) mudik dengan menumpang pesawat Adam Air dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, dengan tujuan Palembang.

Oya, inilah pengalaman pertamaku terbang dengan menggunakan pesawat (uhuy dasar katro!). Terasa benar aku begitu ketar-ketir, apalagi bila mengingat kecelakaan pesawat yang sering terjadi. Dari Kota Palembang kami melanjutkan perjalanan, setelah sempat menginap di rumah salah seorang anggota bernama Ifan di Pakjo, dengan menumpang kereta api tujuan Tebing Tinggi. Begitulah, aku akhirnya berlebaran di kampungku yang tercinta bersama ibu, kakak dan adik-adikku. Oya lagi, hampir terlewatkan. Saat kami hendak naik KA Serelo tujuan Tebing Tinggi di Stasiun Kertapati, Palembang, aku ingat ada seseorang yang dengan tulus mengantar kepergianku dari sana. Dia seorang gadis, adik tingkatku semasa aku kuliah di STISIPOL Palembang tahun 2002-2004. Dia kini sedang menyelesaikan skripsinya. Akhir-akhir ini komunikasi kami memang terjalin lebih erat. Yah, Kota Empek-empek banyak memberi kesan manis kepadaku. Kurang lebih 2 tahun aku tinggal di Palembang menyelesaikan studi S1 Ilmu Komunikasi. Bila ingat Palembang aku selalu teringat teman-temanku yang kini entah dimana. Dan kenangan-kenangan itu tak mungkin kulupa.

Kembali ke ceritaku semula. Singkat cerita, setelah mendapat kabar dari Kak Salim, aku dan Santo akhirnya berangkat menuju lokasi proyek pertama Delta di Leuwiliang, Bogor. Kami berangkat dari kota kelahiranku, Tebing Tinggi hari Jumat 13 Januari 2006 dengan menumpang KA Serelo menuju Kota Lahat. Tiba di Lahat kami langsung menuju rumah salah seorang anggota Delta di Kota Baru. Eka namanya, orangnya agak berbobot, baik dari intelektualnya maupun tubuhnya (hehe). Ia juga seorang yang kukenal supel dan pintar masak. Setelah berpamitan dengan ibu Eka dan Yus (adik Eka), selepas Isya kami menunggu bus tujuan Jakarta. Kami diantar Eka dan Hendra. Malangnya malam itu Kota Lahat lagi diguyur hujan. Setelah menunggu hampir satu jam tak satupun bus yang kosong. Saat itu memang habis lebaran Idul Adha 1426 Hijriah, jadi kebanyakan bus terisi penumpang yang hendak balik dari merayakan lebaran di kampung halaman. Setelah menimbang-nimbang kami akhirnya memutuskan menunda keberangkatan esok harinya dengan menumpang bus Lantra kelas ekonomi. Ongkosnya waktu itu Rp. 110.000 per-orang. Tepat pukul 11 siang kami akhirnya meluncur menuju Jakarta. Alhamdulillah. Akhirnya.

Lega rasanya menikamti perjalanan ini, setelah menunggu hampir dua bulan lamanya. Bagiku ini bagaikan sebuah perjalanan rohani. Perjalanan merajut hari depan, perjalanan mengukir cita dan cinta. Sungguhlan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Kami berangkat dengan semangat dan tekad di hati. Itulah yang membuat kami menjejakkan kaki di sini. Hari-hari di Leuwiliang adalah hari-hari yang penuh makna. Hari-hari yang terukir dengan dua tinta: hitam dan putih. Mungkin saja. Hari-hari yang penuh cerita indah dan buram. Dimana cobaan dan rintangan bagai arus listrik yang menarik-narik untuk membuat kami menyerah dan kalah. Ada-ada saja. Kami banyak belajar satu sama lain. Saling melengkapi dan mengisi. Saling mengingatkan dan menyelami. Saling asah, asih dan asuh.

Tak perlu banyak kuceritakan betapa banyak romantika yang menghiasi perjalanan ini. Bagiku itu cuma untuk melengkapi betapa penuh arti perjalanan kami. Kami tiba di Kampung Kosol sekitar pukul 13.30 WIB. Menatap langit-langit rumah itu, tak terlukiskan betapa senang hati kami. Bentangan spanduk merah putih seolah mengobarkan gelora dalam jiwa. Itulah spiritnya.

Kami disambut hangat oleh inventor, Kak Agus, Kak Tiok yang kebetulan sedang bertandang disana, dan disambut pula suara merdu para Bujang Belantan yang lagi bernyanyi dengan gitar kopong. Di hari pertama menjejakkan kaki di Markas Leuwiliang ini, inventor sampai dua kali mengajak kami berkeliling menyusuri kampung-kampung Leuwiliang dengan menggunakan Kijang pick-up yang disetir sendiri oleh beliau. Sedikit banyak, sembari menikamati lagu country-nya Tantowi Yahya, inventor bercerita tentang kemajuan-kemajuan Delta. Bercerita tentang kondisi geografis Leuwiliang, dan tentang kebiasaan-kebiasaan penduduknya. Sempat pula kami diajak mampir ke rumah keluarga si Mega, mantan pacar si Joko di Leuwisadeng. Rupanya inventor telah banyak kenal dan cukup akrab dengan penduduk di sana. Ia bahkan sudah dipanggil dengan sebutan “ayah” juga. Di rumah Mega aku juga berkenalan dengan Yeyen, Sulis dan Shanti. Itulah pertama kali kukenal gadis-gadis Bogor yang lumayan geulis euy... Hari-hari berikutnya kerap kami mengulangi ‘silaturahmi’ ke Kampung Leuwisadeng dengan atau tanpa Joko. Bagi kami berteman dan bersosialsiasi dengan penduduk sekitar merupakan salah satu cara untuk belajar. Banyak hal. Seperti tentang bahasa asli, adat istiadat, pergaulan muda-mudi, dan ah…kali aja ada yang nyantol di hati hehe…

Leuwiliang adalah salah satu kecamatan yang terletk di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jarak dari Leuwiliang-Bogor kurang lebih menempuh satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Daerah ini sebenarnya daerah yang kaya SDA. Disini terdapat banyak usaha tambang emas baik yang dilakukan oleh penduduk secara sendiri-sendiri, maupun dikelola dalam skala pabrik. Tanahnya juga subur, dialiri oleh sungai yang melimpah dengan material pasir dan batu koral. Disini juga terdapat kampus yang sangat terkenal yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sebetulnya bisa menjadi ‘referensi’ pemanfaatan lahan pertanian bagi penduduk. Tapi seperti daerah lainnya di Indonesia, potensi-potensi yang dimiliki tidak dimanfaatkan secara maksimal. Disini pendapatan penduduk sangat rendah. Rata-rata mereka bermata pencaharian sebagai buruh tani, menggarap lahan seadanya, adapula yang berdagang, atau menjadi pegawai negeri dan karyawan swasta. Tapi itu sangat sedikit. Anehnya, meski terdapat lembaga pendidikan tinggi sekelas IPB namun kesadaran akan pentingnya pendidikan sangatlah kurang. Banyak remaja-remaja yang cuma bisa menempuh pendidikan sebatas SD, yang pada akhirnya menyebabkan banyak terjadinya perkawinan dini dan rata-rata tidak bertahan lama. Sungguh menyedihkan.

Kenyataan ini membuat kami belajar, betapa masih banyak saudara-saudara kita yang masih belum memahami akan pentingnya arti pendidikan. Siapa yang salah? Rasanya tak ada gunanya mencari kambing hitam. Toh kalau diurut-urut, sumber kebodohan bangsa ini adalah kemiskinan. Kemiskinan yang membuat kita bodoh atau kebodohan yang membuat kita miskin? Rasanya kalimat ini duet yang sangat serasi (kalau tak ingin dibilang langgeng) dari jaman kuda gigit besi, hingga jaman “orang makan semen” hehe... Makin terlecut hati kami untuk merealisasikan misi-misi Delta Qualstone tentang kemakmuran, kesejahteraan, lepas dari kebodohan dan keterbelakangan. Bukankah itu bukan sesuatu yang mustahil…?

Seperti dikondisikan dengan kenyataan, kehidupan kami di Leuwiliang sungguhlah dihiasi suka dan suka. Meski begitu kami tetap berusaha menjadikan hari selalu penuh arti. Ya…meskipun yang kami lakukan belum seefektif yang kami bayangkan. Tapi setidaknya kami tidak berdiam saja menanti kesuksesan. Ada-ada saja yang kami lakukan disini. Merancang even, menentukan strategi, menggali lebih jauh pemanfaatan teknologi Delta, mencari solusi, membuat perhitungan yang lebih matang. Semuanya terkadang dilakukan sembari bersenda-gurau dengan ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok yang dijatahi. Bila waktunya tiba, dengan keikhlasan yang mulai terlatih, kami bersujud menengadahkan tangan meminta kepada-Nya. Sering kami juga melatih kemampuan intelektual dengan melakukan percobaan presentasi yang temanya ditentukan oleh Kak Agus, seperti bagaimana membuat denah dan perencanaan pabrik, bagaimana membangun Kota Besemah sebagai kota terindah di dunia, dan masih ada beberapa tema lagi yang belum sempat kami presentasikan. Duh, ini akan menjadi cerita yang indah untuk anak-cucu kami kelak.

Penting untuk dicatat, kami menganggap kehidupan kami di Leuwiliang merupakan ‘kawah candradimuka’. Disini kami dibiasakan berkompromi dengan keadaan. Tak punya uang alias buntu, makan seadanya, mandi terkadang tidak pakai sabun, odol seringlah tidak ada, bon di warung semakin menumpuk, hutang dengan tetangga belum dilunasi, rokok pun terkadang harus ‘daur ulang’. Klikmaksnya telinga kami sering mendengar nada miring penduduk disini tentang kondisi kami yang katanya sudah bangrutlah, hana-hinilah… Ya ampun hehe.. Mudah-mudahan ini menjadi cambuk bagi kami untuk segera merealisasikan cita-cita dan misi kami. Bukankah sedari awal, perjalanan Delta selalu dihiasi dengan cerita suka dan duka? Toh ini belumlah apa-apa ketimbang merasakan bagaimana pahit getirnya Delta ketika di awal-awalnya dahulu? Ketika Delta belum semaju seperti yang kami rasakan sekarang? Tapi yang sangat kami suka disini, meski selalu dihadapkan pada persoalan sehari-hari, para Bujang Belantan tak pernah kehilangan selera humornya. Selalu. Ada-ada saja cerita yang mengundang tawa seperti cerita tentang ‘begadisan’ (baca: percintaan muda-mudi), nonton dangdutan, nonton ‘kera sakti’ rame-rame, atau sekedar jalan-jalan ke sungai di belakang rumah sembari lihat-lihat yang gratisan hehe…

Tak terasa sudah hampir satu bulan aku dan temanku Santo disini. Yang lainnya memang sudah lebih dulu disini, mungkin sekitar 3 bulanan. Hari-hari di Leuwiliang adalah hari-hari yang akan turut menentukan sejarah perjalanan Delta Qualstone Grup. Sering kami dihadapkan masalah internal, mis-komunikasi, mis-persepsi, hingga terganggunya hubungan personal karena cara pandang yang sulit dimengerti, terkadang tidak logis, bahkan mungkin teramat kekanak-kanakan. Syukurlah, kami yang ada disini selalu dalam kerangka kekompakan, kekeluargaan, satu persepsi, dipayungi kepemimpinan, mengutamakan dialog dalam menyelesaikan masalah, meski lagi-lagi kami harus dihadapkan pada persoalan yang bersumber pada satu titik. Tak henti-hentinya kami selalu mengingatkan tentang arti semua yang kami hadapi. Inilah ujian. Inilah bagian dari perjuangan. Semua pasti ada hikmah yang bisa kami petik. Kami yakin itu.

“Seorang petinju menjadi tangguh bukan karena dibelai dan dielus, namun karena dipukul dan dihajar.” Ini kata-kata yang kukutip dari sebuah buku motivasi karya Hari Subagya yang kupinjam dari Kak Agus. Bahwa siapa yang berjalan hanya ke arah yang benar, tidak akan menemukan banyak jalan. Nilai dari sebuah keberhasilan dibangun dari kesulitan dan jalan-jalan terjal. Berjalanlah terus, walaupun tidak memiliki arti, walaupun Anda tidak melihat adanya kemajuan nyata. Tetaplah berjuang. Anda akan segera melihat hasilnya.

I’m a great believer in luck and I find the harder I work, the more I have of it.” - Thomas Jefferson